
Mena, Senin 23 Februari 2025 — KeuskupanAtambua.org – Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr dalam rangka pastoral pendidikan dan pastoral sekolah, melakukan kunjungan pastoral di SMAK Santa Filomena Mena, pasca renungan mimbar dan dialog bersama umat se-Dekenat Mena dalam momen rekoleksi kategorial tingkat dekenat.

Kunjungan ini menegaskan pentingnya kemampuan berpikir kritis, kecakapan kreatif yang realistis, serta pendidikan berbasis karakter dan kerja produktif sebagai arah masa depan pendidikan Katolik. Sejak awal, Uskup menekankan bahwa sekolah Katolik tidak boleh kalah dalam prestasi, tetapi harus mampu menerjemahkan capaian akademik ke dalam kontribusi nyata bagi masyarakat.

Kunjungan diawali dengan prosesi arak-arakan bersama Romo Deken Mena menuju lokasi penanaman anakan pohon yang telah disiapkan. Penanaman ini menjadi simbol pertumbuhan, harapan, dan keberlanjutan karya pendidikan Gereja di Mena.

Dalam sambutannya, Kepala SMAK Santa Filomena Mena, Rm. Zebedeus Nahas, Pr., S.Fil., S.Pd., menyampaikan terima kasih atas kunjungan perdana Bapak Uskup di lembaga tersebut. Ia memaparkan bahwa saat ini SMAK memiliki 101 siswa dan 20 guru, serta telah menamatkan lima angkatan. Luas lahan sekolah telah bersertifikat secara resmi. Berbagai prestasi siswa juga disampaikan, baik di bidang seni maupun akademik pada tingkat lokal, regional hingga nasional.

Mengapresiasi capaian tersebut, Uskup tetap memberikan catatan kritis dan motivatif. Ia menegaskan bahwa prestasi harus bermuara pada pekerjaan nyata. Tidak semua lulusan SMAK kelak menjadi guru agama; karena itu pendidikan harus mempersiapkan peserta didik menghadapi realitas yang lebih luas. Pendidikan, menurutnya, harus menjadi proses humanisasi—memanusiakan manusia—yang ditandai dengan kemampuan berpikir kritis, komprehensif, dan relasional.

Uskup menyoroti persoalan klasik dunia pendidikan: banyak sarjana setelah wisuda tidak membaktikan ilmunya bagi masyarakat. Mereka tidak memiliki portofolio berbasis keahlian dan tidak memberi input konkret bagi lingkungan sosialnya. Pendidikan tidak boleh berhenti pada ijazah.

Dalam refleksinya, Uskup mengangkat kembali poin-poin penting yang pernah ditegaskan Paus Leo XIV dalam rangka refleksi 40 tahun Dekrit Gravissimum Educationis dari Konsili Vatikan II. Pendidikan harus menyeimbangkan rasio dan habituasi, membentuk karakter rohani yang disiplin. Orang berkarakter adalah orang yang teratur dan berdisiplin. Karena itu, Uskup menegaskan pentingnya pendidikan berbasis asrama. Sekolah dan asrama adalah satu kesatuan dalam membentuk keteraturan hidup dan spiritualitas yang matang.

Dalam konteks pengembangan diri, Uskup menegaskan perlunya penguatan kecerdasan dan keterampilan. Ia menyebut kecerdasan emosional (EQ – Emotional Quotient), kecerdasan spiritual (SQ – Spiritual Quotient), serta kecerdasan fisik (Physical Quotient), yakni kekuatan fisik dan keterampilan kerja. Ketidakseimbangan emosi dapat berdampak pada kesehatan, termasuk tensi dan metabolisme. Karena itu pendidikan harus menyentuh dimensi utuh manusia.
Ia bahkan mengkritik bahwa otak seringkali tidak membantu manusia secara ekonomis bila tidak disertai kerja nyata. Pendidikan plus, tegasnya, adalah gerakan pembebasan. Aktivitas fisik harus berbanding lurus dengan kecakapan akademik. “Plus” berarti memberi kontribusi nyata.

Konsep plus itu diwujudkan dalam CALISTUNGKIRAAJA: Baca, Tulis, Hitung, Pikir, Bicara, Doa, dan Kerja. Kerja yang dimaksud adalah kerja produktif, inovatif, kolaboratif, cerdas, kreatif, dan tuntas. Uskup mengkritik mentalitas kerja sedikit tetapi ingin tangan tetap bersih. Ia membedakan orang rajin dan orang malas dari semangatnya. Orang rajin selalu berinovasi; orang malas terbelenggu. Orang malas tidak capek karena tidak bekerja, sedangkan orang rajin bekerja terus namun tidak merasa lelah karena digerakkan oleh semangat. Sekolah harus membentuk karakter rajin sebagai basis keunggulan kompetitif.

Uskup juga menyinggung bahaya kapitalisasi dan politisasi pendidikan. Ia mendorong kreativitas dan kemampuan berpikir terobos—transformatif—serta kemampuan eureka, yakni keseimbangan antara kuantitas dan kualitas. Sekolah Katolik tidak boleh kalah; harus menciptakan keunggulan kompetitif. Ia juga menganjurkan doa brevir, doa pagi dan doa malam, sebagai fondasi spiritual.

Sesi dilanjutkan dengan dialog yang dimoderatori oleh Rm. Dius Nahas, Pr. Enci Naicea dan Gaby Eko memandu seluruh rangkaian acara. Enam penanya terdiri dari lima murid dan satu guru.

Lia Talan, Ketua OSIS, bertanya tentang prospek tamatan SMAK. Uskup menekankan pentingnya kemampuan baca, tulis, pikir, dan kerja sebagai basis masa depan. Ia juga mendorong gerakan menghidupkan kembali STP (Sekolah Tinggi Pastoral) Keuskupan Atambua di Kefamenanu serta memanfaatkan kekayaan alam sebagai potensi pengembangan.

Charly menanyakan perkembangan sekolah-sekolah Katolik di Keuskupan Atambua. Uskup menjelaskan adanya empat yayasan pendidikan di Keuskupan dengan jenjang terbanyak di tingkat SD, disusul SMP, SMAK, dan STP. Pengembangan potensi harus diiringi kerajinan membaca, menulis, dan berpikir.

Silva meminta penjelasan tentang pendidikan Katolik bagi siswa SMAK. Uskup mencontohkan capaian akademik beberapa sekolah Katolik yang membanggakan dan perlu terus dikembangkan.

Abia Usfal mengangkat dasar pastoral pendidikan dan peningkatan hidup berasrama. Uskup menjelaskan bahwa pendidikan integral yang utuh telah digariskan Komisi Pendidikan Vatikan. Pendidikan berkarakter dan spiritualitas role model menjadi fondasi. Ia juga mengkritik kecenderungan orang tua yang mengabaikan pendidikan karakter dan menyeret anak pada kepentingan orang tua.

Pak Benny Akoit, perwakilan guru, bertanya tentang pengembangan pertanian dan peternakan untuk mendukung multikompetensi guru. Uskup menawarkan kerja tangan produktif melalui pelatihan pupuk organik, penyulingan nira, budidaya kambing, ikan lele, dan sapi. Ia menyebut pilot project Atambua Eden, budidaya ternak babi di Haliwen, Oelolok Training Center (OTC) untuk budidaya multi usaha, pengembangan gio membaran, Emaus Pastoral Center (EPC) untuk palawija, serta proyek pembuatan pupuk inhati.

Kunjungan pastoral ini menegaskan arah pendidikan Katolik yang integral: berpikir kritis, berkarakter disiplin, kreatif dalam kerja, serta realistis dalam kontribusi sosial. Pendidikan bukan sekadar prestasi, melainkan transformasi manusia yang utuh dan berdampak nyata bagi Gereja dan masyarakat.
oleh Yudel Neno, Pr – Guru Doktrin Katolik dan Moralitas Kristiani pada SMAK Santa Filomena Mena
