
Dekenat Mena, KeuskupanAtambua.org — Uskup Atambua ; Mgr. Dominikus Saku memimpin rekoleksi bagi ratusan pelajar tingkat SMP dan SMA di Aula Dekenat Mena, Rabu (10/12/2025). Rekoleksi hari kedua ini diikuti 696 peserta yang terdiri dari siswa dan guru pendamping dari 18 sekolah di wilayah Dekenat Mena. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rekoleksi hari pertama yang berlangsung pada Selasa (9/12/2025) di tempat yang sama.

Adapun 18 sekolah peserta yang mengutus siswa dan guru pendamping dalam kegiatan ini yakni: SMAK Santa Filomena Mena, SMK Kesehatan Ponu, SMP Negeri Wini, SMA Santo Fransiskus Xaverius Harneno, SMP Negeri Manufonu, SMP Negeri Satap Unina, SMP Negeri Satap Mausak, SMP Negeri Satap Oesusu, SMP Negeri Satap Heut’utan, SMP Negeri Oesoko, SMP Negeri Bisel, SMAN Oekolo, SMAN Pantura, SMKN Perikanan Wini, SMP Maria Bintang Laut Ponu, SMP Negeri Satap Ketapan, SMK Harneno, dan SMP Negeri Kotafoun.

Sebelum rekoleksi dimulai, acara dibuka dengan sambutan dari Rm. Yohanes Seran Nahak – Deken Dekenat Mena. Dalam sambutannya, Rm. Yohanes menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Uskup Atambua yang dengan kerendahan hati meluangkan waktu untuk mendampingi para pelajar. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para kepala sekolah dan guru pendamping yang telah memfasilitasi kehadiran para siswa, serta mengucapkan terima kasih kepada seluruh pelajar yang dengan antusias hadir untuk memperdalam iman dan karakter kristiani.

Selanjutnya; dalam renungan mimbar dan ceramah yang dibawakan secara dialogis dan bersahabat, Uskup Atambua menekankan pentingnya kualitas iman dan pengelolaan kelemahan kodrati, yang disesuaikan dengan usia pendidikan SMP dan SMA. Suasana rekoleksi berlangsung hidup karena para peserta aktif berdialog dan mengajukan pertanyaan. Uskup mengaku gembira melihat antusiasme para pelajar yang menunjukkan kerinduan untuk bertumbuh dalam iman.

Salah satu penegasan penting Uskup adalah tentang penghormatan terhadap Bait Allah. Ia menegaskan bahwa tindakan menjual di dalam Bait Allah merupakan perbuatan yang tidak kristiani, karena bertentangan dengan hakikat gereja sebagai tempat perjumpaan dengan Allah. Penegasan ini disampaikan sebagai pendidikan karakter agar para pelajar semakin menghargai ruang-ruang sakral dalam kehidupan iman.

Menanggapi pertanyaan pelajar tentang kesetiaan, Uskup menegaskan bahwa kesetiaan adalah kunci keberhasilan dalam menjalankan tugas. Pelajar yang setia, menurut Uskup, adalah pelajar yang mampu menjaga kepercayaan. Ia juga mengingatkan bahwa dalam perjalanan waktu, kesetiaan akan diuji semakin berat, karena itu Allah harus dijadikan sumber inspirasi utama.

Uskup kemudian mengangkat makna kesetiaan sebagai kunci ketahanan dalam sebuah ziarah hidup. Kesetiaan diibaratkan sebagai air yang memberi kekuatan di tengah kedahagaan perjalanan. Ia mengutip rumus sederhana: “Kalau mau cepat, berjalanlah sendiri. Kalau mau selamat, berjalanlah bersama.” Ungkapan ini sepadan dengan pemikiran Ratan Tata (Seorang Industrialis asal India), yang menegaskan bahwa perjalanan jauh membutuhkan kebersamaan. Spirit ini diangkat sebagai semangat persahabatan dan kerja bersama.

Namun, Uskup juga memberikan catatan kritis bahwa dalam konteks efisiensi kerja, kerja mandiri tetap diperlukan dalam semangat konsistensi pribadi. Dengan demikian, antara kebersamaan dan tanggung jawab pribadi harus berjalan seimbang dalam kehidupan pelajar.

Dalam rekoleksi ini, Uskup juga mengangkat makna maskot resmi Yubileum 2025, Luce, sebagai simbol pentingnya sinodalitas dalam perjalanan peziarahan. Sinodalitas dimaknai sebagai berjalan bersama dalam iman, saling menopang, dan saling menguatkan di tengah berbagai tantangan zaman.

Selain itu, Uskup menekankan pentingnya para pelajar memahami makna kehidupan berkeluarga. Ia mengajak para siswa untuk tidak bersikap pasif, melainkan berkontribusi secara nyata dalam kehidupan keluarga sebagai tempat pertama pembentukan iman, karakter, dan tanggung jawab.

Kegiatan rekoleksi hari kedua ini dipandu oleh MC dan sekaligus moderator Pak Okto Tulasi, Sekretaris Paroki Mena. Dengan pendekatan dialog yang hangat, suasana rekoleksi menjadi ruang pembelajaran iman yang segar, reflektif, dan relevan bagi kaum muda.
Rekoleksi Kategorial di Dekenat Mena ini menjadi momentum penting pembinaan iman bagi para pelajar lintas sekolah. Kehadiran langsung Uskup Atambua memberi penguatan rohani sekaligus motivasi moral agar generasi muda Katolik semakin bertumbuh sebagai pribadi beriman, setia, dan berkarakter di tengah tantangan zaman.
oleh Tim Komsos Paroki. Editor – Yudel Neno
