POJOK RELIGIUS, Selasa, 14 Juli 2020

Sr. M. Klarentin FSGM
Sekretaris Komisi Panggilan/Seminari Keuskupan Atambua

KEUSKUPANATAMBUA.ORG.Panggilan khusus merupakan hadiah terindah dalam hidup ini. Keindahan itu yang bagi setiap orang akan dihadirkan dalam suasana damai dan bahagia di dunia ini.

Dalam  cinta kasih kepada  Allah dan semua orang, Yesus menampakkan Kerajaan Allah di dunia. Kehadiran Kerajaan Allah dijanjikan kepada mereka yang berusaha memenuhi hukum cinta kasih: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mrk. 12:30).Di manapun orang berusaha mewujudkan cinta kasih ini, di situlah berkembang Kerajaan Allah menuju kesempurnaan. Menanti kepenuhan Kerajaan Allah ini, bagi seluruh Gereja dilambangkan dalam hidup tak menikah demi Kerajaaan Allah dan dalam pantang sempurna.

Dalam hidup berpantang sempurna (tak menikah), Kristus bersabda: “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan  ini, hanya mereka yang dikaruniai saja, ada orang yang tidak menikah demi Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti” (Mat. 19:11 dst..). Dengan mengikrarkan kaul kemurnian atau hidup selibat yang dipersembahkna kepada Allah saja, kita sebagai religius (Imam, Biarawan-Biarawati) melepaskan hak untuk menikah dan mewajibkan diri untuk hidup berpantang sempurna. Kemurnian yang dipersembahkan kepada Allah adalah karunia ilahi yang hanya dapat kita hayati dengan sikap selalu siap sedia bagi Tuhan, percaya pada sabda-Nya, berharap akan pertolongan-Nya dan menyatukan diri dengan-Nya dalam doa dan sakramen.

Dasar hidup keperawanan adalah “Cinta kasih”. Cinta kasih yang diungkapkan dengan segenap hati yaitu dari semua pengalaman yang menyentuh rohani yang menunjuk pada inti sari pribadi kita; dengan segenap jiwa yaitu dengan akal budi, daya imajinasi, ingatan, perasaan kita untuk mencintai Allah; dengan segenap tenaga artinya dengan seluruh fisik dan gerak hidup kita. Jika orang mampu memberikan cinta yang penuh kepada Allah, tanpa terbagi cinta kepada yang lain (hati mendua), maka di situ ada Kerajaan Allah. Motivasi hidup murni adalah khusus yaitu secara sukarela, di mana dasarnya adalah pengalaman kasih Allah yang sudah dialami/merasa tertangkap oleh kasih Allah sehingga hanya mampu melaksanakan apa yang dikehendaki Allah, bukan yang terjadi keinginan atau kehendaknya sendiri. Kerajaan Allah adalah suatu kekuatan baru yang mencekam manusia yang menjadikan orang semakin terbuka bagi kepentingan dan dinamika Allah. Terbuka sebagai alat-Nya sepenuhnya dalam karya keselamatan. Maka, hidup perlu diwujudkan melalui dorongan hati sehingga dengan hati itu, hidup menjadi bergairah, bukan uring-uringan.

Ada beberapa dorongan hati yang sering muncul dalam penghayatan kemurnian diri kita yakni:

  • Dorongan mencintai diri dengan benar maka kita akan mampu mengenal daya-daya yang bisa dikembangkan. Secara kodrat orang cenderung mencintai diri sendiri. Panggilan yang benar akan membawa orang pada kegairahan hidup meskipun tidak mudah selalu dihadapi.
  • Berkembang menjadi pribadi yang sempurna. Dalam diri setiap makluk ada dorongan untuk bertumbuh, maka ada dorongan untuk berbuat sesuatu yang lebih luhur. Panggilan membawa kita untuk semakin bertumbuh di dalam kesempurnaan.
  • Dorongan untuk memberi diri.   Di dalam diri setiap orang ada dorongan untuk memberi diri yang terbaik untuk orang lain, pemberian yang berlimpah-limpah. Jika di dalam hati setiap orang, hidup dorongan ini, maka hidup kita semakin mampu memberikan diri untuk siapa saja dengan seluruh daya dan tenaga/bermurah hati. Untuk itu dibutuhkan kesediaan untuk memberi diri pada orang lain dengan teladan hidup sejati Yesus, “Aku datang untuk melayani”. Panggilan yang membuahkan kebahagiaan menuntut adanya kesediaan untuk memberi diri. Oleh karena itu, kita harus mampu mengalahkan egoisme.
  • Menerima/Rela menanggung demi kepentingan orang lain.  Dalam hidup ini, orang tidak hanya memberikan diri namun juga harus berani menanggung/menerima apa yang ditawarkan. Penolakan akan membawa pada kematian, penerimaan akan membawa pada perkembangan. Maka dalam hidup panggilanpun demikian, bila ingin hidup panggilan berkembang. Mau memberi dan terutama mau menerima apa yang ditawarkan dan menanggungnya. Seorang religius atau selibat yang mempersembahkan seluruh hidupnya untuk Tuhan saja, seluruh hidupnnya diperuntukkan kepada Tuhan tanpa dibagai-bagi kepada siapapun, apalagi kepada seorang pribadi lawan jenis. Seluruh hidup dan segala relasi hanya kepada Tuhan/membangun hubungan yang intim dengan Tuhan karena Tuhan sendiri yang menjadi proyek cinta kita. Cinta yang disalurkan lewat semua orang bukan seorang pribadi belaka yang dapat menjerumuskan dan mengacaukan kemurnian kita, maka konsekuensinya adalah tidak menikah, semua cinta untuk semua orang/umat yang dipercayakan dalam karya pelayanan terhadap panggilan kita. Tidak menikah merupakan konsekuensi dari sebuah pilihan, bukan karena panggilan suka-suka atau hobi semata. Dengan menjadi religius atau selibater, maka kita menjadi tanda eskatologis bagi semua orang, dalam segala perkataan dan perbuatan serta seluruh gerak hidup kita. Dan dalam menghayati kemurnian/keperawanan yang dipersembahkan kepada Allah, kita tidak mampu melakukan ini dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan kekuatan Allah, kita akan mampu menghayati dan menghidupinya,

Menghidupi kemurnian tak sesederhana orang yang mengambil keputusan  untuk tidak menikah. Juga tidak bisa disamakan dengan tidak memiliki relasi eksklusif antara pria dan wanita dengan segala bentuknya. Tidak sama juga dengan mencintai Tuhan dan menjadi anti atau alergi kepada dia (laki-laki atau perempuaan). Tetapi hidup murni berarti tinggal dalam Allah yang adalah kudus dan suci murni (Yos. 24:19). Dalam arti ini kekuatan, waktu, perhatian, cinta, karya pelayanan, singkatnya seluruh hidup kita yang membaktikan diri sebagai Imam, Suster, Bruder dan Frater untuk hidup murni diberikan dan diarahkan pada kasih yang tak terbagi yakni kepada Allah semata dan bukan kepada seorang pribadi siapapun secara eksklusif. Di situlah hidup murni menjadi tanda kehidupan surgawi di mana orang tidak kawin dan dikawinkan (Luk. 20:35). Tanda itu sudah dimulai di tempat kita hidup dan berpijak. Kita sebagai orang yang dipanggil dan dipilih secara khusus membaktikan diri secara penuh sebagai Imam, Biarawan-Biarawati, bagaimana selama ini menghayati keagungan hidup murni itu dalam konteks zaman sekarang ini?

Pengalaman pribadi akan Kristus menjadi dasar menghayati kemurnian/keperawanan. Mencerminkan kasih Allah yang universal, sehingga kasih bukan demi menyenangkan atau disenangkan oleh seorang pribadi belaka, namun kasih adalah kasih Allah itu sendiri. Sadar bahwa identitas kemurnian menjadi tanda yang mengantisipasi kehidupan abadi dalam Yerusalem surgawi. Sisi afektif makin didewasakan bukan direduksi hanya soal seks dan cinta yang eksklusif. Dengan demikian kemurnian tidak menjadi bias. Relasi dengan sesama, entah sesama jenis atau beda jenis kelamin, hendaknya tidak direduksi pada motif-motif yang tidak sehat; kebutuhan yang  besar akan kehangatan, keakraban eksklusif, kasih sayang yang mengarah memiliki dan memiliki, kebutuhan akan kenikmatan seksual dan kebutuhan akan pengakuan orang-orang di sekitar. Dewasa ini dalam seksualitas dan sadar akan adanya seks. Kedewasaan pribadi menjadi salah satu kunci untuk berkembang baik dalam cinta kepada Allah maupun kepada sesama umat yang di jumpai dan layani.

Refleksi:

  • Sebagai kaum terpilih dan terpanggil, marilah kita melihat diri kita, sejauhmana saya menghayati dan mewujudkan hidup murni dan berpantang sempurna dalam reksa hidup persaudaraan dan pelayanan pastoral setiap hari?
  • Usaha-usaha apa saja yang telah saya lakukan untuk membangun hidup yang sehat sebagai kaum terpanggil? ***

Diedit oleh Yosef Hello

SHARE