Close Menu
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • SURAT GEMBALA
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Pelantikan OSIS Seminari Lalian Periode Genap 2025/2026 Berlangsung Khidmat
  • Mengukur dan Mengedukasi Partisipasi OMK dalam Kegiatan Gereja Berdasarkan Barometer Komitmen, Konsistensi, dan Konsekuen
  • CUKS Keuskupan Atambua Kantor Cabang Seon Selenggarakan Pra RAT Tahun Buku 2025
  • KC Pantura CUKS Keuskupan Atambua Gelar Lokakarya Pra RAT Tahun Buku 2025
  • Komisi-Komisi Gelar Rakor Pastoral bersama Uskup Atambua
  • Mencermati Asumsi dan Mengkritisi Prasangka: Strategi Membina Dialog Terbuka
  • Kecakapan Discernment Imamat di Tengah Viralitas dan Popularitas Publikasi Media Sosial
  • Komunitas SMAK Santa Filomena Rayakan NATARU Bersama, Ini Ajakan Kepala SMAK
Facebook Instagram
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • SURAT GEMBALA
Login
Keuskupanatambua.orgKeuskupanatambua.org
Home»Opini»Tiga Belas Butir Ajakan Kepedulian Paus Fransiskus pada Hari Orang Sakit Sedunia
Opini

Tiga Belas Butir Ajakan Kepedulian Paus Fransiskus pada Hari Orang Sakit Sedunia

Tidak Baik Kalau Manusia Itu Hidup Sendirian
Komsos Keuskupan AtambuaBy Komsos Keuskupan AtambuaFebruary 11, 2024No Comments188 Views
Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Reddit Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Paus Fransiskus pada peringatan Hari Orang Sakit Sedunia ke-XXXII, 11 Februari 2024 mengajak seluruh umat Katolik untuk menaruh bela rasa terhadap orang-orang sakit. Dengan bertolak dari kenyataan para penderita kusta, Paus Fransiskus menyebut orang-orang sakit sebagai sosok terasing, yang perlu kita perhatikan sebagai ekspresi kita beriman. 

Realitas suram dalam relasi ditimbulkan oleh kuatnya budaya individualisme, yang menyebabkan kesendirian yang berkepanjangan dan peninggalan yang menyakitkan

Bahwasannya, orang-orang sakit, karena kondisi mereka, seringkali mereka tidak mampu urus diri sendiri. Itulah sebabnya, keadaan mereka itu, atas daya dorong semangat persekutuan dan persaudaraan yang tertanam sejak kisah penciptaan, mereka yang menderita, harus segera dipandang sebagai orang pertama untuk diselamatkan.

Keterasingan menyebabkan manusia kehilangan makna hidup. Keterasingan menghilangkan kegembiraan cinta dan membuat kita mengalami atau terjebak dalam perasaan kesepian yang menyesatkan di semua bagian penting kehidupan

Pada ajakan dalam surat yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus, ditulis judul : Tidak baik kalau manusia itu hidup sendirian (Kejadian 2 : 18) dengan judul sambung; Penyembuhan orang sakit melalui penyembuhan relasi.

Budaya membuang, produk individualisme, nyatanya lebih parah, karena menurunnya perhatian kepada mereka yang sakit akibat intervensi keputusan politik yang tak karuan

Bapa Suci merefleksikan, betapa pentingnya kasih mendasari setiap relasi. Kasih yang mendasari relasi akan mampu membuang jauh-jauh budaya dan mental individualisme, yang banyak kali hadirnya memberi hujan malapetaka bagi tumbuh suburnya situasi dan praktek keterasingan.

Kedekatan yang berbela rasa dan kasih sayang dalam perawatan orang sakit merupakan bentuk pertama pendekatan yang tak tergantikan, dan sekaligus menjadi rahasia dan alasan, mengapa orang harus segera sembuh. Sebab kasih adalah obat paling manjur bagi terawatnya relasi

Sebagai bantuan refleksi lebih mendalam, TIGA BELAS BUTIR pemikiran Paus Fransiskus di bawah ini, Penulis hadirkan dengan upaya perumusan original untuk mempertahankan substansi perumusan Bapa Suci.

Butir Pertama

Dasar relasi ada pada kenyataan bahwa Allah menciptakan karena kasihNya, dan karena itu, semangat persekutuan adalah tujuan utamanya.

Butir Kedua

Karena semangat persekutuan itu tertanam dalam hati nurani manusia sejak diciptakan, maka kenyataan ditinggalkan merupakan suatu pengalaman yang menyakitkan, menakutkan, bahkan tidak manusiawi.

Butir Ketiga

Realitas suram dalam relasi ditimbulkan oleh kuatnya budaya individualisme, yang menyebabkan kesendirian yang berkepanjangan dan peninggalan yang menyakitkan.

Butir Keempat

Sikap lebih mementingkan produktivitas, sikap acuh tak acuh, sikap memupuk mitos efisiensi merupakan suatu realitas suram, produk dari kuatnya semangat individualisme.

Butir Kelima

Sikap individualisme menciptakan budaya membuang, dimana manusia tidak dipandang sebagai nilai terpenting yang harus dihormati.

Butir Keenam

Budaya membuang, produk individualisme, nyatanya lebih parah, karena menurunnya perhatian kepada mereka yang sakit akibat intervensi keputusan politik yang tak karuan.

Butir Ketujuh

Nilai persekutuan masa ciptaan sesungguhnya rusak karena dosa-dosa manusia. Akibat dosa-dosa manusia, muncul kecurigaan, keretakan dan perpecahan, yang memuncak pada kenyataan keterasingan.

Butir Kedelapan

Keterasingan menyebabkan manusia kehilangan makna hidup. Keterasingan menghilangkan kegembiraan cinta dan membuat kita mengalami atau terjebak dalam perasaan kesepian yang menyesatkan di semua bagian penting kehidupan.

Butir Kesembilan

Kedekatan yang berbela rasa dan kasih sayang dalam perawatan orang sakit merupakan bentuk pertama pendekatan yang tak tergantikan, dan sekaligus menjadi rahasia dan alasan, mengapa orang harus segera sembuh. Sebab kasih adalah obat paling manjur bagi terawatnya relasi.

Butir Kesepuluh

Kita lahir ke dunia ini disertai dengan misi. Misi itu ialah mengabdi kebenaran, berbagi cinta kasih, membangun persekutuan dan persaudaraan.

Butir Kesebelas

Kenyataan orang-orang sakit sebetulnya merupakan suatu panggilan bagi kita, yang sifatnya mendesak, untuk mundur dari kesibukan kita, demi menemukan kembali diri kita sendiri dengan cara mendekatkan mereka yang sakit pada kelemah-lembutan.

Butir Keduabelas

Kristus telah meletakan cinta teladan bagi kita, tentang perhatian kepada orang-orang sakit. Meri kita merawat luka kesendirian dan keterasingan sembari memerangi budaya individualisme, budaya tak peduli, budaya membuang dan budaya acuh tak acuh.

Butir Ketigabelas

Semoga tidak pernah kita lupa bahwa orang-orang sakit ialah inti dari Gereja, sebagaimana konsentrasi Sang Gembala terhadap orang-orang sakit. Belas kasihan terhadap mereka ialah cara jitu membenamkan fakta keterasingan.

 

Penulis : RD. Yudel Neno

Share. Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BERITA TERKAIT

Kecakapan Discernment Imamat di Tengah Viralitas dan Popularitas Publikasi Media Sosial

January 28, 2026

Ekologi Media dan Pentingnya Kesadaran Subjektif

December 12, 2025

ELEMEN ESTETIKA DAN PENJIWAAN DALAM RAGAM TRADISI MUSIK – Catatan ke-2 untuk Konser Musik Trans Timor Barat

November 12, 2025

MUSIK SEBAGAI KATHARSIS – PENGALAMAN ESTETIS DALAM KONSER Calpestando La Terra – Sostenendo il Cielo

November 11, 2025

July 4, 2025

Rukun Bersama Saudara: Jalan Menuju Berkat dan Martabat dalam Dialog Antaragama

July 2, 2025

Comments are closed.

BERITA TERBARU

Pelantikan OSIS Seminari Lalian Periode Genap 2025/2026 Berlangsung Khidmat

February 11, 2026

Mengukur dan Mengedukasi Partisipasi OMK dalam Kegiatan Gereja Berdasarkan Barometer Komitmen, Konsistensi, dan Konsekuen

February 7, 2026

CUKS Keuskupan Atambua Kantor Cabang Seon Selenggarakan Pra RAT Tahun Buku 2025

February 6, 2026

KC Pantura CUKS Keuskupan Atambua Gelar Lokakarya Pra RAT Tahun Buku 2025

February 6, 2026

Komisi-Komisi Gelar Rakor Pastoral bersama Uskup Atambua

February 5, 2026

Mencermati Asumsi dan Mengkritisi Prasangka: Strategi Membina Dialog Terbuka

January 28, 2026
KALENDER LITURGI

Tentang Kami
Tentang Kami

Keuskupanatambua.org merupakan website resmi Keuskupan Atambua yang menyajikan update informasi seputar Keuskupan Atambua dan paroki-paroki di wilayah keuskupan tersebut.

Alamat

Alamat:
Jl. Nela Raya No. 17, Lalian Tolu, Atambua 85702, Timor – Nusa Tenggara Timur.

Media Sosial
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • TikTok
© 2026 Keuskupanatambua.org. Designed by Tim Keuskupan Atambua.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?