Renungan Minggu Keempat Adven.
Oleh: Vikjen Keuskupan Atambua
RP. Vinsen Wun, SVD

Sumber Bacaan:
2Sam. 7:1-5,8b-12,14a,16;
Mzm. 89:2-3,4-5,27,29;
Rm. 16:25-27;
Luk. 1:26-38

keuskupanatambua.org – Bagi seorang ibu yang sedang mengandung bay di dalam kandungannya, saat itu adalah saat yang membahagiakkan bercampur kegelisahan. Hari demi hari dan minggu-minggu penantian itu dilewatinya dengan situasi bathin yang menegangkan bercampur dengan kebahagiaan. Tidak ketinggalan segala persiapan untuk kelahiran bayipun dilakukan. Fokus pada kelahiran sang bayi yang dicintainya. Karena bayi yang dikandung itu sungguh dipelihara ibu maka keduanya mempunyai hubungan yang sangat special.

Selama masa advent ini kita semua bermenung tentang Maria yang mengandung Yesus di kandungannya. Kita ingat juga akan Yesus yang bertumbuh dengan diam dan tak kelihatan dalam Kandungan Maria. Kini di akhir advent ini kita fokus pada hal tersebut yang akan berakhir dengan kelahiran di Betlehem.

Orang Israel telah ribuan tahun menantikan kelahiran sang Mesiasnya lewat ramalan para Nabi. Coba kita bayangkan bagaimana hal ini dimimpikan oleh banyak gadis Yahudi muda yang pada satu waktu akan melahirkan Mesias. Tetapi ketika saat luarbiasa tiba dan Malaikat Gabriel menyampaikan berita itu kepada Maria, Maria malah heran dan ragu. Malaikat berkata kepadanya,”Jangan takut” (Lk. 1:30) Malaikat menjelaskan bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan Yesus yang datang dari Roh Kudus. Berita ini menenpatkan Maria pada situasi sulit. Sulit karena Ia sedang bertunagan dengan Yosep. Itu berarti sudah secara legal diikat satu dengan yang lain walaupun belum hidup bersama, masing masing di rumahnya. Di Israel ada aturan apabila ada wanita yang mengandung tanpa seorang suami akan dirajam hingga mati.( Ul.22:20-21) Apa respon Maria? Tanpa memikirkan akibat dari berita itu ia berkata: “Terjadilah padaku menurut firman-Mu.”( Lk. 1:38) Jawabannya adalah jawaban iman. Ia percaya. Karena sikapnya inilah kita semua selalu menganggap Maria sebagai model orang yang percaya, contoh iman. Tetapi dalam praktek hidup kita ketika kita mempertimbangkan hal yang beresiko tinggi bagi hidup kita dan menuntut jawaban kita mungkin kita akan mundur teratur dan tidak seperti Maria yang menyatakan “Ya” kepada malaikat. Betapa kuatnya iman Maria. Ia siap untuk mati demi taat pada kehendak Bapa di surga.

Apa kata yang dipakai Maria saat menjawab Malaikat dalam bahasa Aramik saat itu? “Amen” Satu kata Aramik, bahasa Palestina dengan menyatakan “Amin” berarti “Terjadilah, terjadilah padaku menurut Sabdamu.” Dengan menyebutkan “Amin” maka Maria mengandung Yesus oleh iman, yaitu mengandung Yesus dalam pikirannya lewat iman sebelum mengandung Yesus dalam kandungannya.(Demikian kata St,Agustinus Serrmon 25)

Di abad kita ini orang lebih percaya akan segala persoalan yang memiliki dasar ilmiah, dijelaskan dari pelbagai disiplin ilmu. Jika ada hal yang tidak dibuktikan secara ilmiah, ada yang tidak percaya. Tapi perlu kita ketahui bahwa beriman artinya mengakui apa yang ilmu tidak dapat buktikan. Iman inilah yang ada dalam Maria. Maria model dari orang yang percaya, model untuk setiap zaman tetapi terutama pada masa kita ini di mana segalanya harus dibuktikan secara ilmiah. Karena itu Maria, perawan yang dikandung dari Roh Kudus, dan pasangan tua Zararia dan Elisabeth yang mengandung dan melahirkan Yohanes Pembaptis di masa tua mereka adalah bukti iman. Iman itu percaya, seperti kata Gabriel, Segala yang tidak mungkin, mungkin bagi Allah.( Luk. 1:37)

Maria rendah hati; karena itu ia mampu melukiskan iman yang besar dalam sejarah hidup umat manusia. Dengan menyatakan satu kata ini pada malaikat, “Amen”, maka Maria mengandung Yesus dalam iman, setelah itu ia mengandung Yesus dalam kandungannya. Setiap waktu kita katakan “Amin” kepada Allah, kita mengandung Yesus dalam iman seperti yang Maria lakukan. Lalu ketika kita melaksanakan Sabda Yesus, kita membawa Yesus ke dalam dunia seperti Maria lakukan. Mari kita selalu katakan Amin pada Allah dan membawa Yesus ke dalam dunia kita terutama di hari Natal ini dan seterusnya dalam pergulatan hidup kita setiap hari dalam usaha mewujudkan Amin kita kepada Allah dalam hidup dan karya kita.

Selamat mempersiapkan diri untuk hari Natal. Selamat hari Natal kepada semua rekan umat Allah semoga dengan merayakan Natal tahun ini kita semua menjadi seperti Maria siap mengamini setiap permohonan Allah dalam pelaksanaan tugas hidup kita agar seperti Maria kita membawa Yesus kepada dunia kita.Tuhan berkati selalu.Amin.

Sumber:Bandingkan Homily Fr.Tommy Lane – Irlandia.

SHARE