
MENA, KeuskupanAtambua.org – Selasa 24 Februari 2026 — Mgr. Dominikus Saku memberikan renungan mimbar, ceramah, dan dialog bersama 471 siswa dari 20 sekolah se-Dekenat Mena yang didampingi 20 guru, dalam rekoleksi hari kedua yang berlangsung di Mena. Kegiatan ini merupakan kelanjutan rekoleksi hari pertama yang sebelumnya diikuti para romo, suster, frater, agen pastoral, tokoh pemerintah, adat, dan masyarakat. Seluruh rangkaian acara dikendalikan oleh Fr. Alfin Bria dan sesi dialog dimoderatori oleh Fr. Valdy Hani.

Mengusung tema “EBED Yahweh, Hamba Penderita Cahaya Harapan Bangsa-Bangsa”, kegiatan ini menempatkan refleksi Prapaskah sebagai momentum pembentukan karakter generasi muda. Dalam sambutannya, Deken Mena menegaskan bahwa bila Gereja ingin berkembang, maka pendidikan karakter siswa-siswi harus menjadi prioritas. Prapaskah, katanya, adalah kesempatan memasuki padang gurun spiritual agar Paskah sungguh dimaknai sebagai kebangkitan yang lahir dari pertobatan.

Dalam renungan mimbar, Uskup Atambua mengangkat spiritualitas penderitaan Yesus sebagai teladan hamba. Ia menegaskan bahwa sekalipun Yesus adalah Hamba Penderita yang wafat secara tragis, Dia tetaplah pemenang. “Kebaikan tidak perlu diuar-uarkan. Kebaikan sejati akan tersebar dengan sendirinya,” ujarnya di hadapan ratusan pelajar.
Ia juga mengingatkan bahaya menjadi pekerja migran nonprosedural ke Malaysia atau Kalimantan tanpa kesiapan pendidikan yang memadai. Di hadapan para siswa, ia bahkan menyebut “dosa malas belajar” sebagai salah satu penghambat masa depan. Spirit pengorbanan berbasis kenosis—pengosongan diri—ditekankannya sebagai jalan pendidikan yang total, disimbolkan dalam darah dan air yang keluar dari lambung Yesus: air sebagai lambang pembaptisan dan darah sebagai lambang sakramen-sakramen.

Memasuki sesi ceramah dan dialog tentang “pendidikan plus”, pertanyaan para siswa mengalir kritis. Dela Kolne dari SMAK Santa Filomena Mena menanyakan kemungkinan tidak melanjutkan studi formal dan memilih bekerja sebagai hamba di luar negeri.
Uskup menegaskan pentingnya kualifikasi pendidikan formal hingga tingkat sarjana, penguasaan bahasa asing, serta keberanian menabung. Ia bahkan mengajak siswa menghitung kebiasaan jajan: dengan disiplin menabung selama enam tahun, seseorang dapat mengumpulkan hampir Rp50 juta sebagai modal usaha. “Orang yang mau menjadi hamba Allah harus cerdas merintis hidup dan memberdayakan diri,” katanya, seraya menyinggung belenggu kebodohan dan kemiskinan yang masih membayangi daerah ini.

Marianus Taek dari SMAN Oekolo menyoroti Paskah yang kerap menjadi ritual formal. Uskup menanggapi bahwa perayaan memang sama untuk semua orang, tetapi maknanya tergantung disposisi batin. Maria Salu dari SMAN Biboki Anleu bertanya tentang peran guru sebagai EBED Yahweh. Uskup menegaskan bahwa guru adalah pelanjut orang tua, sementara keluarga adalah sekolah pertama. Ia mengingatkan pentingnya menjaga HAM, KAM, dan TAM, seraya menyoroti penurunan kualitas akibat pengaruh digital.

Pertanyaan Paskalia Natasi dari SMK Negeri Harneno tentang ketimpangan kualitas pendidikan dijawab dengan penekanan pada faktor sistemik, sistem pembelajaran, budaya membaca yang melemah, serta mental malas dan suka menunda. “Nilai belas kasih tidak boleh mengorbankan kualitas,” tegasnya. Maria Ayu Usboko dari SMAN Pantura menggugat perbedaan makna sosial dan religius Hamba Penderita. Uskup menjawab bahwa keduanya perlu dibedakan tetapi tidak dipisahkan dalam praksis pendidikan.

Sementara itu, Prima Omega Abi dari SMAK Santa Filomena Mena mempertanyakan mengapa Allah menyelamatkan manusia melalui penderitaan. Uskup menjelaskan bahwa keselamatan terjadi melalui darah Sang Tak Berdosa, karena manusia berdosa tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Maria Neldis Leu dari SMAN Oekolo mengangkat misteri penderitaan Kristus. Uskup menegaskan dua kodrat dalam diri Yesus—manusiawi dan ilahi—serta misteri Allah yang hidup yang masuk dalam realitas kematian.

Dalam rangkuman penutup, Fr. Valdy Hani menekankan bahwa kata “hamba” sering dipandang rendah, padahal dalam terang iman justru mulia. Dari luka lahir keselamatan. Menjadi besar bukan berarti berkuasa. Menjadi hamba Allah di sekolah berarti rajin belajar, menghormati guru dan orang tua, serta tidak menjadi hamba dosa atau hamba media.

Rekoleksi ini diikuti 20 sekolah, terdiri atas 4 SD, 8 SMP, 2 SMAK, 3 SMA, dan 3 SMK. Sekolah-sekolah yang hadir antara lain SMK Harneno, SMK Kesehatan, SMAN Bian, SMAK Perikanan, SMAK Harneno, SMPN Wini, SMPN Manufonu, SMPN Kotafoun, SMAN Pantura, SMAN Oekolo, SDN Mena, SMPN 2 Bisel, SDN Niko, SMPN Satap Heut’utan, SMPN Satap Unina, SDN Heut’utan, SMPN Satap Kesusu, SMPN Oesoko, SDK In Ane, dan SMAK Santa Filomena Mena.

Di tengah arus digital dan tantangan migrasi tenaga kerja, pesan Uskup sederhana namun tegas: menjadi hamba bukanlah kehinaan, melainkan jalan kemuliaan. Pendidikan yang berakar pada pengorbanan dan karakter adalah cahaya harapan bagi bangsa.
oleh Yudel Neno, Pr
