keuskupanatambua.org – Para Imam dan seluruh Umat Allah Keuskupan Atambua yang terkasih. Salam jumpa dalam terang rahmat, kasih-setia dan daya penyelamatan Allah di dalam Putera-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita.

Sudah lebih dari setahun pandemi virus corona (Covid-19) melanda seluruh dunia. Per 16 Pebruari 2021, ada 109.573.985 warga dunia terinfeksi Covid-19, dengan korban meninggal 2.415.475 meninggal, dan kita bersyukur, karena yang berhasil sembuh ada 82.008.204 orang. Warga bangsa Indonesia (per-15/2/2021) yang tertular ada 1.223.930, yang meninggal 33.367 dan yang berhasil sembuh berjumlah 1.032.065 jiwa. Hidup umat manusia terdampak secara menyeluruh. Krisis melanda semua bidang kehidupan. Resesi ekonomi kian merebak dan makin mencemaskan.

Banyak negara menerapkan kebijakan lock-down. Atas dasar berbagai pertimbangan, Indonesia menempuh kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Karena penularan terus saja terjadi, bahkan dengan ancaman type baru Covid-19, Pemerintah terpaksa menempuh Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa-Bali. Dengan harapan percepatan dan efektivitas pemutusan rantai penularan Covid-19, wilayah Jawa-Bali pun  mengalami pemberlakuan lock down akhir pekan hingga 22 Pebruari 2021. Daerah lainnya diharapkan memberlakukan kebijakan sesuai kondisi penularan Covid-19 yang dihadapi.

Sejak Juli 2020 seluruh dunia menghidupi situasi New Normal dengan pemberlakukan Protokol Kesehatan di bawah ketetapan dan pengawasan WHO. Sebagai orang beriman, kita perlu menghidupi dan memaknai situasi kenormalan hidup baru dengan lebih mengandalkan kekuatan rahmat dan rencana keselamatan Allah. Sudah pasti hidup kita terasa suram, mencekam, penuh tantangan dan kesulitan, krisis multidimensi dan resesi ekonomi. Justru dalam situasi hidup yang sulit inilah Tuhan kembali mengundang kita untuk berani merenungkan dan menghayati hidup kita dengan semangat baru, di bawah bimbingan kuasa Roh Kudus.

Semoga melalui permenungan atas Tema “Membangun Ekonomi Berbela-rasa” selama masa Prapaskah di tahun 2021, kita semakin berusaha menata kembali kehidupan kita yang porak-poranda dengan daya kuasa Allah yang sesungguhnya dahsyat, karena Tuhan itu sungguh agung, Mahamulia, Mahakuasa dan Mahabijaksana. Dialah Pencipta dan Penyelenggara kehidupan, dan dalam kuasa kasih-Nya menjadikan dunia dan hidup kita sungguh amat baik. Di dalam Putera-Nya Yesus Kristus, Allah Bapa menjadikan hidup kita sungguh bermakna karena berasal dari Dia dan kembali bermuara di dalam Dia, Sumber Keselamatan bagi semua orang dan kesempurnaan seluruh alam ciptan.

  1. TANTANGAN SEMANGAT BELA-RASA DALAM SITUASI KENORMALAN BARU

Kita terpaksa menjalani lagi masa Prapaskah dan kegiatan hidup lainnya dengan penerapan Protokol Covid-19. Rupanya gangguan dan kesulitan yang dialami seluruh dunia selama masa pandemi Covid-19 merefleksikan parahnya resesi pemahaman, sikap dan praksis semangat bela rasa, solider, senasib-sepenanggungan, sikap ugahari dan pengosongan diri dalam hidup harian kita sebagai orang beriman. Di masa Prapaskah 2021 kita diundang untuk kembali menata hidup kita dengan mengobarkan dan mempraktekkan semangat bela rasa dan sikap peduli terhadap sesama dan alam lingkungan sekitar kita. Di tengah situasi krisis hidup dan resesi eknomi, hendaknya kita juga ikut merasakan panggilan dan desakan untuk turut berbela-rasa dan bersetia-kawan. Banyak orang hidup dalam kondisi hidup yang tidak manusiawi. Mereka serba kekurangan, tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup primer yang paling mendasar. Lingkungan hidup kita rusak parah dan hancur-lebur.  Sikap egois, ingat diri, loba, tamak dan nafsu liar pengelolaan sumber-sumber daya kehidupan, telah membangkitkan sikap tidak bertanggungjawab dan tidak bertenggang-rasa yang merusak tatanan hidup manusia dan alam semesta. Kita telah mengerdilkan makna hidup manusia dengan mengabaikan aspek rohani dan ekologi yang sangat fundamental untuk perkembangan sejati dan utuh dari manusia dan dunia. Akibatnya sungguh parah. Banyak orang terpaksa hidup dalam kondisi hidup yang sangat memprihatinkan, sementara segelintir orang hidup nyaman dan terjamin. Masyarakat dan banyak orang jatuh sakit, menderita dan mati, karena dunia sudah terlebih dahulu dimatikan dengan pelbagai cara!

Pandemi Covid-19 kiranya menjadi kesempatan rahmat bagi pemulihan ekosystem, sikap beriman dan penataan hidup kita. Kita dipaksa berhenti, atau bergiat dengan pembatasan-pembatasan, agar seluruh proses pengrusakan hidup manusia dan alam dunia dihentikan. Pandemi Covid-19 perlu diikuti suspensi, agar terjadi lagi proses pemulihan, pembersihan, dan penataan diri alam semesta. Kita berhenti agar dunia berbenah diri. Dalam masa PSBB dan lock down 2020 bahkan sempat berkembang pemikiran ekstrim berupa penolakan dan kutukan terhadap kehadiran manusia di bumi ini. Melalui narasi suatu videoclip terbaca ungkapan berikut: “Enyahlah, hai engkau, manusia jahanam, dunia tidak membutuhkan kehadiranmu. Tanpa engkau, dunia menjadi lebih baik, aman-sentosa dan selamat!”

Sungguh, suatu irony dan sinisme yang secara sarkastik menyentak dan menantang. Kita ditantang untuk merefleksikan lagi kehadiran kita yang sepantasnya berbela-rasa, peka dan bertanggungjawab atas keutuhan dan keberlanjutan alam ciptaan. Mungkinkah Pandemi Covid-19 merupakan konkretisasi, aktualisasi dan repetisi tragedi Taman Eden, di mana Adam dan Hawa jatuh mengenaskan dalam tubir dosa, lalu terusir dari taman itu untuk selanjutnya menanggung segala penderitaan dan segala bentuk kesakitan selama hidupnya di luar tatanan azali dunia berdasarkan rencana keselamatan Allah? Apakah masa damai universal jaman Mesias sebagaimana diimpikan para Nabi dapat terwujud? Apakah ada pembelajaran yang dapat kita petik dari pemberlakuan protokol Covid-19 dalam proses isolasi dan karantina selama sakit hingga meninggal dan dimakamkan dari begitu banyak orang di sekitar kita? Kiranya kita makin sadar, mereka mengalami pembuangan dan pemisahan secara mengenaskan karena ulah kita yang tanpa bela-rasa. Biarlah kita diganggu rasa takut, cemas, terancam, kehilangan orang-orang terkasih menjadi bahan refleksi konstruktif tentang kehadiran kita yang seharusnya digelorakan sikap bela rasa yang termotivasi oleh daya kekuatan cinta kasih Tuhan sendiri. Bila kita telah menjadi perusak tatanan hidup dunia, mari kita belajar untuk kembali menjadi rekan kerja Allah dalam merawat ibu bumi sebagai tempat yang nyaman dan rumah yang hangat bagi semua orang.

  1. PANGGILAN MEMBANGUN EKONOMI BERBELA-RASA

Ekonomi berbela-rasa, bukankah suatu utopia yang sulit terwujud? Dalam upaya menata rumah tangga dan kehidupan pada umumnya, mungkinkan manusia bebas dari tendensi persaingan bebas dan bisa mencipta Ekonomi kegotong-royongan, kebersamaan, kekeluargaan dan persaudaraan? Apa makna khas bela-rasa dalam upaya membangun kehidupan ekonomi? Dalam tataran praktis di level sosial-manusiawi, bela-rasa menunjuk pada sikap solider, saling berbagi untuk saling meneguhkan dan menghidupkan. Semangat dan sikap rela berbagi dalam suka-duka bermuara langsung dari amanat kasih Sang Guru Ilahi, Yesus Kristus. “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain” (Yoh 15, 17). Hukum kasih berpadanan dengan hukum universal yang terpancar dari dalam hati setiap orang untuk melakukan segala sesuatu yang baik dan menghindari segala yang jahat sehingga suasana damai dan harmoni dapat tercipta dalam kehidupan bersama.

Pada level asketik dan mystik-kontemplatif, bela-rasa terungkap sebagai Kenosis, yaitu putusan bebas, sikap dan tindakan Allah mengosongkan diri-Nya, mengutus Putera-Nya Yesus Kristus menjadi manusia dan dalam kemanusiaan-Nya rela meninggalkan segala kemuliaan ke-Allah-an-Nya, rela mengosongkan diri-Nya, menjadi sungguh manusia, mengenakan kodrat manusia sebagai makluk terbatas, masuk dalam ruang dan waktu, rela menjadi miskin karena manusia, senasib-sepenanggungan dengan seluruh umat manusia, supaya semua orang menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (Cf. 2Kor 8, 9). Kenosis berarti juga tindakan perendahan diri agar semua yang lain diangkat ke tingkat martabat yang lebih tinggi. St. Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan sebagai tindakan meratakan jalan untuk Tuhan, yang lekak-lekuk ditimbuni, yang tinggi-tinggi diratakan, agar semua orang melihat kemuliaan yang datang dari Tuhan (Cf. Luk 3, 4-6). Pada level ini, Kenosis bermakna menjembatani jurang kaya miskin, agar mereka yang miskin tidak tenggelam ke lapisan paling rendah kehidupan, mendapat penghinaan dan kehilangan martabat diri, dan sebaliknya orang kaya tidak merasa seperti di atas angin, berada di puncak gunung kehidupan, seolah jadi manara gading yang hidup terisolasi dari si miskin.

Pada level Ethis-moral dan sosial-pastoral, bela-rasa terungkap dalam sikap mengarus-utamakan keadilan yang berpihak pada si miskin, kaum yang kecil, lemah, berkekurangan dan tanpa perlindungan. Dalam pemahaman ini, keadilan lebih dari sekedar menjaga keseimbangan hak dan kewajiban. Orang berbela-rasa rela memberikan tempat duduknya bagi orang-orang tua dan jompo, ibu hamil dan diffable, membagikan obat terdahulu kepada mereka yang sakit sangat parah, memberi makan mereka yang kelaparan dan kehausan dan terancam kematian, atau tempat perlindungan bagi mereka yang terancam pembunuhan, dsb.

Membangun Ekonomi yang berbela-rasa berarti menata kehidupan alam semesta dan tatanan masyarakat sedemikian rupa sehingga mereka yang paling berkebutuhanlah yang pertama-tama mendapatkan keuntungan, uluran bantuan, pertolongan dan sokongan, sehingga hidup mereka terselamatkan. Tuntutan dan tantangan paling berat untuk Ekonomi berbela-rasa adalah semua orang membutuhkan semangat dan kesadaran untuk bangkit menjadi pelaku ekonomi yang handal karena kreatif, produktif dan inovatif. Tingkat partisipasi dan produktivitas hidup seseorang atau suatu entitas sosial dan komunal menentukan tingkat dan efektivitas Ekonomi berbela-rasa. Juga sikap rohani dan ethis-moral menentukan kualitas Ekonomi berbela-rasa. Semakin tinggi kesadaran seseorang atau masyarakat untuk memikul beban kehidupan dan tanggungjawab ekonomi, semakin memungkinkan terwujudnya Ekonomi berbela-rasa karena tanggungjawab melahirkan kekuatan, termasuk kekuatan sebagai sikap berbagi. Dan semakin orang mengembangkan sikap cintakasih dan altruistic, semakin dia sanggup membangun dan mempraktekkan Ekonomi berbela-rasa.

  1. PRAKSIS EKONOMI BERBELA-RASA SELAMA MASA PRAPASKAH 2021

Bagaimana cara mempraktekkan Ekonomi berbela-rasa secara praktis sebagai upaya memberi makna rohani, ethis-moral dan sosial masa Prapaskah?

  • Berjuang jadi Steril dari hal-hal buruk dan tampil sebagai pelaku hal-hal baik. Bapa Suci Paus Franciscus mengajak kita untuk berpuasa dengan melepaskan diri dari perkataan-perkatan, sikap dan tindakan yang buruk dan menyakitkan, dan lebih tampil mempraktekkan hal-hal baik yang menyenangkan. Kita juga perlu puasa dari kesedihan, pesimisme dan kegetiran yang memilukan dan mencengkeram jiwa dengan perasaan gembira, penuh sukacita, harapan dan puji-syukur. Kita perlu puasa dari kemarahan agar lebih mudah mempraktekkan kesabaran, kelembutan hati dan kelegaan jiwa. Kita perlu puasa dari kekuatiran dan lebih percaya kepada Tuhan. Kita perlu berpuasa dari keluh-kesah dan cenderung mempersalahkan, dan lebih mengenakan kesederhanaan. Kita perlu berpuasa dari perasaan tertekan, terbelenggu dan stress dan lebih menghayati doa penuh iman kepada Tuhan. Kita perlu berpuasa dari sikap dan semangat egoisme agar lebih memperhatikan sesama dan yang lain di sekitar kita. Kita perlu puasa dari rasa dendam, iri, benci dan dengki, dan menggantinya dengan damai dan keheningan doa penuh penyerahan.
  • Kita perlu berpuasa dengan mempraktekkan Ekonomi berbela-rasa lewat tindakan nyata: ada sajian doa dan renungan Kitab Suci yang dirancang dalam 4 x Pertemuan, Ada envelop APP di lingkup Keluarga (sisihkan Rp 500 dari sisa uang belanja setiap minggu selama masa Prapaskah), ada kerja nyata APP berupa sebuah proyek Keluarga, KUB, Lingkungan, Stasi, Paroki, Sekolah, Asrama, dll untuk merayakan secara praktis dokumen Laudato Sí selama 7 tahun ke depan. Bisa juga dititipkan bantuan uang, makanan atau bibit tanaman produktif yang bernilai ekonomis tinggi untuk dikembangkan secara lebih luas.
  • Prapaskah di kalangan para Imam: Imam adalah manusia pendoa menurut teladan Yesus Kristus, Imam Agung, Sang Pendoa Abadi di hadapan Bapa. Kita usahakan mendoakan Brevir secara penuh (5x doa), dilengkapi Devosi Pribadi yang berpuncak pada Perayaan Ekaristi yang kita rayakan secara lebih sadar, lebih aktif dan lebih penuh. Para Imam juga diminta untuk memperhatikan Gagasan Liturgis dan Ekaristis dari Bahan APP dan berusaha menyajikannya kepada umat secara baik sehingga umat dibekali secara lebih baik, justru di tengah situasi pandemi Covid-19 ini. Para Imam adalah pelayan-pelayan Allah, Alter Christus yang dipanggil dan diutus untuk menghadirkan kekuatan keselamatan bagi umat. Hayatilah hidup dan imamatmu seolah-olah inilah hari pertama dan terakhir, dan seolah-olah inilah satu-satunya hari pelayanan dalam hidup Anda. Muliakanlah Tuhan dan layanilah sesama dalam kasih Tuhan. Berusahalah membantu umat menjadi lebih berdaulat, merdeka dan bebas sebagai putera-puteri Bapa Surgawi, saudara-saudari Yesus dan teguhkan mereka untuk tidak menjadi putus-asa dan hanya menjadi pengamen di masa pandemi Covid-19 ini.

Selamat menjalani Puasa Suci dalam rahmat Tuhan, Tuhan memberkati selalu.

Lalian Tolu, 16 Februari 2021

Uskup Atambua

( Dominikus Saku)

SHARE