Close Menu
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Malaikat-Ku akan Berjalan di Depanmu
  • Berjalan dalam Tuntunan Spiritualitas Bunda Maria di Bulan Oktober sebagai Bulan Rosario
  • Tutup BKSN, Deken Belu Utara Tegaskan BKSN Ditutup tetapi Kitab Suci Harus Terbuka Terus Sepanjang Hayat
  • Jadilah yang Besar di Mata Tuhan
  • Komsos Keuskupan Atambua Beri Pelatihan Menulis Berita di Paroki Hanemasin
  • Wakil Bupati Malaka Apresiasi Pengabdian Imam dalam Membangun Manusia
  • Di Hadapan Uskup Atambua, Umat Stasi Markus Efudini Memohon Status Paroki
  • Syukur 34 Tahun Imamat, Uskup Atambua Tekankan Kesetiaan dan Kepedulian
Facebook Instagram
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Login
Keuskupanatambua.orgKeuskupanatambua.org
Home»Berita Dekenat»Tutup BKSN, Deken Belu Utara Tegaskan BKSN Ditutup tetapi Kitab Suci Harus Terbuka Terus Sepanjang Hayat
Berita Dekenat

Tutup BKSN, Deken Belu Utara Tegaskan BKSN Ditutup tetapi Kitab Suci Harus Terbuka Terus Sepanjang Hayat

Komsos Keuskupan AtambuaBy Komsos Keuskupan AtambuaOctober 1, 2026No Comments27 Views
Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Reddit Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

ATAPUPU — KeuskupanAtambua.org – Deken Belu Utara Rm. Agus Seran Berek, Pr., menegaskan bahwa penutupan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) secara liturgis tidak mengakhiri panggilan umat untuk membaca dan menghidupi Sabda Tuhan. Pesan itu disampaikannya dalam homili Misa Penutupan BKSN Dekenat Belu Utara di Paroki Stella Maris Atapupu, Rabu (30/9/2026), dengan mengajak umat berserah kepada Tuhan dan menjadikan Kitab Suci pedoman sepanjang hayat.

Misa dipimpin Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua Pater Vincent Wun, SVD, bersama Deken Belu Utara Rm. Agus Seran Berek, Pr., dan para imam se-Dekenat Belu Utara. Para suster, diakon, frater, serta umat dari paroki-paroki di wilayah dekenat turut menghadiri perayaan tersebut.

Dekenat Belu Utara mencakup 18 paroki, yakni Paroki Katedral Atambua–Santa Maria Immaculata, Paroki Tukuneno–Santo Petrus, Paroki Fatubenao–Santo Agustinus, Paroki Fatuketi–Santa Maria Bunda Penebus, Paroki Haliwen–Santo Yohanes Pemandi, Paroki Sadi–Tritunggal Mahakudus, Paroki Atapupu–Stella Maris, Paroki Wedomu–Santo Paulus, dan Paroki Lahurus–Santo Petrus. Selain itu, terdapat Paroki Weluli–Santo Theodorus, Paroki Haekesak, Paroki Nualain, Paroki Fulur, Paroki Nela, Paroki Halilulik, Paroki Laktutus, Paroki Webora, dan Paroki Labur.

Dalam pengantar misa, Pater Vincent Wun, SVD – Vikjen Keuskupan Atambua menyampaikan bahwa selama BKSN umat Allah telah membangun keakraban dengan Tuhan melalui Kitab Suci. Ia berharap pengalaman tersebut semakin menumbuhkan kecintaan umat terhadap Sabda Tuhan dalam kehidupan setiap hari.

Pesan itu diperdalam Rm. Agus melalui homili bertajuk “Berserah Diri kepada Tuhan, Sumber Kekayaan Sejati”. Ia menyampaikan bahwa perayaan bersama BKSN tingkat dekenat yang diselenggarakan setiap dua tahun merupakan kekhasan Dekenat Belu Utara. Perayaan tersebut menjadi ungkapan penghormatan terhadap Kitab Suci sekaligus salah satu kekayaan iman yang perlu terus dirawat.

Rm. Agus mengawali permenungannya dengan menguraikan struktur bacaan pertama tentang Ayub ke dalam dua bagian. Pada bagian pertama, Ayub digambarkan sebagai orang beriman, benar, adil, dan saleh yang mengakui kemahakuasaan Tuhan melalui alam semesta.

Pengakuan itu kemudian membawa Ayub pada bagian kedua, yakni mengambil sikap yang benar dan tepat di hadapan Allah. Ayub memilih taat dan berserah kepada Tuhan sebagai pemilik segala sesuatu. Menurut Rm. Agus, pengenalan akan kebesaran Tuhan perlu mengantar manusia pada kerendahan hati dan kesediaan mempercayakan hidup kepada-Nya.

Dari kisah Ayub, Rm. Agus mengajak umat beralih pada permenungan Injil yang menampilkan tiga tanggapan terhadap panggilan mengikuti Yesus. Ia menyoroti konteks Yesus sebagai Sang Guru Ilahi yang sedang berjalan ketika seseorang datang menyatakan kesediaan mengikuti-Nya ke mana pun Ia pergi.

Terhadap kesediaan tersebut, Yesus menjawab bahwa serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, sedangkan Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala. Rm. Agus mengakui bahwa jawaban itu dapat terasa membingungkan.

Namun, menurut penjelasannya, perkataan Yesus tidak hanya berbicara tentang kesederhanaan hidup atau pengosongan diri dari kekayaan duniawi. Di dalamnya juga terdapat pengungkapan identitas ilahi Sang Guru. Rm. Agus menghubungkannya dengan pernyataan Yesus di hadapan Pilatus bahwa kerajaan-Nya bukan berasal dari dunia ini.

Selanjutnya, Yesus berpaling kepada murid orang lain dan mengajaknya mengikuti Dia. Orang tersebut meminta kesempatan untuk terlebih dahulu mengurus keluarga dan menguburkan anggota keluarga yang meninggal. Yesus menanggapinya dengan perkataan agar orang mati menguburkan orang mati, sementara orang yang dipanggil itu mengikuti-Nya.

Rm. Agus menjelaskan bahwa jawaban tersebut dapat terdengar seolah-olah menyangkal nilai kekeluargaan. Dalam tradisi Yahudi, anak juga mempunyai kewajiban mengurus dan menguburkan orang tua. Karena itu, perkataan Yesus perlu direnungkan dalam hubungan dengan hakikat panggilan seorang murid.

Dalam penekanannya, mengikuti Yesus berarti mengarahkan perhatian pada kehidupan dan tugas keselamatan. Panggilan tersebut menuntut kesediaan untuk menempatkan kehendak Tuhan sebagai prioritas dalam menentukan langkah hidup.

Rm. Agus kemudian mengajak umat merefleksikan kembali panggilan sejak menjadi orang Kristen maupun sebagai pribadi yang menerima panggilan khusus di hadapan Tuhan. Ia menggunakan gambaran peralihan dari penjala ikan menjadi penjala manusia untuk menjelaskan perubahan arah hidup seorang murid.

Melalui gambaran itu, umat diajak tidak berhenti pada kesibukan mengurus kepentingan duniawi, tetapi berani melangkah menuju tuntutan panggilan Tuhan. Kehidupan beriman perlu tampak dalam kesediaan mengambil bagian dalam karya keselamatan.

Dalam homilinya, Rm. Agus juga menyinggung aspek filosofis mengenai keharmonisan hukum badan dan hukum roh. Meski keduanya perlu diperhatikan, ia menegaskan bahwa dalam pandangan teologis, keselamatan jiwa harus ditempatkan lebih tinggi dan menjadi prioritas.

Untuk menjalani panggilan tersebut, umat diajak pertama-tama belajar dari Yesus, Sang Guru Ilahi. Ia memiliki segala sesuatu, tetapi bersedia mengosongkan seluruh diri-Nya demi keselamatan umat manusia. Sikap Yesus menjadi teladan pemberian diri bagi para pengikut-Nya.

Umat juga diajak kembali belajar dari Ayub yang senantiasa melihat keagungan Tuhan. Kesadaran akan kebesaran Allah menjadi titik tolak untuk merendahkan diri dan membangun sikap sebagai murid yang taat.

Selain Yesus dan Ayub, Rm. Agus mengangkat teladan Santo Hieronimus. Ia menyebut ketekunan santo tersebut dalam menerjemahkan Kitab Suci selama 30 tahun, yang dijalani dalam semangat kontemplasi. Ketekunan itu menjadi bahan refleksi tentang kesediaan umat menyediakan waktu untuk mendalami Sabda Tuhan.

Rm. Agus lalu menyoroti kebiasaan sehari-hari yang dapat menjauhkan umat dari Kitab Suci. Ia mengingatkan bahwa terkadang orang lebih banyak menghabiskan waktu bermain telepon genggam daripada membaca Sabda Tuhan. Perayaan BKSN, karena itu, perlu mendorong perubahan kebiasaan dalam menggunakan waktu dan mengelola perhatian.

Pada akhir homili, Rm. Agus menegaskan kembali bahwa yang ditutup hari itu ialah rangkaian perayaan secara liturgis. Kitab Suci harus tetap terbuka sepanjang hidup, menjadi sumber permenungan dan pedoman tindakan umat dalam keluarga, Gereja, serta masyarakat.

Perayaan Ekaristi ini turut dimeriahkan oleh koor dari Paroki Katedral Santa Maria Immaculata Atambua. Pada bagian akhir perayaan, Pastor Paroki Stella Maris Atapupu, Rm. Goris Dudy, selaku tuan rumah, menyampaikan terima kasih kepada Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua, Deken Belu Utara, para pastor, serta seluruh umat atas kehadiran dalam perayaan Ekaristi di Paroki Atapupu. Ia juga mengajak seluruh hadirin untuk tetap tinggal bersama setelah perayaan, melanjutkan kebersamaan dalam suasana persaudaraan.

oleh Yudel Neno

Share. Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BERITA TERKAIT

Komsos Keuskupan Atambua Beri Pelatihan Menulis Berita di Paroki Hanemasin

September 30, 2026

Wakil Bupati Malaka Apresiasi Pengabdian Imam dalam Membangun Manusia

September 30, 2026

Di Hadapan Uskup Atambua, Umat Stasi Markus Efudini Memohon Status Paroki

September 30, 2026

Syukur 34 Tahun Imamat, Uskup Atambua Tekankan Kesetiaan dan Kepedulian

September 30, 2026

Uskup Atambua Pimpin Misa Syukur Imamat ke-34 di Stasi Markus Efudini

September 30, 2026

Meriahkan Bulan Kitab Suci Nasional 2026 Pastor Paroki Katedral Atambua bersama Dewan Pengurus Pastoral adakan lomba Kitab Suci

September 29, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

BERITA TERBARU

Malaikat-Ku akan Berjalan di Depanmu

Sponsor: Pusat Pastoral Keuskupan AtambuaOctober 2, 2026

Berjalan dalam Tuntunan Spiritualitas Bunda Maria di Bulan Oktober sebagai Bulan Rosario

October 1, 2026

Tutup BKSN, Deken Belu Utara Tegaskan BKSN Ditutup tetapi Kitab Suci Harus Terbuka Terus Sepanjang Hayat

October 1, 2026

Jadilah yang Besar di Mata Tuhan

Sponsor: Pusat Pastoral Keuskupan AtambuaOctober 1, 2026

Komsos Keuskupan Atambua Beri Pelatihan Menulis Berita di Paroki Hanemasin

September 30, 2026

Wakil Bupati Malaka Apresiasi Pengabdian Imam dalam Membangun Manusia

September 30, 2026
KALENDER LITURGI

Tentang Kami
Tentang Kami

Keuskupanatambua.org merupakan website resmi Keuskupan Atambua yang menyajikan update informasi seputar Keuskupan Atambua dan paroki-paroki di wilayah keuskupan tersebut.

Alamat

Alamat:
Jl. Nela Raya No. 17, Lalian Tolu, Atambua 85702, Timor – Nusa Tenggara Timur.

Media Sosial
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • TikTok
© 2026 Keuskupanatambua.org. Designed by Tim Keuskupan Atambua.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?