
PEMATANGSIANTAR — KeuskupanAtambua.org – Menjadi dikenal di ruang digital belum dengan sendirinya menjadikan seseorang sebagai pewarta. Kerasulan digital justru memperoleh maknanya ketika apa yang disampaikan melalui layar berakar pada spiritualitas, memiliki bobot pengajaran, dan akhirnya menjelma menjadi tindakan belas kasih yang nyata.

Gagasan itu menjadi salah satu pokok yang disampaikan Rm. Joseph Susanto, imam yang aktif dalam pelayanan digital melalui YouTube, saat berbicara di hadapan para uskup dan imam peserta Musyawarah Nasional XV Unio Indonesia (Munas XV Unindo) di Catholic Center–Pusat Pembinaan Umat, Pematangsiantar, Keuskupan Agung Medan, Senin (15/9/2026).

Dalam pemaparannya, Romo Joseph menempatkan Kitab Suci sebagai akar dari kerasulan digital. Menurut dia, seorang influencer Katolik tidak boleh berhenti pada kemampuan menghasilkan konten, mengumpulkan penonton, atau membangun popularitas.
Kehadirannya di ruang digital harus bergerak dalam suatu siklus yang utuh. Romo Joseph menyebutnya sebagai “Tiga Pilar Inkarnasi Digital”, yakni spiritualitas sebagai akar, pengajaran sebagai suara, dan belas kasih nyata sebagai tangan.
Spiritualitas menjadi sumber yang memberi kedalaman terhadap kehadiran seseorang di media digital. Pengajaran membuat kehadiran itu mempunyai isi dan arah. Namun keduanya belum lengkap apabila tidak berujung pada tindakan konkret bagi sesama.
Dengan demikian, dunia digital tidak dipandang sebagai ruang yang terpisah dari kehidupan nyata. Apa yang diwartakan melalui layar justru harus menemukan bentuknya dalam perjumpaan antarmanusia.
Bagi Romo Joseph, kerasulan digital yang lahir dari kedalaman spiritualitas juga mampu membuka ruang persaudaraan yang melampaui batas agama dan kelompok.
Ketika media digital dipakai untuk menghadirkan kebaikan, kekuatannya dapat menjangkau orang dalam jumlah yang tidak sedikit. Ruang digital, menurut dia, sedang menantikan lebih banyak orang yang bersedia mengisinya dengan kebaikan.
Ia kemudian memberi kesaksian mengenai orang-orang muda yang mencintai Firman Tuhan dan terlibat dalam pelayanan melalui media digital. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pewartaan digital dapat menghasilkan umpan balik yang kemudian menggerakkan orang menuju pelayanan nyata.
Di titik itu, menurut Romo Joseph, kasih tidak lagi hanya menjadi kata-kata.
Ia menceritakan pengalaman pelayanan kepada orang-orang yang mengalami sakit serius tetapi mempunyai keterbatasan akses finansial maupun relasi untuk memperoleh pertolongan. Dari pengalaman itu, kasih ditemukan bukan semata-mata di dalam unggahan, tetapi dalam kesediaan mendampingi manusia yang konkret.
Kasih, katanya, dapat dibaca melalui pengorbanan seseorang kepada orang yang dicintainya, seperti pengorbanan seorang bapak bagi anaknya. Karena itu, ruang digital semestinya menjadi pintu menuju perjumpaan, bukan pengganti perjumpaan.
Namun, keterlibatan yang semakin luas di media sosial juga membawa konsekuensi. Salah satu tantangan ketika seseorang semakin dikenal adalah hilangnya sebagian ruang privasi. Popularitas membuat batas antara kehidupan publik dan kehidupan pribadi semakin tipis.
Dalam era keterbukaan seperti sekarang, Romo Joseph juga mengingatkan bahaya memaksakan tafsiran tunggal terhadap realitas yang kompleks.
Keterbukaan informasi menuntut orang memiliki kedalaman berpikir, keluasan perspektif, dan kebijaksanaan dalam berbicara. Karena itu, bagi dia, salah satu modal penting dalam pelayanan digital adalah konsistensi.
“Konsistensi adalah kunci,” menjadi salah satu penekanan dalam pemaparannya.
Romo Joseph juga melontarkan kritik reflektif terhadap kecenderungan sebagian imam dan biarawan-biarawati di media sosial yang lebih banyak menampilkan konten hiburan, termasuk konten joget.
Ia menegaskan bahwa aktivitas semacam itu tidak dengan sendirinya salah atau dilarang. Namun, menurut dia, muncul pertanyaan yang lebih mendasar tentang identitas dan kompetensi seorang pelayan Gereja di ruang publik digital.
Jika seorang imam atau biarawan-biarawati dapat tampil begitu luwes dalam konten hiburan, kata dia, semestinya keluwesan yang sama juga tampak ketika berbicara mengenai Kitab Suci, teologi, filsafat, dan kekayaan iman Gereja.
Kritik itu bukan terutama mengenai bentuk konten, melainkan mengenai kedalaman substansi yang menyertainya. Media sosial tidak boleh membuat identitas seorang pewarta kehilangan akarnya hanya demi menyesuaikan diri dengan tren.
Karena itu, kerasulan digital tidak cukup diukur dari jumlah pengikut, tayangan, komentar, atau tingkat keterlibatan pengguna. Ukuran yang lebih penting adalah apakah kehadiran digital tersebut sungguh membantu orang mengenal kebenaran, mengalami persaudaraan, dan terdorong melakukan kebaikan.
Sesi tersebut diikuti para imam peserta Munas XV Unindo bersama para uskup yang hadir dalam rangkaian kegiatan hari itu, yakni Uskup Malang Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm.; Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko; Uskup Agung Palembang Mgr. Yohanes Harun Yuwono; serta Uskup Padang Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX.
Pada akhirnya, gagasan “Tiga Pilar Inkarnasi Digital” yang ditawarkan Romo Joseph membawa kerasulan digital kembali pada pertanyaan sederhana: setelah layar dimatikan, apa yang tersisa?
Bila spiritualitas benar-benar menjadi akar dan pengajaran menjadi suara, kerasulan digital seharusnya menghasilkan tangan yang bersedia menjangkau orang lain.
Sebab, pewartaan iman Kristiani tidak berhenti ketika konten telah dipublikasikan. Pewartaan justru menemukan kepenuhannya ketika Sabda yang disampaikan melalui layar menjelma menjadi kasih dalam kehidupan nyata.
Oleh Yudel Neno, Pr
