
Mena, Senin, 23 Februari 2026 – KeuskupanAtambua.org – Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr dalam sesi dialog bersama para romo, suster, utusan tokoh pemerintah, agama, masyarakat dan adat, menegaskan pentingnya membangun ekonomi berbasis produktif dan pendidikan berbasis kolaboratif. Dialog yang berlangsung di Aula Dekenat Mena setelah sesi renungan mimbar ini dimoderatori oleh Christian Kali, dan menjadi ruang refleksi kritis atas kondisi sosial, ekonomi, pendidikan, dan budaya umat dewasa ini.

Dalam penegasannya, Uskup Atambua mengangkat dua istilah yang tengah ramai diperbincangkan, yakni “serakahnomics” dan “prabowonomics.” Ia menyampaikan catatan kritis terhadap visi besar yang mendunia tetapi sering kali tidak berbanding lurus dengan realitas rakyat yang masih menderita.

Menurutnya, kebijakan negara kerap menggunakan instrumen ekonomi untuk tujuan yang tidak ekonomis. Sarana ekonomi dipakai untuk perilaku yang justru menjauh dari produktivitas. Dalam konteks umat, ia menyoroti mentalitas yang menjadikan sumber ekonomi sebagai alat konsumtif, sebuah gejala yang ia sebut sebagai “economic outlook” yang keliru arah.
Uskup juga mengingatkan bahwa dalam situasi ekonomi yang rapuh, masyarakat dipanggil untuk memberdayakan diri.

Ketergantungan pada bantuan sosial yang berlebihan dinilainya dapat mematikan daya juang dan etos kerja. Ia bahkan menyebut adanya “proses kematian” di tengah umat ketika bansos membuat orang enggan bekerja dan kehilangan semangat mandiri. Karena itu, ekonomi harus berkedaulatan di atas kaki sendiri.

Sebagai horizon harapan, Uskup mengajak umat belajar dari negara-negara maju seperti Jepang, Cina, Israel, dan Finlandia yang mengerahkan sumber daya secara serius dan membangun kemitraan produktif. Kemandirian dan kolaborasi menjadi kunci kemajuan.

Sorotan tajam juga diarahkan pada dunia pendidikan. Uskup mengkritik praktik pembohongan dan pembodohan melalui pemberian nilai yang tidak mencerminkan potensi riil peserta didik. Pendidikan yang kehilangan integritas, menurutnya, akan memproduksi “kehilangan generasi.” Ia menyampaikan keprihatinan terhadap generasi Alfa yang terjebak mentalitas instan akibat kemudahan digital. Instantisme dan budaya mager (malas gerak) dinilainya sebagai racun generatif yang menggerogoti masa depan.
Uskup menyerukan kolaborasi antara sekolah, masyarakat, pemerintah, dan seluruh stakeholder untuk memerangi problem ekonomi dan pendidikan. Tanpa kerja sama lintas sektor, krisis multidimensi akan terus berulang.
Dalam bidang kebudayaan, Uskup memberi sorotan kritis terhadap praktik budaya yang dinilai kurang produktif, termasuk kebiasaan sirih pinang yang ia sebut berakar dari budaya Cina, serta kebiasaan kumpul keluarga dan pesta yang sering berujung pada beban ekonomi. Ia mengkritik euforia yang menghabiskan sumber daya tanpa nilai produktif, dan menyebut fenomena “STEL” – Selera Tinggi Ekonomi Lemah – sebagai gambaran gengsi sosial yang tidak sehat.
Sajian materi Bapak Uskup Dominikus kemudian diperdalam dalam sesi tanya jawab. Rm. Yoris Giri, Pr menyampaikan keresahan tentang dinamika hidup OMK dan mempertanyakan perlunya pembatasan penggunaan gadget bagi generasi muda. Menanggapi hal itu, Uskup menegaskan pentingnya studi banding, khususnya belajar dari Finlandia dan Singapura yang menerapkan regulasi ketat penggunaan gawai bagi anak di bawah usia 18 tahun. Ia mengutip pemikiran Immanuel Kant bahwa kebebasan tanpa batas berpotensi melahirkan anarkisme, sebab kebebasan yang tidak dituntun oleh akal budi akan menyeret manusia hidup di luar nalar dan tanggung jawab moral.

Ibu Getrudis, Kepala SMPN 2 Bisel, menanyakan bagaimana mengimplementasikan karakteristik Hamba Allah dalam praksis pendidikan. Uskup menjawab dengan menegaskan urgensi pendidikan karakter berbasis integral human development, yakni pembangunan manusia secara utuh dan seimbang. Karakter, menurutnya, dibentuk melalui pengembangan kecerdasan manusiawi dan kecerdasan iman yang meliputi EQ (Emotional Quotient), SQ (Spiritual Quotient), PQ (Physical Quotient), dan Intelligence Quetient (IQ). Ia mengingatkan bahwa kemarahan yang terus-menerus dapat merusak fungsi otak dan menghambat pertumbuhan kepribadian. Ia juga mengkritik perlombaan akademik yang manipulatif dan tidak menjunjung sportivitas, sebab jika seluruh potensi dikembangkan secara proporsional dan jujur, maka generasi produktif dan berintegritas dapat diwujudkan.
Bapak Theo Tulasi kemudian mempertanyakan apakah persaudaraan dan kebiasaan kumpul keluarga selalu bernilai negatif dalam relasinya dengan ekonomi. Uskup memberikan klarifikasi dengan mengkritik prinsip do ut des yang sering menyusup dalam relasi kekeluargaan dan melahirkan komunalisme konsumtif yang memberatkan.
Persaudaraan sejati, tegasnya, harus membahagiakan dan memberdayakan, bukan menjadi beban ekonomi yang menjerat. Ia mengajak umat keluar dari gengsi sosial dan gengsi ekonomi, serta menghindari kebiasaan meminjam di koperasi untuk tujuan konsumtif tanpa kemampuan mengembalikan. Lingkaran ekonomis konsumtif ini, menurutnya, harus diretas agar persaudaraan kembali menjadi ruang pertumbuhan, bukan sumber penderitaan.
Sementara itu, Bapak Anis Humoen mengangkat persoalan krisis sosial yang mengganggu kehidupan kolektif dan bertanya tentang jalan keluar yang konkret. Uskup menyebut adanya krisis multidimensi yang berakar pada hilangnya kesadaran menabung serta budaya foya-foya saat memiliki uang. Ia juga menyinggung dampak Bantuan Langsunf Tunai (BLT), Bantuan Sosial (Bansos) yang dapat membentuk mental ketergantungan apabila tidak disertai pembinaan kesadaran kritis. Solusi yang ditawarkan adalah membangun persaudaraan berbasis sinodalitas, yakni berjalan bersama dalam tanggung jawab kolektif, sekaligus membentuk tim yang meneliti, mencermati, mengkritisi, dan mentransformasi kultur demi kehidupan sosial yang lebih sehat dan produktif.
Moderator, Rm. Christian Kali, kemudian menggarisbawahi empat poin penting yakni diutus membawa sukacita Injil, membangun kolaborasi kritis-inovatif-produktif, menumbuhkan kesadaran kolektif berbasis sinodalitas, dan menjadi Ebed Yahweh sebagai cahaya harapan.
Mengakhiri kegiatan, Rm. Deken menyampaikan terima kasih kepada Bapak Uskup, para romo, suster, serta seluruh peserta. Ia menegaskan bahwa Paskah adalah momentum bermenung dan membarui diri agar menjadi Cahaya Harapan di tengah tantangan zaman.
Dialog hari itu bukan sekadar wacana, melainkan seruan profetik agar umat Dekenat Mena berani menata ekonomi secara produktif, membangun pendidikan yang bermartabat, serta membangun peradaban kolaboratif yang membebaskan.
oleh Rm. Yudel Neno, Pr
