Paroki Santo Yohanes Pemandi Naesleu

Pastor Paroki: RD. Heribertus Naibobe
Pastor Rekan: RD. Gerardus Hery Fernandez, RD. Inocentius Nahak Berek, & RD. Yohanes Seran

keuskupanatambua.org – Paroki Santo Yohanes Pemandi Naesleu tidak bisa dilepaskan dari berdirinya SPGAK Warta Bakti Kefamenanu. Langkah pertama untuk membangun sekolah ialah memilih tanah. Gereja mencari tanah yang strategis untuk itu. Rencana itu didengar oleh Usi Sanak, Tuan/Pemilik Tanah keramat Naesleu. Terjadilah pendekatan antara pihak Gereja yakni Bapak B.I. Bala Ledjepen dan Bimas Katolik Kantor Agama yakni Bapak Domi Bani dan Usi Sanak. Atas restu Tuhan, Usi Sanak, dengan persetujuan para bangsawan, Usi Lake, Usi Ato dan Usi Bana, bersama tua-tua adat Bikomi, bersedia menye-rahkan tanah keramat Naesleu kepada Gereja agar dimanfaat-kan bagi kepentingan orang banyak.

Keuskupan Atambua
Gereja Santo Yohanes Pemandi Naesleu (Photo: https://www.google.co.id)

Pada bulan November 1971 secara resmi terjadilah penye-rahan tanah oleh Usi Sanak atas dukungan Usi Ato, Usi Lake dan Usi Bana, serta tua-tua adat Bikomi. Pada saat penyerahan hadir juga para pemilik lahan (kebun) di sekitar tanah keramat Naesleu. Bapak B.I. Bala Ledjepen, mewakili Gereja dan Bapak Domi Bani mewakili Kantor Agama. Upacara penyerahan dilak-sanakan secara adat, yang dibuka dengan ungkapan tutur adat dan diteguhkan dalam doa secara adat pula oleh tua adat. Lalu Usi Sanak bersama para pemilik tanah lahan secara resmi menyerahkan kepada gereja tanah keramat Naesleu dan lahan-lahan masyarakat. Acara penyerahan itu dihadiri oleh Usi Ato, Usi Lake, Usi Bana, dan tua-tua adat Bikomi serta tokoh-tokoh masyarakat. Turut hadir Mgr. Theodorus Sulama, SVD, Uskup Atambua dan P. Wilco Wolterboer, SVD, Deken TTU. Setelah lokasi beres, maka dibangunlah gedung SPGAK sesuai rencana. Mgr. Theodorus Sulama, SVD, Uskup Atambua meresmikan berdirinya SPGAK pada 01 Januari 1971, ber-pelindung Santo Yohanes Pemandi.

Kehadiran lembaga SPGAK mengundang pendatang baru untuk menghuni Naesleu. Karena umat di Naesleu dan sekitarnya semakin bertambah, maka Pater Herman Lalawar, SVD memberanikan diri merayakan Tri hari Suci Paska pada tahun 1973 bersama umat Naesleu dan sekitarnya di ruang tengah/ aula PGAK yang terbuka. Sejak itu perayaan Ekaristi setiap hari Minggu dan hari-hari raya selalu dilaksanakan di aula, walaupun tanpa bangku atau kursi. Sedangkan pelayanan umat di bagian Selatan sebelum tahun 1971/1972, dilaksanakan bersama guru-guru agama di kampung-kampung, yakni: Fatuteke (Filomena Timo) yang kemudian diganti oleh suaminya Yakobus Nautu; Benpasi dan Leob (Benediktus Bana); Tubuhue/Nefomtasa (Blandina Toti); Maslete (Yohanes Funan) dan Oelnitep (Alexander Besa).

Keuskupan Atambua
Tampak Luar Gereja St. Yohanes Pemandi Naesleu (Photo: https://parokinaesleu.files.wordpress.com)

Keadaan Naesleu pada tahun 1972 dan sebelumnya sudah jauh berubah. Umat membutuhkan suatu tempat ibadat/ kebaktian yang memadai. Karena itu kapela yang semula di-rencanakan untuk kebutuhan khusus kegiatan belajar-meng-ajar SPGAK Warta Bakti Kefamenanu berubah fungsi menjadi gereja tempat kebaktian umat Katolik Stasi Naesleu. Untuk itu dibentuklah sebuah panitia pembangunan gereja yang terdiri dari: Ketua, Yohanes Seran; Wakil, Martinus Sonbay; Sekretaris, Yakobus Bani; dengan anggota-anggota: Aleks Hakim Manalu; Gabriel Meko; Yohanes Tabesi; Gabriel Neno Akoit; Fransiskus Fanu, serta para guru agama wilayah Kefa Selatan.
Para Pastor yang terlibat langsung menangani pembangunan tempat ibadat ini adalah RD. Edmundus Nahak (Pastor Paroki Santa Theresia Kefamenanu dan Deken TTU) dan RD. Dominikus Metak. Pelaksana teknis pembangunan dikoordinasi oleh Frans Poing dan Pieter Poing bersama staf. Seluruh umat wilayah Kefamenanu Selatan digerakkan ikut bergotong-royong dalam pembangungan itu.

Aula SPGAK tak mampu lagi menampung umat yang hadir, terlebih pada musim hujan. Maka, pada Mei 1977, RP. W. Jeron, SVD mulai merayakan misa kudus bersama umat di dalam gereja untuk pertama kalinya walaupun masih “romol” atau kotor keadaan di dalamnya.

Stasi Naesleu meliputi wilayah yang luas yaitu semua wilayah Kefa Selatan, Tunbakun, Fatuteke, Benpasi, Ainjani, Tubuhue, Maslete, Oelnitep, Sasi, Tublopo dan Taloep. Pastor paroki bersama DPP Santa Theresia Kefamenanu mulai memi-kirkan Stasi Naesleu menjadi bakal Paroki. Pemikiran itu dilanjutkan dengan membentuk Dewan Pastoral Stasi (DPS) dengan ketuanya Drs. Eusabius Binsasi (Kini Dirjen Bimas Katolik RI) yang akan menangani karya pastoral di Stasi Naesleu.

Selain membangun gereja, umat juga berhasil membangun rumah pastoran atas prakarsa dan inisiatif Marianus Lay dan Yakobus Bani. RD. Edmundus Nahak sebagai Pastor Paroki Santa Theresia/Deken TTU dan RD. Domi Metak memberikan perhatian penuh atas pembangunan pastoran itu.

Bapak Uskup Atambua Mgr. Anton Pain Ratu, SVD pada 13 Agustus 1992, secara resmi menetapkan Stasi Naesleu menjadi paroki yang sah dengan nama Paroki Santo Yohanes Pemandi Naesleu. Untuk memimpin paroki ini, RD. Herminus Bere diangkat oleh Bapak Uskup menjadi Pastor Paroki Perdana. Gereja Naesleu ditahbiskan pada 31 Juli 1994 oleh Uskup Atambua sekaligus menerimakan Sakramen Penguatan bagi ratusan umat paroki. “Tempora muntantur et nos muntamur in illis”, kata pepatah Latin.

Gereja Naesleu yang pada awalnya direncanakan sebagai kapela sarana penunjang kegiatan belajar mengajar PGAK Warta Bakti Kefamenanu, akhirnya menjadi gereja. Pada mulanya gereja itu nampaknya cukup besar dan luas untuk me-nampung umat wilayah Kefa Selatan, namun lama-kelamaan dengan bertambahnya umat Katolik terutama membanjirnya para pelajar dari tingkat TK sampai Perguruan Tinggi, gereja itu menjadi kecil dan sempit, tidak mampu lagi memuat umat sekian banyak. Akibatnya dibangunlah tenda-tenda di depan dan di samping kiri-kanan gereja. Keadaan itu sungguh-sungguh mengganggu pandangan mata, apalagi terletak pada jalan sumbu Kefamenanu-Atambua.

Pembangunan sebuah gereja baru mulai dipikirkan bersama oleh umat. Bapak Uskup Atambua menyetujui permohonan Dewan Pastora Paroki Naesleu atas nama seluruh umat paroki. Adapun potensi sebagai daya dan kekuatan mem-bangun gereja baru Naesleu adalah adanya pemikiran, pertimbangan, dan usul saran yang positif dari Bapak Uskup Atambua, para pastor dan para ahli pembangunan dari pemerintah dan tokoh umat. Kekuatan umat Paroki sebanyak 9.523 jiwa, 18 Lingkungan dan 116 KUB. Adanya ahli-ahli teknis pembangunan, para tukang (batu-kayu) di dalam paroki sendiri yang didukung oleh dana swadaya umat paroki sebagai kewajiban untuk membangun rumah Allah. Selain itu ada sumbangan sukarela dari banyak pihak yang berkehendak baik dari jauh dan dekat. Namun modal yang paling utama dan besar tetaplah iman dan harapan bahwa semuanya semata-mata demi kemuliaan-Nya, Ad Maiorem Dei Gloriam dengan prinsip ora et labora. Dengan potensi tersebut sebagai modal Panitia Pembangunan dengan Ketua Umumnya Drs. Yosef Akoit bersama dengan para ketua yang lain dan seluruh anggota, para ketua lingkungan, kelompok, dan seluruh umat memulai pembangunan.

Pastor Paroki, RP. Vincent Wun, SVD, mulai merencanakan dan menyiapkan segala-galanya. Karya raksasa pembangunan dimulai dengan membuat patokan pada 26 April 2004, peng-galian fundasi pada 7 Mei 2004 dan peletakkan batu pertama pada 27 Juni 2004. Pengerjaan sehari-hari diawasi dan dikontrol oleh tim kecil yang terdiri dari Yakobus Bani, Frans Fanu, dan Yosef Ninu. Selama kurang lebih 3 tahun (April-Juni 2007) bangunan rumah Allah Naesleu selesai. Segala suka duka, kecemasan dan keringat menghasilkan bangunan yang indah, megah menjulang tinggi dengan candi bermahkotakan Salib Yesus Kristus. Salib itu berpijar cemerlang di malam hari, sebagai hasil ide dan idaman Pastor Paroki Santo Yohanes Pemandi Naesleu, RP. Vincent Wun, SVD.

Gereja Paroki Santo Yohanes Pemandi Naesleu selesai dibangun tepat pada Pesta Santo Yohanes Pemandi Pelindung Paroki 24 Juni 2007. Mgr. Anton Pain Ratu, SVD berkenan mentahbiskannya pada 26 Juni 2007 dalam upacara Liturgi mulia dan meriah disemaraki oleh paduan suara pimpinan Drs. Jhon Amsikan, SFil., MHum. Panitia pentahbisan gereja terdiri dari Ketua umum, Drs. Aster da Cunha bersama Drs. Martinus Toleu (Ketua I), Drs. Yosef Tasi (Ketua II), dan Drs. Yosef Akoit (Ketua III).

Selain para imam, bruder dan suster, ada beberapa tokoh awam yang berperan sebagai perintis baik dalam urusan tanah Naesleu, SPGAK Warta Bakti Kefa, maupun Paroki Santo Yohanes Pemandi Naesleu, yakni B.I. Bala Ledjepen; Laurens D. Ogom (Alm.); Domi Bani; Willy Laka; Paulinus Baliak (†); Yan Bau Saik (†); Usi Mikhael Bana; Martinus Sonbay (†); Yohanes Seran (Jaksa Yan Seran); A.H. Manalu (†); Yakobus Bani; Stefanus Nalle; Gabriel Meko, dan Yohanes Tabesi, BA (†). Pada usianya yang kedua puluh satu tahun, Paroki Santo Yohanes Pemandi Naesleu dipimpin oleh Pastor Paroki RD. Heribertus Naibobe, dibantu oleh RD. Gerardus Hery Fernandez, dan RD. Fridus Talan. ***RD. Heribertus Naibobe.

Sumber:

Ziarah Pastoral Keuskupan Atambua dari Masa ke Masa (1938-2015), Yosef M.L. Hello, S.Pd, M.Hum.

Diedit oleh Admin Web Keuskupan Atambua (Tryles Neonnub)

SHARE