keuskupanatambua.org –┬áKongres Legio Mariae komisium Maria Ratu Para Bangsa, Paroki St. Petrus Tukuneno berlangsung hari Sabtu 24 Februari 2018 di Gereja St. Petrus Tukuneno. Tema kegiatan ini : Legio Mariae Dan Kerahiman Allah. Kegiatan dimulai pukul 08.00 wita dan berakhir pukul 14.00 wita. Sesuai buku pegangan resmi Legio Mariae, kongres diselenggarakan tiga tahun sekali dan tujuan kongres adalah menguatkan iman dan komitmen Legioner Mariae akan panggilan dan tugas kerasulan mereka.

Kesukupan AtambuaKomisium Maria Ratu Para Bangsa berdiri 14 Februari 2016 dan inilah kongres pertama yang diselenggarakan. Komisium ini memiliki sembilan Kuria senior dan satu kuria Yunior dengan jumlah keseluruhan anggota 1.262 orang. Kongres hari ini dihadiri oleh para perwira presidium, kuria dan komisium berjumlah 307 orang.

Legioner Maria melalui kegiatan ini semakin diperkaya pemahaman dan iman mereka mengenai Legio Maria Dan Kerahiman Allah oleh RD. Yusutus Ati; Legio Mariae dan Ekaristi oleh RD. Bernard Bria dan Penguatan Iman Legio Mariae oleh bapak Nani dari Regia Kupang. Ada tiga hal penting yang disampaikan RD. Yustus, yakni :
o Mengkontempalasikan Kerahiman Allah
o Mengkontemplasikan Kerahiman Maria
o Merasul dalam kerahiman Bapa dan Maria

Allah adalah Bapa yang maharahim (Yoh 3:16) dan Yesus Kristus wajah Allah yang maharahim (Mat 15:32). Maria memiliki Rahim bagi Sang Putera, Maria menunjukkan sikap kerahiman dalam pesta perkawinan di Kana dan setia mengikuti Yesus Kristus di jalan Salib. Kerahiman Maria menurut litani dari Lorreta : Maria pelindung para pendosa, penguat yang menderita dan pembantu orang Kristen. Dr. Robert Stockpole, direktur the John Paul II, Institute Of Devine Mercy, memberi empat alasan mengapa Maria dipanggil bunda kerahiman :
o Maria dikandung tanpa noda dosa merupakan kerahiman Allah bagi Maria.
o Maria dipilih menjadi ibu dari Yang Maharahim.
o Kata Sta. Faustina: Maria guru yang menunjukkan karya-karya kerahiman dalam hidupnya.
o Maria terus menolong dan mendoakan kita dari surga.
Para legioner Maria pada akhirnya diharapkan menjadi tanda kerahiman Allah dan merasul dalam semangat kerahiman Bapa dan Maria.

Keuskupan AtambuaSelain itu para Legioner Maria juga diingatkan akan pentingnya makna Ekaristi sebagai kurban yang menghadirkan kembali kurban salib Yesus secara unik, dimana bunda Maria berdiri di bawa kaki salib Yesus, memandang wajah Putera-Nya dan mempersembahkan duka citanya kepada Bapa (LG. 58). Para Legioner Maria ketika merayakan Ekaristi kudus, mengambil sikap seperti Maria, berdiri di kaki salib Yesus dan mempersembahkan seluruh hidupnya. Para Legioner Maria diharapkan memiliki iman yang teguh akan Allah yang Maharahim seperti bunda Maria dan mewartakannya dengan suka cita.

 

Keuskupan Atambua

Penulis: RD. Bernard Bria, Pastor Rekan Paroki Santo Petrus Tukuneno.

Admin web Keuskupan Atambua: Tryles Neonnub

SHARE