
MENA, Senin, 23 Februari 2026 — KeuskupanAtambua.org – Mgr. Dominikus Saku, Pr – Uskup Atambua, memberikan Renungan Mimbar dalam kegiatan rekoleksi kategorial yang berlangsung di Aula Dekenat Mena, Senin (23/2/2026).

Rekoleksi yang dihadiri sekitar 450 peserta itu melibatkan para imam, suster, Camat, DPP-DKP, utusan kategorial gerejawi, utusan pemerintah, tokoh pendidik, tokoh adat, dan tokoh masyarakat.

Kegiatan diawali dengan sambutan Deken Mena ; Rm. Yohanes Seran Nahak, Pr yang menyampaikan terima kasih kepada Bapak Uskup, para imam, suster, serta seluruh utusan paroki. Mantan Pastor Naesleu ini menegaskan bahwa Masa Prapaskah bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan padang gurun spiritual untuk refleksi dan perubahan diri. Tema tentang pengharapan yang diangkat dalam rekoleksi ini, menurutnya, menjadi penegasan bahwa meskipun umat hidup dalam realitas yang sulit, karena Kristus, mereka tetap percaya akan cahaya di tengah kegelapan.

Dalam renungan bertema Ebed Yahweh – Hamba Penderita – Cahaya Harapan Bangsa-Bangsa, Uskup Atambua memulai dengan menjelaskan makna “hamba”. Secara sosial, hamba dipahami sebagai manusia tanpa hak, bekerja keras dalam kondisi kasar dan berat tanpa imbalan yang layak. Sementara dalam makna religius, hamba berarti pribadi yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk melaksanakan kehendak Allah secara total, sebagaimana dikatakan dalam Kitab Suci: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh. 4:34).

Uskup juga mengangkat realitas migran dan perantau tanpa kecakapan yang kerap bermuara pada praktik perdagangan manusia. Ia menyoroti bagaimana manipulasi, maladministrasi, pendidikan rendah, serta cacat administrasi menjadikan kelompok tertentu sebagai sasaran empuk sindikat perhambaan modern. Fenomena ini, menurutnya, memperlihatkan wajah perhambaan yang nyata di tengah masyarakat.

Lebih lanjut, Uskup menegaskan bahwa menjadi Hamba Allah berarti menerima tugas atas nama Allah. Tugas ini harus diimplementasikan dalam keluarga maupun dalam karya pelayanan, sebagaimana diteladankan oleh tiga Bapa Bangsa: Abraham, Ishak, dan Yakub/Israel. Dalam Kitab Suci, karakteristik Hamba Allah ditandai oleh tiga hal: taat dan takluk sepenuhnya kepada Allah, melayani Tuhan yang termanifestasi dalam pelayanan kepada sesama, serta rendah hati dalam pengabdian yang sadar dan total.
Ia menekankan bahwa menjadi hamba tidak terlepas dari partisipasi dalam salib Kristus. Hanya dalam kasih yang berpuncak pada pengorbanan, seseorang sungguh menjadi hamba. Dalam konteks pengharapan, Uskup membedakan aspek statis dan dinamis: statis karena keselamatan tetap, dinamis karena Sabda Allah selalu relevan dalam setiap zaman.

Menurutnya, harapan menghadirkan terang yang menerangi kebutaan manusia—buta mata, buta otak, buta hati, dan buta hidup. Budaya dan kebiasaan yang keliru kerap membutakan, bahkan akibat kelalaian sendiri. Ia juga menyinggung persoalan “baperan” dalam karya pastoral, dengan menegaskan bahwa Yesus tidak terjebak dalam sikap emosional ketika menanggung derita-Nya.

Uskup mengajak umat untuk berani menjadi kurban silih dan kurban pepulih. Ia menegaskan bahwa Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya sendiri, bukan melalui sesuatu di luar diri-Nya. Karena itu, umat dipanggil untuk mengambil bagian dalam karya pendamaian tersebut.

Harapan, lanjutnya, menyasar pada cita-cita menuju hidup dan keadaan mental yang lebih baik. “Amin” harus diikuti kerja keras. Dengan bekerja di bumi, umat menghadirkan Kerajaan Allah dari dekat. Dinamika pengharapan menunjuk pada kesejahteraan sejati, yakni lebih mengandalkan Allah daripada materi.

Pada bagian akhir, Uskup menggarisbawahi semangat kenosis atau pengosongan diri sebagai syarat mutlak keselamatan dunia. Gunung yang terlalu tinggi, katanya, sering diikuti lembah yang terlalu dalam. Kenosis berarti kesanggupan menjembatani, menciptakan keadilan dan persaudaraan. Yesus merendahkan diri sedemikian rupa sehingga dalam perendahan itu Ia mengangkat manusia menjadi anak-anak Allah. Karena pengosongan diri-Nya, Ia menjadi miskin agar oleh kemiskinan-Nya banyak orang diperkaya. Di situlah martabat-Nya sebagai Hamba Allah: memberi sampai tuntas, tanpa sisa—dan pemberian seperti itulah yang menyelamatkan dunia.

Rekoleksi kategorial ini menjadi momentum pembaruan spiritual di Dekenat Mena, sekaligus peneguhan bahwa di tengah tantangan zaman, harapan dalam Kristus tetap menjadi cahaya bagi bangsa-bangsa.
oleh Tim Media Dekenat. Editor – Rm. Yudel Neno, Pr
