Renungan ini disampaikan sebagai Homili pada Rabu Abu.

Sumber Bacaan:
Yl, 2:12-18; 2Kor, 5:20-6:2.
Mat, 6:1-6.16-18

oleh: RD. Bernard Bria

Hari ini Umat Katolik memasuki masa Puasa atau Prapaskah. Masa ini memiliki dua makna pokok yakni pertama, mempersiapkan para calon baptis dan bagi mereka yang sudah dibaptis mengenangkan peristiwa pembaptisannya sebab saat itu Tuhan membebaskannya dari dosa. Kedua, membina semangat tobat, mendengarkan Sabda dan berdoa. Dengan demikian masa prapaskah merupakan saat penuh rahmat bagi Umat Katolik untuk membenahi diri; menolak dosa sebagai penghinaan terhadap Allah (SC 109).

Keuskupan Atambua
Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr melayani Pembagian Abu bagi Umat di Gereja Katedral (Photo: Dok. RD. Kris Fallo)

Tiga bacaan suci pada hari ini berbicara tentang tobat. Dalam bacaan pertama, nabi Yoel mengajak bangsa Israel untuk berbalik kepada Allah yang maha pengasih, panjang sabar dan penuh kasih setia. Pesan yang terpenting adalah “koyakanlah hatimu dan janganlah pakaianmu”. Sabda ini mengandung arti bahwa pertobatan pertama-tama gerakan batiniah dan bukan lahiriah. Pertobatan pertama-tama terjadi di dalam hati dan apa yang terjadi di dalam hati diungkapkan melalui tindakan lahiriah. BC Gorbes mengatakan: ukuran tubuhmu tidak penting, ukuran otakmu cukup penting dan ukuran hatimu, itulah yang terpenting.

Bacaan Injil hari ini terdiri dari dua bagian penting yaitu: pertama Mat, 6:1-4 berisi ajaran tentang memberi sedekah (beramal) dan kedua Mat, 6:16-18 berisi ajaran tentang puasa. Pada bagian pertama Yesus mengajarkan bahwa “jika engkau memberi sedekah jangalah diketahui tangan kirimu, apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat pemberian yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”.

Para rabi (guru) Yahudi pada masa kehidupan Yesus, apabila mereka hendak memberi sedekah atau menolong orang yang menderita, mereka membuang saja uang atau barang yang dibutuhkan orang lain itu di jalan, supaya orang yang menerimanya tidak mengetahui siapa pemberinya. Dengan berbuat demikian para rabi itu yakin bahwa Tuhan melihat dan mengetahui perbuatan baik mereka dan Dia akan memberkati serta mengganjari aksi nyata mereka sebab Tuhan melihat apa yang tersembunyi di dalam hati.

Yesus dalam Injil hari ini menghendaki agar para murid-Nya berbuat baik kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan atau balas jasa. Para murid hendaknya bertindak tidak seperti orang-orang munafik (kaum Farisi) yang suka memamerkan perbuatan baik di depan publik, namun hati dan jiwa mereka penuh rongsokan dan kejahatan.

Bagian kedua dari Injil hari ini, berisi ajaran tentang puasa. Puasa adalah usaha untuk mengendalikan keinginan-keinginan jasmani yang cenderung terarah pada dosa. Puasa juga berarti membiarkan diri untuk dibimbing oleh Roh Kudus. Inti dari puasa adalah pembaharuan hati, budi dan jiwa. Memasuki masa puasa ini kita sebagai Umat Katolik diajak untuk beramal; menolong sesama secara ikhlas seperti dikatakan nabi Yoel: bertobat kepada Tuhan harus disertai dengan niat yang ikhlas. Selain beramal, kita juga perlu membangun sikap resistensi terhadap tendensi natural yang jahat. Mari kita mengisi masa khusus ini berdoa, beramal dan bertobat.

 

Keuskupan AtambuaRD. Bernard Bria, Pastor Rekan Paroki Santo Petrus Tukuneno.

SHARE