Renungan Hari Minggu Biasa Ketiga,
              21 Januari 2018

              Bacaan I Yun.3:1-5.10;
                Bacaan II 1Kor.7:29-31;
                Bacaan Injil Mrk.1:14-20

               Oleh RD. Antonius Kapitan*

Kegenapan waktu tiba. Kerajaan Allah nyata di tengah umat manusia. Yang terbuka hatinya, mendengarkan ajakan pertobatan sekaligus menyadari konsekuensi dari keberdosaan. Adalah hal yang mulia, sekiranya seperti orang-orang Niniwe: mengenakan kain kabung tanda tobat dan berbalik dari tingkah laku yang jahat (Lih. Yun.3: 5.10a). Demikian ketulusan dan keiklasan yang melandasi sikap tobat diikuti keputusan untuk menanggalkan manusia lama yang jahat dan mengenakan manusia baru yang bisa lepas bebas dari semua keterikatan dunia dan dengan gembira pula memutuskan untuk mengikuti ajakan Tuhan, ‘Ikutlah Aku’.

Keuskupan Atambua
Kisah Panggilan Nabi Yunus dan Pertobatan Orang Niniwe (Photo: http://agama-teknologi.blogspot.co.id)

Keputusan untuk melepaskan yang lama dan mengenakan yang baru menghembuskan angin segar belas kasih dan kemurahan Tuhan, sehingga malapetaka yang dirancangkan Tuhan untuk ditimpakan bagi yang berlaku jahat pun tidak jadi dilakukan (Yun.3:10b). Lebih jauh dan kiranya lebih menyenangkan dari keputusan manusia berdosa yang telah bertobat adalah mendengarkan suara panggilan Tuhan dan menjawabi panggilan itu. Dalam hal ini, keputusan Simon dan Andreas saudaranya, Yakobus dan Yohanes saudaranya untuk meninggalkan jalanya, kaum keluarga dan rekan kerjanya lalu mengikuti Yesus merupakan satu keputusan yang mulia dan tepat dalam kacamata iman kristiani. ‘Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia’ (Mrk. 1:18). ‘Yesus segera memanggil mereka dan mereka pun meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia’ (Mrk. 1:20).

Keuskupan Atambua
Yesus Memanggil Murid-Murid yang Pertama (Photo; https://spranotoscj.files.wordpress.com)

Apa yang dilakukan oleh orang-orang Niniwe dan apa yang diputuskan oleh keempat nelayan sederhana tersebut dipandang sebagai keputusan kristiani yang tepat dan pada patut diteladani karena toh, pada akhirnya semua yang ada dalam pusaran alam semesta, termasuk kita sekalian sebagai manusia hebat dunia ini akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan akan dilakukan pemisahan untuk menghadapi dua kenyataan yang saling bertolak belakang: berkat versus kutuk, bahagia sejati versus derita kekal (bdk. Mat.15:31-46). Yang sepanjang hidupnya, bersatu dengan Kristus dan berkembang dalam karya pelayanan kasih, tentu akan mendapatkan berkat dan bahagia sejati, sebaliknya, yang menjauh dari Kristus dan tidak setia melakukan karya pelayanan kasih dikutuk dan dibiarkan mengalami derita kekal. Dan sebagaimana dinasehatkan rasul Paulus dalam surat pertamanya kepada Jemaat di Korintus, bahwa waktunya sudah singkat bagi kita, sedang dunia yang kita kenal sekarang ini akan berlalu (bdk 1Kor.7:29.31b), maka tidak istilah ‘tunggu dulu, nanti dulu, besok saja soalnya hari ini saya masih enjoy dengan harta dan kekuasaan dan kenikmatan yang saya peroleh dari dunia, pikir-pikir dulu’ untuk bertobat, mendengarkan suara panggilan-Nya dan memutuskan untuk mengikuti-Nya sebagai wujud nyata adanya kemauan untuk bersatu dengan Kristus Tuhan, Sang Sabda yang telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita.

Sungguh, waktunya telah genap. Allah tidak hanya mengurungkan malapetaka bagi umat berdosa yang bertobat, tapi Ia sendiri telah masuk dalam ruang dan waktu kita, dalam wujud dan rupa kita dan Ia sendiri datang menjumpai kita di tengah keseharian hidup, memanggil dan menanti jawaban serta keputusan kita. Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Keuskupan Atambua
RD. Antonius Kapitan (Photo: Dok. Pribadi)

*RD. Antonius Kapitan adalah Socius para Frater TOR dan Sekretaris KomLit KA tinggal di Seminari Tinggi TOR Lo’o Damian Emaus.

SHARE