Close Menu
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Uskup Siprianus Hormat: Imam Bukan Dipanggil Menjadi Pusat, tetapi Menunjukkan Umat kepada Kristus
  • Rasul Digital Tak Boleh Berhenti di Layar ; Kesaksian Romo Joseph di Hadapan Peserta Munas XV Unindo 
  • Romo Agung Nugroho: Imam Influencer Bukan Mewartakan Diri, tetapi Kristus
  • Pentingnya Keadilan Representasi di Tengah Otoritas Simbolik Kamera dan Publikasi
  • Integritas Komunikasi dan Keterampilan Jurnalistik dalam Dunia Dokumentasi dan Publikasi
  • Demokratisasi Digital Memberi Keadilan dalam Ruang tetapi Menafikan Kesadaran Personal dalam Publikasi
  • Kecerdasan Manusiawi dan Kecerdasan Buatan menurut Ensiklik Magnifica Humanitas oleh Paus Leo XIV
  • Ribuan Umat Paroki Seon Sambut Kedatangan Sr. Maria Alfonsa SJMJ dalam Rangka Misa Syukur Kaul Kekal
Facebook Instagram
  • Home
  • KEUSKUPAN
  • PUSPAS
  • DEKENAT
  • PAROKI
  • RENUNGAN
  • PENGUMUMAN
  • DOKUMEN GEREJA
Login
Keuskupanatambua.orgKeuskupanatambua.org
Home»Berita»Uskup Siprianus Hormat: Imam Bukan Dipanggil Menjadi Pusat, tetapi Menunjukkan Umat kepada Kristus
Berita

Uskup Siprianus Hormat: Imam Bukan Dipanggil Menjadi Pusat, tetapi Menunjukkan Umat kepada Kristus

Komsos Keuskupan AtambuaBy Komsos Keuskupan AtambuaSeptember 16, 2026No Comments3 Views
Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Reddit Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

PEMATANGSIANTAR – KeuskupanAtambua.org – Uskup Ruteng sekaligus Pembina Unio Indonesia Mgr. Siprianus Hormat mengingatkan bahwa imam tidak dipanggil untuk menjadikan dirinya pusat perhatian, termasuk dalam dunia digital. Tugas imam adalah menolong umat mengarahkan pandangan kepada Kristus.

Pesan tersebut disampaikan Mgr. Siprianus dalam homili Perayaan Ekaristi pembukaan Musyawarah Nasional XV Unio Indonesia di Catholic Center–Pusat Pembinaan Umat Keuskupan Agung Medan, Pematangsiantar, Senin (14/9/2026).

Mengawali homilinya, Mgr Siprianus mengajak para imam kembali pada kisah bangsa Israel di padang gurun.

Bangsa Israel mengalami perjalanan panjang dan melelahkan. Mereka bersungut-sungut hingga kemudian ular-ular berbisa memagut mereka.

Ketika bangsa itu mengakui kesalahannya, Tuhan menyuruh Musa membuat ular tembaga dan meninggikannya pada sebuah tiang. Mereka yang memandang ular tersebut tetap hidup.

Menurut Uskup Siprianus, ada satu hal penting yang mudah dilewatkan dari kisah tersebut. Orang-orang yang terluka tidak mampu menyembuhkan dirinya sendiri. Mereka tidak dapat mengeluarkan racun dari tubuh mereka. Yang dapat dilakukan hanya satu: mengangkat kepala dan memandang tanda keselamatan yang ditinggikan.

Gambaran tersebut kemudian digunakan Yesus dalam Injil ketika mengatakan bahwa sebagaimana Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian pula Anak Manusia harus ditinggikan.

Bagi Mgr. Siprianus, gambaran itu menjadi pintu masuk untuk membaca kehidupan para imam yang datang ke Munas XV dari berbagai wilayah Indonesia.

Para imam hadir dengan usia tahbisan, pengalaman, dan medan pelayanan yang berbeda. Ada yang berkarya di kota-kota besar. Ada yang harus menempuh perjalanan jauh menuju kampung-kampung. Ada yang bekerja di paroki, seminari, kuria, rumah sakit, atau bentuk pelayanan lain yang tidak selalu terlihat publik.

Mgr. Sipri juga mengingatkan bahwa imam juga dapat terluka. Menurutnya; kehidupan imam mempunyai banyak alasan untuk disyukuri. Ada sukacita ketika membaptis seorang anak, mendampingi orang sakit, menyaksikan seseorang kembali kepada Gereja, atau merasakan persahabatan antarimam yang saling menguatkan. Pengalaman-pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pelayanan bukan semata-mata karya seorang imam, melainkan karya Tuhan.

Namun, menjadi imam tidak membuat seseorang kebal terhadap luka.

“Ada imam yang dikecewakan umatnya. Ada yang terluka oleh sesama imam. Ada yang merasa kurang dimengerti oleh pimpinannya. Ada yang bekerja keras tetapi tidak pernah merasa dihargai,” demikian pokok refleksinya.

Ada pula imam yang bergumul dengan kegagalan yang mungkin hanya diketahui oleh dirinya sendiri dan Tuhan.

Menurut Mgr Siprianus, “racun” dalam kehidupan imam tidak selalu hadir melalui persoalan besar. Justru yang lebih berbahaya dapat masuk perlahan-lahan berupa sinisme terhadap umat, kekecewaan yang dipelihara, iri hati terhadap keberhasilan saudara imam, hilangnya kegembiraan dalam pelayanan, hingga pelayanan yang berubah menjadi rutinitas. Racun semacam itu tidak membuat seorang imam jatuh seketika. Namun perlahan-lahan ia mengubah cara imam melihat umat, sesama imam, Gereja, bahkan panggilannya sendiri.

Karena itu, kata Mgr Siprianus, persoalan terbesar bukanlah kenyataan bahwa seorang imam pernah terluka. Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Ke mana kita mengarahkan pandangan ketika kita terluka?”

Seseorang dapat bertahun-tahun hidup dari satu kekecewaan kepada kekecewaan lain. Ia dapat terus memandang kegagalan sampai lupa bahwa hidupnya jauh lebih besar daripada kegagalan tersebut. “Apa yang terus-menerus kita pandang akhirnya menguasai batin kita,” demikian inti refleksi Mgr Siprianus.

Era digital adalah perebutan cara pandang. Refleksi tersebut kemudian dibawa ke tema utama Munas XV, “Imam Diosesan: Menjadi Rasul Spiritualitas di Era Digital.” Menurut Mgr Siprianus, era digital tidak cukup dipahami sebagai pertanyaan apakah imam perlu mengenal media sosial atau kecerdasan buatan.

Era digital, katanya, adalah era perebutan cara pandang. Notifikasi, iklan, berita, dan video berlomba meminta mata manusia untuk melihat.

Algoritma belajar dari kebiasaan seseorang: apa yang dilihat, apa yang disukai, dan apa yang membuat orang bertahan semakin lama di depan layar.

Seseorang dapat membuka telepon genggam hanya untuk membaca satu pesan, tetapi beberapa menit kemudian telah berpindah kepada berbagai hal yang sama sekali tidak direncanakan.

Menurut Mgr Siprianus, dunia digital memahami sesuatu yang sebenarnya sejak lama diketahui tradisi rohani:

Apa yang terus-menerus kita pandang akan membentuk diri kita. Karena itu, pertanyaan rohani bukan hanya apakah Gereja menggunakan teknologi.

Pertanyaan lebih mendalam ialah: apa yang sedang membentuk pandangan kita dalam dunia digital?

Bagi para imam, pertanyaan tersebut bahkan menjadi lebih tajam: ke mana para imam mengarahkan pandangan umat? Bukan sekadar “influencer religius”

Mgr. Siprianus mengatakan seorang imam dapat mempunyai akun media sosial yang aktif, menghasilkan banyak konten, memiliki banyak pengikut, bahkan dikenal secara luas. Semua hal tersebut tidak otomatis salah.

Namun banyaknya pengikut juga tidak otomatis menunjukkan bahwa orang menjadi semakin dekat dengan Kristus.

“Dalam hidup imamat, kita tidak pertama-tama dipanggil menjadi influencer religius. Kita dipanggil menjadi penunjuk arah pandang bagi umat,” ujarnya.

Seperti Musa meninggikan tanda keselamatan di padang gurun, seorang imam hadir untuk membantu manusia yang terluka mengangkat kepalanya dan memandang Sang Sumber Keselamatan.

Namun, Mgr Siprianus kemudian mengajukan pertanyaan reflektif lain: bagaimana seorang imam dapat menunjukkan Kristus apabila matanya sendiri tidak lagi tertuju kepada Kristus?

Seorang imam dapat berbicara mengenai Yesus setiap hari tetapi perlahan berhenti memandang-Nya dalam hidup rohani.

Seorang imam dapat berkhotbah mengenai doa sementara kehidupan doanya sendiri mengering.

Ia dapat meminta umat percaya kepada penyelenggaraan Tuhan sementara dirinya semakin bergantung pada strategi, jaringan, jabatan, atau citra diri.

Karena itulah, sebelum menjadi rasul spiritualitas, imam harus menjadi manusia yang mempunyai pusat rohani.

Pusat tersebut bukan keberhasilan, popularitas, atau jabatan. Pusat itu adalah Kristus.

Mgr. Siprianus selanjutnya mengangkat bacaan kedua tentang Kristus yang mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai mati di salib. Hal ini disebut sebagai Paradoks jalan Kristus. Di titik itu, katanya, terlihat paradoks besar Kekristenan.

Dunia mengatakan jika ingin menjadi besar, seseorang harus naik, tampil, dan menunjukkan diri. Kristus justru menunjukkan jalan berbeda: jika ingin menjadi besar, turunlah dan berikanlah diri.

Dunia mengajarkan bagaimana seseorang semakin terlihat. Kristus mengajarkan bagaimana seseorang mengosongkan diri supaya Allah semakin terlihat.

Paradoks tersebut menjadi tantangan khusus bagi imam di era digital. Teknologi memberikan peluang besar untuk pewartaan dan harus digunakan secara cerdas.

Namun setiap sarana membawa godaannya sendiri. “Kita dapat memulai dengan keinginan supaya Injil semakin dikenal, tetapi tanpa sadar lebih gelisah ketika jumlah penonton menurun daripada ketika kehidupan doa kita menurun,” demikian salah satu penekanan Mgr Siprianus.

Semakin besar ruang yang dipercayakan kepada seorang imam, katanya, semakin besar kebutuhannya untuk mengosongkan diri.

Semakin banyak orang mendengar seorang imam, semakin penting memastikan bahwa pada akhirnya mereka mendengar Kristus melalui dirinya.

Karena tugas imam bukan membuat umat berhenti pada dirinya. Tugas imam adalah mengatakan melalui seluruh hidupnya:

“Jangan berhenti pada saya. Pandanglah Dia.”

Mgr. Siprianus kemudian menggunakan peristiwa Golgota sebagai koreksi terhadap ukuran keberhasilan. Ia mengatakan tentang Golgota tanpa statistik. Di Golgota tidak ada tepuk tangan. Tidak ada statistik keberhasilan. Tidak ada citra diri yang sedang dibangun. Yang ada adalah Putra yang menyerahkan diri sepenuhnya demi keselamatan dunia.

Bagi mata dunia, salib adalah kekalahan. Namun Injil justru melihatnya sebagai saat Anak Manusia ditinggikan.

Karena itu, ukuran kemuliaan seorang imam bukan berapa banyak orang melihatnya, tetapi seberapa jauh hidupnya menjadi pemberian bagi sesama.

Imam menjadi penting bukan ketika namanya menjadi besar, tetapi ketika melalui hidupnya orang semakin dekat kepada Tuhan.

Ketika seorang imam masih bersedia mendengarkan sekalipun lelah, di situlah kesaksian.

Ketika orang miskin tetap diperlakukan secara terhormat sekalipun tidak dapat memberi apa-apa, di situlah kesaksian.

Ketika seorang imam tetap mengunjungi orang sakit walaupun tidak ada yang memotret kunjungannya, di situlah kesaksian.

Demikian pula ketika seorang imam sanggup meminta maaf, menerima koreksi, dan ikut bergembira melihat saudara imamnya melakukan sesuatu dengan baik.

Di bagian akhir homili, Mgr Siprianus mengajukan tiga kata yang diharapkan menyemangati perjalanan Munas XV: bersaudara, bersinergi, dan bersaksi.

Pertama, bersaudara. Seorang imam tidak seharusnya berusaha menyembuhkan luka pelayanannya seorang diri.

Imam membutuhkan saudara yang dapat menjadi tempat berbicara tanpa rasa takut, berani menegur ketika hidup mulai salah arah, dan tetap datang bukan hanya ketika semuanya berhasil, tetapi ketika saudaranya jatuh dan terluka.

Salah satu cara Tuhan menyembuhkan seorang imam, katanya, adalah melalui saudara imamnya sendiri.

Kedua, bersinergi. Tantangan zaman terlalu besar untuk dihadapi secara sendiri-sendiri.

Masalah keluarga, migrasi, kemiskinan, kesehatan mental, kecanduan digital, kecerdasan buatan, hingga perubahan cara generasi muda memahami iman telah melampaui batas-batas paroki dan keuskupan.

Karena itu, imam perlu berjalan dan bekerja bersama.

Ketiga, bersaksi. Dunia, kata Mgr Siprianus, tidak pertama-tama menunggu penjelasan mengenai kebenaran.

Dunia ingin melihat apakah kebenaran itu sungguh hadir dalam kehidupan orang yang mewartakannya.

Umat akan sulit percaya pada khotbah tentang persaudaraan ketika melihat imam saling menjatuhkan.

Mereka juga akan sulit percaya pada belas kasih Allah apabila pengalaman bersama pelayan Gereja justru membuat mereka merasa dihakimi.

Mgr Siprianus berharap para peserta tidak pulang dari Munas hanya membawa lebih banyak gagasan.

Ia berharap pandangan para imam kembali diarahkan kepada Kristus.

Menurut dia, pembaruan imamat tidak selalu bermula dari program baru.

Kadang-kadang pembaruan dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: seorang imam kembali memandang Kristus.

Kristus dipandang dalam Ekaristi yang dirayakan, dalam Sabda yang direnungkan, dalam umat yang dilayani, serta dalam saudara imam yang berjalan bersama.

Di tengah dunia yang terus berteriak, “Lihatlah aku”—melalui iklan, media sosial, algoritma, bahkan ego manusia sendiri—imam dipanggil berdiri dengan tenang dan menunjuk kepada Kristus.

Mgr. Siprianus menutup homilinya dengan mengajak para imam mengangkat kepala dan kembali memandang Kristus.

Sebab imam yang terus memandang Kristus, katanya, akan menemukan suatu kebebasan yang indah:

Ia tidak harus menjadi pusat, karena ia tahu siapa yang seharusnya berada di pusat.

oleh Yudel Neno, Pr

Share. Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Tumblr Email

BERITA TERKAIT

Rasul Digital Tak Boleh Berhenti di Layar ; Kesaksian Romo Joseph di Hadapan Peserta Munas XV Unindo 

September 15, 2026

Romo Agung Nugroho: Imam Influencer Bukan Mewartakan Diri, tetapi Kristus

September 15, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

BERITA TERBARU

Uskup Siprianus Hormat: Imam Bukan Dipanggil Menjadi Pusat, tetapi Menunjukkan Umat kepada Kristus

September 16, 2026

Rasul Digital Tak Boleh Berhenti di Layar ; Kesaksian Romo Joseph di Hadapan Peserta Munas XV Unindo 

September 15, 2026

Romo Agung Nugroho: Imam Influencer Bukan Mewartakan Diri, tetapi Kristus

September 15, 2026

Pentingnya Keadilan Representasi di Tengah Otoritas Simbolik Kamera dan Publikasi

September 11, 2026

Integritas Komunikasi dan Keterampilan Jurnalistik dalam Dunia Dokumentasi dan Publikasi

September 11, 2026

Demokratisasi Digital Memberi Keadilan dalam Ruang tetapi Menafikan Kesadaran Personal dalam Publikasi

September 10, 2026
KALENDER LITURGI

Tentang Kami
Tentang Kami

Keuskupanatambua.org merupakan website resmi Keuskupan Atambua yang menyajikan update informasi seputar Keuskupan Atambua dan paroki-paroki di wilayah keuskupan tersebut.

Alamat

Alamat:
Jl. Nela Raya No. 17, Lalian Tolu, Atambua 85702, Timor – Nusa Tenggara Timur.

Media Sosial
  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • TikTok
© 2026 Keuskupanatambua.org. Designed by Tim Keuskupan Atambua.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?