Renungan Pentakosta

Kamu Harus Bersaksi
Yohanes, 15:26-27;16:12-15

Oleh: RD. Inozenzio Nahak

Sadarkah kita jika sebagai murid-murid Tuhan ada tanggung jawab yang harus dilakukan? Setelah naik ke Surga, Yesus berpesan kepada para murid. Aku akan pergi kepada Bapa. Namun Aku akan datang lagi dan mengutus Roh Kudus. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Ini satu rahasia besar yang Tuhan janjikan kepada para murid-Nya. Sungguh ini terlaksana. Nampak sekali. Kasih Tuhan kepada para murid begitu besar. Ia tidak membiarkan kita berjalan sendirian. Ia menghendaki agar kita berani bersaksi tentang injil. Bersaksi tentang kasih dan kebaikan Tuhan.

Penginjil Yohanes mencatat kata Yesus kepada para murid-Nya, “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi.” Ini pesan Yesus bagi kita. Kamu juga harus bersaksi. Secara sederhana dapat kita pahami kata-kata Yesus. Berani berkata tentang siapa itu Yesus dalam hidup kita. Berani mengajarkan tentang kehadiran Yesus di dunia. Ia datang untuk menyelamatkan kita bukan membinasakan. Ia hadir untuk membawa kabar sukacita bukan menebar kebencian.

Kesaksian hidup tidak semata pada bahasa bibir tapi nyata dalam tindakan. Kita bisa melihat kesaksian iman yang telah ditunjukkan para murid setelah kebangkitan Tuhan. Apa yang dilakukan oleh Petrus? Ia begitu berani bersaksi tentang Yesus di muka umum. Apa kata Petrus? Yesus yang kamu bunuh kini telah bangkit. Tidak mungkin bagi ku untuk tidak bersaksi sebab apa yang kami katakan sungguh benar. Iman Petrus begitu kuat. Ia tidak takut. Berani dan siap mewartakan injil supaya banyak orang percaya dan selamat. Juga yang dialami oleh Paulus. Berulang kali ia harus menangis karena dianiya. Ia ditolak. Ia dipenjara. Namun ia tidak takut. Daya Roh Kudus telah memampukan Paulus untuk bersaksi.

Beranikah kita juga siap untuk bersaksi tentang Yesus seperti para murid Yesus? Inilah tugas kita. Kesaksian hidup menjadi kunci utama untuk membangun relasi yang akrab dengan Tuhan dan sesama. Hidup kita hendaknya memancarkan kasih ilahi kepada sesama. Banyak orang lebih sibuk mengurus kepentingan dunia bahkan lupa tugas kemuridan yang telah dipercayakan kepadanya. Bisikan Roh Kudus ia lalaikan. Tidak sadarkan kita jika melayai sesama yang sungguh membutuhkan bantua sebagai tanda kita telah melayani Tuhan?

Kesaksian iman tidak harus ditampilkan dalam perbuatan yang luar biasa. Lihatlah pengalaman hidup yang paling sederhana. Jika kita berani mengajak orang untuk kembali berdoa. Setia merayakan ekaristi kudus. Mampu berbagi dengan orang yang membutuhkan. Memaafkan orang yang bersalah. Meninggalkan sikap ego dan membangun toleransi dengan sesama. Mampu mendengarkan orang lain. Bahkan bila disakiti ia tidak membalas. Semuanya nampaknya sederhana. Namun mampukah kita untuk melaksanakannya? Jika mampu maka saudara telah bersaksi tentang Yesus yang telah menderita, wafat dan bangkit untuk kita. Dengan demikian karya Roh Kudus sungguh nyata dalam hidupmu. Tuhan memberkati.

RD. Inozenzio Nahak, Pastor Rekan di Paroki St. Yohanes Pemandi Naesleu & Sekretaris Komsos Keuskupan Atambua

SHARE