I.   SEJARAH MASUKNYA GEREJAKATOLIK DI TIMOR

1.1 Masa Awal

1.1.1 Masa Portugis (1556 – 1853)

Masuknya Agama Katolik ke Pulau Timor ditandai oleh dua peristiwa besar, yakni pertama, mendaratnya para misio- naris pertama berkebangsaan Portugis di Pantai Lifao, Oe- Cuse, Timor (sekarang bagian dari Negara Republik Demokratik Timor Leste) pada Desember 1555. Peristiwa kedua pembap- tisan sekitar 5000 orang Timor menjadi Katolik oleh Padre Antonio Taveira, OP pada tahun 1556. Sayangnya bahwa tempat persisnya pembaptisan itu tidak diketahui secara pasti. Namun, menurut tutur adat Timor, lokasi pembaptisan per- tama itu kemungkinan di suatu tempat yang bernama Sumnali di Mena, Pantai Utara Timor. Hal ini bisa benar sebab dalam catatan sejarah, salah seorang baptisan pertama itu adalah Ratu Mena, dengan nama baptis ‘Filomena’.

Para misionaris Portugal menjadi pendiri Gereja di Timor, sedangkan pelanjutnya, terdiri dari kebanyakan pemuka awam Katolik yang berasal dari Timor dan Flores. Dalam masa ini peranan Raja-raja Timor sangat besar untuk perkembangan Gereja di bawah bimbingan misionaris-misionaris Dominikan.

1.1.2 Masa Belanda (1853 – 1913)

Dalam masa ini Gereja Katolik di Timor dipimpin oleh para misionaris Belanda dari Serikat Yesus dan Imam-imam Praja. Ada dua misionaris perintis yakni Pater Gregor Metz, SJ dan Romo Gaspar Hesele, Pr. Benih iman yang ditanam oleh para misionaris ini dipertahankan dan dikembangkan terus oleh para awam yang tabah. Para pater Jesuit mendirikan stasi yang pertama di Atapupu pada 1 Agustus 1883. (Pada 1 Agustus 1984, umat Katolik Paroki Atapupu telah merayakan 100 tahun berdirinya paroki Atapupu). Tahun 1886, dibuka Paroki Lahurus. Dua paroki ini merupakan paroki tertua di daratan Timor.

Tahun 1913 para Misionaris SJ menyerahkan Gereja Kato- lik Timor kepada Misionaris SVD. Stasi atau Paroki Lahurus menjadi pusat misi pada waktu itu. Di Lahurus ini berdirilah Sekolah Dasar pertama untuk anak-anak Timor pada 16 Juli 1889.

1.1.3 Masa Pembentukan Gereja (1913 – 1961)

Tahun 1913 Pulau Timor menjadi sebahagian dari wilayah Prefektur Apostolik Kepulauan Sunda Kecil dengan Mgr. Petrus Noyen, SVD sebagai Prefektur Apostolik. Guru-guru Agama mulai memegang peranan penting dalam meletakkan dasar Kristiani di kalangan Umat Katolik Timor.

Tahun 1936, Timor menjadi Vikariat sendiri dengan nama “Vicariat Apostolik Atambua” dan Mgr. Jacobus Pessers, SVD ditunjuk sebagai Vikaris Apostolik pertama pada 16 Juni 1937. Pada waktu itu di Timor terdapat sekitar 42.000 umat Katolik yang dilayani oleh 19 Imam, 3 Bruder dan 12 Suster.

Dari masa ini terkenal dua Guru Agama yang pertama, yakni Bapak Andreas Fahik dan Bapak Leo Daun (1916). Lalu menyusul lima Guru Agama yang diangkat oleh Mgr. Petrus Noyen SVD yaitu Thomas Pareira, Leo Beru, Leo Renu, Aegi- dius Pareira dan Petrus Basinti (1920). Di bidang perse- kolahan, di Atambua dibuka sekolah untuk puteri-puteri pada 1 Juli 1933. Pada 21 Januari 1941, Pulau Timor memetik hasil pendidikan imam yang pertama, Pater Gabriel Manek, SVD.

Seminari Menengah Lalian, satu-satunya Seminari dalam Keuskupan Atambua, didirikan pada 8 September 1950. Tahun 1957 didirikan Biara Santo Yosef Nenuk tempat pembinaan bagi Bruder-bruder Timor.

Vikariat Apostolik Atambua dipimpin oleh Mgr. Jacobus Pessers, SVD dari 16 Juni 1937 sampai 29 Juni 1958. Pada 29 Juni 1958, Mgr. Jacobus Pessers, SVD digantikan oleh Mgr. Theodorus Sulama, SVD. Beliau berganti nama pada 15 De- sember 1951 dari Theodorus Fransiskus Maria van den Tillaart, SVD menjadi Theodorus Fransiskus Maria Sulama, SVD sewaktu menjadi Warga Negara Republik Indonesia.

Dengan berdirinya hierarki untuk seluruh Indonesia pada 03 Januari 1961, Vikariat Apostolik Atambua menjadi Keuskupan Atambua dan sebagai Gereja setempat Keuskupan Atambua dipimpin oleh Mgr. Theodorus Sulama, SVD. Pada tahun 1961, Keuskupan Atambua mempunyai umat Katolik sebanyak 150.000 orang.

Semua stasi menjadi Paroki, dan umat awam mulai menyadari tanggungjawab mereka untuk memikul beban kehidupan Gereja setempat. Barisan awam dengan tokoh-tokohnya seperti Aloysius Klau (Besikama), Albertus Teti (Webriamata), Marcelinus Seran (lalu menjadi imam, Webriamata), Balthasar Bere (Kada), Stanislaus Berek (Lahurus), Camilus Bere (Manumean), Ambrosius Sallu (Kefamenanu), Gaspar Fios Bumi (Noemuti) dan semua tokoh yang lain merupakan tulang punggung Gereja di Keuskupan Atambua. Masa ini dimahkotai dengan tiga orang awam pembela iman yang menjadi martir yakni Bernardinus Luan, Guru Agama dari Wilain-Lahurus dibunuh oleh tentara Jepang pada tahun 1942 di Atambua, Marcellinus Sirimain dan Wilhelmus Nahak dari Kamanasa juga dibunuh oleh tentara Jepang pada 22 September 1943. Dengan itu benih-benih iman Katolik yang ditaburkan sejak tahun1556 mulai bertumbuh subur di Keuskupan Atambua. Tahun 1961 mulailah babak baru dalam sejarah perkembangan Keuskupan Atambua.

1.2     Masa Perkembangan Gereja

1.2.1    Masa Antara (1961 – 1967)

Selama enam tahun Keuskupan Atambua dalam status- nya sebagai Gereja Setempat, meliputi seluruh daratan Timor- Indonesia termasuk Pulau Sabu dan Rote. Gereja Katolik juga mulai berkembang di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kupang yang penduduknya kebanyakan anggota Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Keuskupan Atambua dengan wilayah yang begitu luas mendapat perhatian dari Tahkta Suci sehingga pada 15 Agustus 1967, Keuskupan Atambua dimekarkan menjadi dua Keuskupan yakni Keus- kupan Atambua sendiri meliputi wilayah Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara, dan Keuskupan (Agung) Kupang meliputi Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kupang, Pulau Sabu dan Rote, yang kemudian ditambah lagi dengan Pulau Alor-Pantar.

1.2.2 Perkembangan Selanjutnya (1967 – 1984)

Keuskupan Atambua pada tahun 1972 mencatat 240.000 orang Katolik, 54 Pastor (40 di Paroki, 14 di luar Paroki), 784 Guru Agama. Para Guru Agama ini tersebar sampai ke peda- laman yang sulit dicapai dalam musim hujan. Pada tahun 1980, waktu Pemerintah Indonesia mengadakan sensus Penduduk, menurut data Pemerintah Kabupaten Belu dan TTU, tercatat 293.688 umat Katolik (93,19%) dari penduduk seluruhnya yang berjumlah 315.165 orang. Dan dalam tahun yang sama 1980, Keuskupan Atambua sendiri mencatat 284.373 orang Katolik (90,47%) dari total penduduk sebanyak 314.318 orang. Di sini ada perbedaan karena keuskupan men- catat orang Katolik 9.315 orang kurang dari jumlah yang dica- tat pemerintah. Sedangkan jumlah penduduk hanya beda 847 orang, karena keuskupan menghitung lebih kurang dari jum- lah yang dicatat pemerintah. Perbedaan jumlah orang Katolik cukup menyolok karena menurut keuskupan 90,47% yang Katolik, sedangkan menurut pemerintah setempat 92,61% yang Katolik. Perbedaan 9.315 orang atau 2,14%. Hal ini bisa dimengerti dalam arti: penduduk yang belum dipermandikan, entah kecil atau besar, umumnya dihitung oleh pemerintah sebagai umat Katolik. Sedangkan Gereja mencatat hanya sesuai Buku Permandian, orang yang benar-benar telah dipermandikan menjadi Katolik. Di sinilah letaknya perbedaan angka yang besar ini.

Tahun 1984 ada 32 paroki di Keuskupan Atambua. 3 paroki diantaranya ketiadaan pastor paroki, yaitu Paroki Weluli, Paroki Atapupu dan Paroki Alas. Jumlah imam selu- ruhnya ada 61 orang: 38 imam bekerja di paroki (Pastor Paroki dan Pastor Pembantu), 16 imam bekerja di lembaga-lembaga bukan paroki, dan 7 Imam sedang studi/bekerja di luar Keus- kupan Atambua. Imam-imam tersebut terdiri dari 22 orang imam Praja dan 39 orang Imam SVD.

1.3     Masa Peningkatan Mutu Hidup Umat

1.3.1    Babak Baru Gereja Keuskupan Atambua (1985-1997)

Masa antara tahun 1985 sampai tahun 1997 ini boleh dikatakan sebagai sebuah babak baru dalam pembentukan model Gereja Umat. Masa ini ditandai dengan terjadinya Sinode Keuskupan Atambua III atau sinode pertama pada masa kepemimpinan Mgr. Anton Pain Ratu, SVD pada 24-29 Juni 1985. Dari sinode pastoral ini, lahirlah suatu arah baru karya pastoral untuk masa bakti 5 tahun (1985-1990) yakni: “Pening- katan Mutu Hidup Umat dengan tekanan khusus pada Pening- katan Taraf Hidup Sosial Ekonomi”. Mulai saat itu setiap tahun selalu dilakukan Sidang Dewan Pastoral Keuskupan Atambua untuk melakukan evaluasi dan perencanaan pastoral.

Pada tahun 1995 telah terdapat penambahan beberapa paroki baru, seperti Paroki Tukuneno, Sadi dan Wedomu di Dekenat Belu Utara; Paroki Weoe di Dekenat Malaka; Paroki Naekake, Naesleu, Lurasik, dan Mena di Dekenat TTU. Jumlah umat Katolik dari waktu ke waktu makin bertambah banyak menjadi 394.533 jiwa dari total penduduk 424.360 jiwa.

Melalui pastoral 3 Ber yang dikembangkan Uskup Atam- bua bersama tim, perlahan-lahan membongkar dualisme iman di kalangan umat dan mulai mengakarkan iman Kristiani melalui pastoral Kitab Suci dan Katekese dengan pola pastoral integral dari satu dapur pastoral yang disebut Pusat Pasto- ral Keuskupan Atambua. Pada periode ini terjadi dua kali sinode keuskupan yakni pada tahun 1991 dan 1997. Masa ini ditandai dengan berbagai perubahan berkat kesadaran akan pentingnya pendidikan.

1.3.2 Menuju Gereja Mandiri (1998-2007)

Memasuki tahun 1998, Uskup Atambua bersama tim Pusat Pastoral mulai gencar melakukan program Dialog Gereja Berdikari. Tujuannya adalah mendorong paroki-paroki untuk menjadi Paroki yang berdikari atau mandiri dalam tiga hal yaitu pertama kemandirian dalam hal iman Kristiani saja (artinya tidak ada Katolik embel-embel lain), kedua, kemandirian dalam hal ketenagaan pastoral baik tertahbis maupun non tertahbis, dan ketiga, kemandirian dalam hal finansial atau keuangan dan harta benda.

Tahun 2000 Gereja Katolik Indonesia menyelenggarakan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI). Pada SAGKI 2000 ini para Uskup Indonesia bersama imam dan awam membahas tentang Pemberdayaan Komunitas Umat Basis. Sepulangnya dari SAGKI Keuskupan Atambua gencar dengan kegiatan pastoral pemberdayaan KUB dengan tekanan pada Komunitas Basis bukan hanya sebagai Kelompok Doa tetapi terutama sebagai Kelompok Kehidupan. Banyak kemajuan dalam bidang Pastoral, Kitab Suci dan Katekese dicapai pada masa ini.

Semakin bertambahnya jumlah paroki di Keuskupan Atambua mendorong Uskup dan dewannya untuk memikir- kan perlunya pemekaran wilayah dekenat. Wacana pun mulai digulir hingga pada tahun 2005 Dekenat Timor Tengah Utara (TTU) yang meliputi satu kabupaten dengan jumlah 20-an paroki dimekarkan menjadi dua dekenat, yakni Dekenat Kefa- menanu dan Dekenat Mena. Dengan demikian Keuskupan Atambua memiliki empat dekenat yakni Dekenat Belu Utara dan Dekenat Malaka di Kabupaten Belu serta Dekenat Kefamenanu dan Dekenat Mena di Kabupaten TTU.

Satu peristiwa akbar lain tercatat yakni pada bulan No- vember 2005, Gereja Indonesia menyelenggarakan SAGKI kedua dengan tema “Gereja yang mendengarkan”.

Usai SAGKI 2005, tepatnya dua tahun kemudian terjadilah pergantian estafet kegembalaan di Keuskupan Atambua. Pada 21 September 2007 merupakan momentum bersejarah karena terjadi peristiwa pentahbisan Uskup Atambua yang baru dan sekaligus terjadi estafet kepemimpinan dari Mgr. Anton Pain Ratu, SVD (1984-2007) kepada penggantinya Mgr. Dr. Domi nikus Saku, seorang imam Projo Keuskupan Atambua. *** YH (sumber: Buku Ziarah Pastoral KA dari Masa ke Masa (1938-2015).

Mgr. Anton Pain Ratu SVD, Uskup Emeritus KA pada perayaan HUT ke-90
(foto:Simpro Leki Dasi: Komsos KA)

Diedit oleh Yosef Hello

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here