Renungan – KeuskupanAtambua.org – Jari Menyentuh Layar, Hati Menyentuh Sesama – Oleh Rm. Yudel Neno

Hampir setiap hari tangan kita menyentuh layar. Ketika bangun pagi, telepon genggam sering menjadi benda pertama yang dicari. Kita membuka pesan, melihat pemberitahuan, membaca berita, memeriksa media sosial, atau menjawab percakapan yang tertunda. Sebuah gerakan jari yang kecil dapat membawa kita dalam beberapa detik ke berbagai tempat dan kepada berbagai orang. Teknologi membuat dunia terasa dekat. Tetapi kedekatan digital membawa sebuah pertanyaan rohani yang tidak sederhana: ketika jari kita semakin sering menyentuh layar, apakah hati kita juga semakin mampu menyentuh kehidupan sesama?
Teknologi pada dirinya bukan lawan iman dan bukan pula musuh kehidupan manusia. Ia lahir dari kecerdasan yang merupakan bagian dari anugerah Allah kepada manusia. Melalui teknologi, seseorang dapat mengirim kabar kepada keluarga, belajar dari sumber yang jauh, menghibur sahabat, menyebarkan pesan yang membangun, bahkan memperluas karya pewartaan. Teknologi dapat menjadi ruang perjumpaan.
Namun sebuah sarana selalu membutuhkan arah. Pisau dapat dipakai untuk menyiapkan makanan, tetapi dapat pula melukai. Demikian pula teknologi. Ia dapat menghubungkan, tetapi juga dapat memisahkan. Ia dapat menyampaikan kebenaran, tetapi juga mempercepat penyebaran kebohongan. Ia dapat menjadi sarana kasih, tetapi dapat pula menjadi tempat penghinaan.
Di sinilah persoalan teknologi sesungguhnya menjadi persoalan hati manusia.
Kita dapat memberikan tanda suka kepada sebuah unggahan tanpa sungguh-sungguh peduli kepada orang yang mengunggahnya. Kita dapat mengetahui kehidupan banyak orang melalui layar, tetapi tidak mengetahui pergulatan anggota keluarga yang duduk satu meja bersama kita. Kita dapat mengirim banyak pesan, tetapi kehilangan kesabaran untuk mendengarkan satu orang berbicara sampai selesai.
Karena itu, kesehatan hidup digital tidak pertama-tama diukur berdasarkan jumlah aplikasi yang dimiliki atau lamanya waktu layar. Pertanyaan yang lebih penting ialah: apa yang sedang terjadi pada hati saya ketika menggunakan teknologi?
Apakah saya menjadi lebih mudah marah? Apakah saya semakin senang menghakimi? Apakah saya menyebarkan sesuatu sebelum memeriksa kebenarannya? Apakah saya mempublikasikan kehidupan orang lain tanpa menghormati privasinya? Ataukah kehadiran saya di ruang digital justru membuat orang lain menerima kebaikan, pengharapan, pengetahuan, dan penghiburan?
Teknologi membawa manusia kepada banyak pilihan. Akan tetapi, iman mengingatkan bahwa kebebasan tidak berarti melakukan apa saja yang mampu dilakukan. Kebebasan adalah kemampuan memilih apa yang baik.
Kita mungkin mempunyai kemampuan teknis untuk mengambil foto seseorang dan mengunggahnya. Namun kemampuan itu belum berarti kita mempunyai hak moral untuk mempublikasikannya. Kita mungkin mampu meneruskan sebuah berita dalam satu sentuhan, tetapi kemampuan itu belum membebaskan kita dari kewajiban memeriksa kebenarannya.
Pada akhirnya, teknologi menguji kedalaman hati manusia. Layar dapat semakin terang, tetapi hati belum tentu semakin bercahaya.
Karena itu, sebelum tangan menyentuh tombol post, share, atau send, mungkin kita perlu memberi kesempatan kepada hati untuk bertanya: apakah ini benar, apakah ini baik, apakah ini perlu, dan apakah ini menghormati sesama?
Tuhan, ajarlah kami menggunakan teknologi dengan kebijaksanaan. Semoga jari yang menyentuh layar tidak menjauhkan hati dari sesama. Semoga apa yang kami lihat, tulis, bagikan, dan publikasikan menjadi jalan kebenaran, penghormatan, dan kasih. Amin.
