
Renungan Serial – KeuskupanAtambua.org – Harya Bukan Jaminan Hidup Kekal – oleh Rm. John Pilis, Pr

Renungan
Hari ini Tuhan Yesus hadir lewat penginjil Lukas dan dengan tegas mengingatkan kita sekalian: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ketamakan sebab walalupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung pada kekayaan itu”. Peringatan ini muncul karena seorang dari kerumunan orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya dia membagi harta peninggal ayahnya dengan aku”. Orang ini jelas datang kepada Yesus bukan untuk mencari kebenaran hidup melainkan untuk menjadikan Yesus sebagai hakim dalam sengketa warisan dengan saudaranya. Yesus menolak menjadi hakim di antara mereka karena bukan untuk itulah Ia diutus Bapa datang ke tengah dunia.
Permintaan orang itu jelas bertentangan dengan misi perutusan Yesus. Maka alih-alih menjadi hakim Yesus justru memberikan peringatan keras karena bagiNya ini adalah gejala dari penyakit rohani: ketamakan.Yesus menjelaskan maksud peringatanNya dengan menceriterakan perumpaan tentang orang kaya yang bodoh.
Ada seorang yang mempunyai hasil panen yang berlimpah namun bukannya bersyukur dan berbagi melainkan membangun lumbung yang lebih besar untuk menyimpan hasil kebun sebagai jaminan akan masa depannya. Ia merasa nyaman karena lumbungnya penuh dengan hasil panenan sementara itu ia lupa bahwa nyawanya tidak berada dalam genggaman tanya sendiri melainkan di tangan Tuhan.
Tuhan menyebutnya sebagai orang bodoh bukan karena ia tidak pandai mengolah apa yang dimilikinya tetapi ia gagal dalam hal yang paling penting yaitu relasi dengan Allah dan sesama. Ia lupa bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Ia lupa bahwa malam itu juga nyawanya akan diambil darinya.
Pernyataan yang menarik adalah “milik siapakah nanti apa yang telah kau sediakan? Semua harta yang ditimbun dengan egois itu akhirnya tidak bisa di bawa mati bahkan sebaliknya bisa menjadi sumber dosa bagi ahli warisnya sehingga ia kehilangan harta di hadapan Allah. Tuhan melalui perumpaan ini mengajak kita sekalian untuk secara bijak tidak lupa mengumpulkan harta surgawi melalui perbuatan kasih, kemurahan hati, keadilan dan kepercayaan penuh pada kasih penyelengaraan Tuhan. Harta duniawi bersifat sementara nilai kasih dan kebaikan yang kita tabur bersifat abadi
Niat
Hari ini Saya mau belajar berbagi sebagai wujud kasih kepada Allah dan sesama serta sebagai bekal untuk kehidupan kekal!
Doa
Bapa Maha Pengasih, Bebaskanlah kami dari belenggu kecemasan dan ketamakan akan masa depan, dan ajarilah kami memandang harta sebagai sarana untuk melayaniMu dan sesama bukan sebagai tuan yang menguasai hidup kami. Semoga akhirnya kami ditemukan kaya di hadapanMu kami telah mencintai Engkau dan membagi kasihMu kepada sesama kami. Amin.
Editor – Yosef Hello – Published by Yudel Neno

