RENUNGAN HARI MINGGU PASKA
(Minggu, 1 April 2018)
Bacaan: Kis 10:34a.37-43; Kol 3:1-4; Yoh 20:1-9

Oleh: RD. Philipus Benitius Metom

Apakah kebangkitan Yesus merupakan suatu ceritera dongeng dalam sejarah dunia? Semua orang Kristen pasti menjawab: Tidak. Apakah kebangkitan Yesus itu merupakan suatu berita yang menggemparkan dunia? Semua orang Kristen pasti menjawab: Ya. Lalu, bagaimana kita menjelaskan peristiwa kebangkitan Yesus yang diimani oleh semua orang Kristen? Dalam sejarah dunia pada umumnya dan dalam sejarah manusia pada khususnya belum pernah terjadi bahwa ada seseorang yang bangkit dan hidup kembali setelah ia mati dan dimakamkan. Kendatipun kelompok keagamaan dalam bangsa Yahudi, yakni kaum Farisi dan kaum Esseni, percaya akan adanya kebangkitan sesudah kematian, toh hal itu hanya merupakan pokok kepercayaannya, tetapi belum pernah terjadi atau belum pernah mereka dengar dan lihat. Berita tentang kebangkitan sesudah kematian baru terjadi pertama kali pada diri Yesus.

Yesus Bangkit (Photo: https://komsosmanado.com)

Kebangkitan Yesus yang ditulis dalam Injil Yohanes 20:1-9 merupakan suatu kisah yang aneh. Mengapa demikian? Karena Maria Magdalena yang pergi ke kubur pagi-pagi benar pada hari pertama dalam minggu itu menemukan hal yang aneh yakni batu telah diambil dari kubur (dan juga jenazah Yesus tidak ada di dalamnya). Keanehan ini dia sampaikan kepada Simon Petrus dan murid lain yang dikasihi Yesus. Kedua rasul ini pun melihat hal yang aneh ketika tiba di kubur yakni jenazah Yesus yang mereka baringkan di situ tidak ada, melainkan hanya ada kain kafan yang sudah terletak di tanah, juga kain peluh yang sudah tergulung yang terletak agak di sampingnya. Keanehan yang membingungkan itu barangkali akan memunculkan rupa-rupa pertanyaan lagi seperti ini: mengapa begini?; mengapa Yesus tidak ada di dalam kubur?; dan lain-lain pertanyaan yang barangkali lebih ekstrim.

Keuskupan Atambua
Kubur Yesus Terbuka (Photo: https://pendoasion.wordpress.com)

Yang menarik dalam perikop ini yakni dalam situasi khawatir, bingung, dan bertanya-tanya itu justru murid lain yang dikasihi Yesus melihat semuanya dan percaya. Ia percaya bukan karena batu penutup pintu kubur sudah terguling. Ia percaya bukan karena hanya melihat kain kafan dan kain peluh yang terletak di dalam makam Yesus. Tetapi ia percaya sebab selama itu mereka belum mengerti isi kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia (Yesus) harus bangkit dari antara orang mati. Dialah rasul yang lebih dahulu percaya akan kebangkitan Yesus setelah melihat pintu kubur sudah terguling, kain kafan dan kain peluh yang sudah tergulung. Dialah saksi pertama yang percaya akan Yesus yang bangkit.

Saksi berikut yang melihat Yesus yang bangkit yakni rasul Petrus. Ketika sedang menangkap ikan di danau Tiberias, ia melihat Yesus yang bangkit, lalu sesudahnya mereka makan bersama dengan Yesus yang bangkit itu (bdk Yoh 21:1-19). Pengalaman nyata ini memberanikan dia ketika berbicara kepada perwira Kornelius di Kaisarea: “Kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuatNya itu di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib. Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama dengan Dia setelah Ia bangkit dari antara orang mati”.

Kita semua orang Kristen adalah saksi atas kebangkitan Yesus karena kita percaya akan warta benar yang dikatakan oleh para rasul. Meskipun tidak melihat, toh hingga hari ini kepercayaan kita akan Yesus yang bangkit tetap kokoh dan tidak tergoyahkan. Karena itu, hendaknya kita berani untuk berbicara kepada orang lain dan kepada seluruh dunia bahwa kita telah bangkit sebagai manusia baru yang selalu hidup baik. Warta kebangkitan kita untuk hidup yang baik hendaknya menjadi berita gembira dan berita benar yang menggemparkan dunia, tetapi tidak boleh sekedar seperti ceritera dongeng belaka. Mari kita belajar menjadi saksi-saksi atas kebangkitan Yesus dalam setiap perilaku, tutur kata dan karya kita, amin.@

 

RD. Philipus Benitius Metom,
Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Atambua

SHARE