Close Menu
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Uskup Siprianus Hormat: Imam Bukan Dipanggil Menjadi Pusat, tetapi Menunjukkan Umat kepada Kristus
  • Rasul Digital Tak Boleh Berhenti di Layar ; Kesaksian Romo Joseph di Hadapan Peserta Munas XV Unindo 
  • Romo Agung Nugroho: Imam Influencer Bukan Mewartakan Diri, tetapi Kristus
  • Pentingnya Keadilan Representasi di Tengah Otoritas Simbolik Kamera dan Publikasi
  • Integritas Komunikasi dan Keterampilan Jurnalistik dalam Dunia Dokumentasi dan Publikasi
  • Demokratisasi Digital Memberi Keadilan dalam Ruang tetapi Menafikan Kesadaran Personal dalam Publikasi
  • Kecerdasan Manusiawi dan Kecerdasan Buatan menurut Ensiklik Magnifica Humanitas oleh Paus Leo XIV
  • Ribuan Umat Paroki Seon Sambut Kedatangan Sr. Maria Alfonsa SJMJ dalam Rangka Misa Syukur Kaul Kekal
Facebook Instagram
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Login
Keuskupanatambua.orgKeuskupanatambua.org
Home»Berita»Romo Agung Nugroho: Imam Influencer Bukan Mewartakan Diri, tetapi Kristus
Berita

Romo Agung Nugroho: Imam Influencer Bukan Mewartakan Diri, tetapi Kristus

Komsos Keuskupan AtambuaBy Komsos Keuskupan AtambuaSeptember 15, 2026No Comments23 Views
Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Reddit Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

PEMATANGSIANTAR — KeuskupanAtambua.org –  Kehadiran imam di media sosial tidak semestinya diukur dari seberapa besar perhatian publik yang berhasil dikumpulkan. Di tengah budaya digital yang bergerak mengikuti algoritma dan ekonomi perhatian, imam justru ditantang menjadi influencer hidup beriman yang membawa umat semakin dekat kepada Tuhan.

Hal itu menjadi salah satu penekanan Rm. Agung Nugroho, Pr, Sekretaris Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI), ketika memberikan materi dalam rangkaian Musyawarah Nasional XV Unio Indonesia (Munas XV Unindo) di Catholic Center–Pusat Pembinaan Umat, Pematangsiantar, Keuskupan Agung Medan, Senin (15/9/2026).

Mengangkat tema “Imam Diosesan sebagai Influencer Hidup Beriman bagi Umat”, Romo Agung mengajak para imam melihat kembali makna pengaruh dalam terang iman Kristiani.

Menjadi influencer, menurut dia, bukan pertama-tama menjadi orang yang berhasil mengumpulkan perhatian dalam logika attention economy. Pengaruh seorang imam harus lahir dari kedalaman iman dan kemampuannya menghadirkan Kristus di tengah kehidupan manusia.

Refleksi tersebut ditempatkan Romo Agung dalam terang ensiklik pertama Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, yang berbicara mengenai perlindungan pribadi manusia di tengah perkembangan kecerdasan buatan.

Bagi para imam, ensiklik tersebut merupakan panggilan untuk menghadirkan Kristus di tengah perubahan zaman dengan cara yang tetap manusiawi.

Teknologi berkembang dengan kemampuan yang semakin besar. Kecerdasan buatan dapat membantu pekerjaan manusia, mempercepat pengolahan informasi, dan membuka kemungkinan baru dalam karya pastoral. Namun, manusia tidak boleh direduksi hanya menjadi objek data ataupun sekadar hasil keputusan algoritmik.

Teknologi, kata Romo Agung, tidak dapat menggantikan manusia beserta martabatnya.

Karena itu, Kristus harus tetap menjadi pusat. Teknologi boleh digunakan, bahkan dapat sangat membantu pelayanan, tetapi teknologi harus ditempatkan sebagai sarana bagi manusia, bukan kekuatan yang menentukan seluruh nilai manusia.

Dalam konteks kehidupan Gereja, Romo Agung juga menekankan bahwa imam dipanggil untuk membangun communio, bukan menjadi pemelihara kepentingan kelompok ataupun sumber polarisasi.

Kehadiran seorang imam, termasuk di media sosial, harus membantu orang saling mendekat, bukan semakin terpisah oleh perbedaan pilihan, preferensi, atau kelompok.

Konsekuensinya, imam mempunyai tanggung jawab untuk mendidik umat dalam kebenaran dan kebijaksanaan. Kecerdasan buatan dapat dipakai dalam proses itu, tetapi penggunaannya harus selalu disertai kemampuan membedakan, memeriksa, dan mempertanggungjawabkan informasi.

Romo Agung kemudian mengajak peserta membalik cara memahami kata influencer.

Dalam kultur digital, influencer sering kali diasosiasikan dengan seseorang yang mampu mengumpulkan perhatian, pengikut, likes, dan tingkat keterlibatan tinggi. Namun, pengaruh dalam perspektif iman tidak ditentukan oleh metrik tersebut. Iman harus tetap menjadi akar untuk membangun relasi.

Dengan merujuk pada pemikiran Paus Leo XIV, Romo Agung menekankan bahwa pengaruh sejati tidak lahir dari algoritma. Pengaruh yang otentik lahir dari kehidupan yang mampu menyentuh kehidupan orang lain.

Di sinilah kehadiran nyata menjadi penting untuk melawan kecenderungan simulasi digital.

Romo Agung menghubungkan gagasan itu dengan Pesan Paus Leo XIV untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60, yang mengangkat tema menjaga suara dan wajah manusia.

Dalam dunia yang dipenuhi kecerdasan buatan, manusia bahkan semakin sering diperhadapkan pada pertanyaan mengenai siapa yang sebenarnya sedang berada di balik sebuah percakapan digital: manusia sungguhan, bot, atau figur virtual.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa tantangan komunikasi bukan semata-mata persoalan kecanggihan perangkat, tetapi persoalan mengenai kemanusiaan.

Karena itu, imam harus menjaga komunikasi sebagai perjumpaan antarmanusia. Teknologi harus membantu relasi, bukan mensimulasikan relasi hingga manusia kehilangan kepekaan terhadap kehadiran konkret sesamanya.

Pesan itu sekaligus menjadi kritik terhadap cara kerja media sosial yang sering mengejar kuantitas publikasi.

Romo Agung mengingatkan pentingnya memperhatikan substansi sebuah konten.

Ia merumuskannya dengan ungkapan sederhana tetapi tajam: jangan hanya berpikir “yang penting posting”, tetapi “postinglah yang penting-penting”.

Pembedaan itu menjadi penting karena dunia digital mendorong orang untuk terus memproduksi dan membagikan sesuatu. Akibatnya, aktivitas publikasi dapat berubah menjadi tujuan dalam dirinya sendiri.

Bagi seorang imam, kecenderungan tersebut perlu selalu diuji dengan pertanyaan mengenai orientasi pewartaan.

“Kita bukan mewartakan diri, tetapi mewartakan Kristus,” menjadi penegasan penting dalam sesi tersebut.

Karena itu, Injil harus menjadi titik utama. Media sosial hanyalah salah satu ruang perutusan. Popularitas bukan tujuan dan algoritma bukan ukuran terakhir keberhasilan kerasulan.

Dalam konteks tersebut, seorang imam sebagai influencer hidup beriman bukanlah imam yang paling sering terlihat di layar, melainkan imam yang melalui kehadirannya mampu membuat Kristus semakin terlihat.

Sesi ini berlangsung di hadapan para imam peserta Munas XV Unindo serta sejumlah uskup yang mengikuti rangkaian kegiatan, yakni Uskup Malang Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm.; Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko; Uskup Agung Palembang Mgr. Yohanes Harun Yuwono; dan Uskup Padang Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX.

Pemikiran yang ditawarkan Romo Agung akhirnya menggeser pertanyaan tentang kerasulan digital dari persoalan popularitas menuju persoalan kesaksian.

Bukan berapa banyak orang yang melihat seorang imam, melainkan siapa yang mereka lihat melalui kehidupan imam tersebut.

Jika Kristus tetap menjadi pusat, teknologi dapat menjadi sarana pewartaan yang kuat. Namun, apabila perhatian beralih hanya kepada diri, angka, dan algoritma, ruang digital dapat dengan mudah menjauhkan pewarta dari tujuan perutusannya sendiri.

Di tengah zaman kecerdasan buatan, tugas itu semakin mendesak: menjaga wajah manusia, menjaga suara manusia, membangun communio, serta memastikan bahwa di balik setiap teknologi, martabat manusia tetap dihormati dan Injil tetap menjadi pusat pewartaan.

oleh Yudel Neno, Pr

Share. Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BERITA TERKAIT

Uskup Siprianus Hormat: Imam Bukan Dipanggil Menjadi Pusat, tetapi Menunjukkan Umat kepada Kristus

September 16, 2026

Rasul Digital Tak Boleh Berhenti di Layar ; Kesaksian Romo Joseph di Hadapan Peserta Munas XV Unindo 

September 15, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

BERITA TERBARU

Uskup Siprianus Hormat: Imam Bukan Dipanggil Menjadi Pusat, tetapi Menunjukkan Umat kepada Kristus

September 16, 2026

Rasul Digital Tak Boleh Berhenti di Layar ; Kesaksian Romo Joseph di Hadapan Peserta Munas XV Unindo 

September 15, 2026

Romo Agung Nugroho: Imam Influencer Bukan Mewartakan Diri, tetapi Kristus

September 15, 2026

Pentingnya Keadilan Representasi di Tengah Otoritas Simbolik Kamera dan Publikasi

September 11, 2026

Integritas Komunikasi dan Keterampilan Jurnalistik dalam Dunia Dokumentasi dan Publikasi

September 11, 2026

Demokratisasi Digital Memberi Keadilan dalam Ruang tetapi Menafikan Kesadaran Personal dalam Publikasi

September 10, 2026
KALENDER LITURGI

Tentang Kami
Tentang Kami

Keuskupanatambua.org merupakan website resmi Keuskupan Atambua yang menyajikan update informasi seputar Keuskupan Atambua dan paroki-paroki di wilayah keuskupan tersebut.

Alamat

Alamat:
Jl. Nela Raya No. 17, Lalian Tolu, Atambua 85702, Timor – Nusa Tenggara Timur.

Media Sosial
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • TikTok
© 2026 Keuskupanatambua.org. Designed by Tim Keuskupan Atambua.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?