keuskupanatambua.org; -Sinode Para Uskup Sedunia yang akan dilaksanakan pada Oktober 2023 melibatkan seluruh gereja sejagat untuk mempersiapkannya. Mengapa Paus Fransiskus mengundang keterlibatan seluruh gereja? Menurut Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Paus Fransiskus mengundang seluruh gereja untuk terlibat dalam sinode ini karena Paus menyadari bahwa dunia kita saat ini sangat dipengaruhi berbagai kesesatan yang dibawa oleh materialisme, konsumerisme, hedonisme dan lain-lain yang tentu saja dialami juga oleh gereja, umat Allah. Karena itu, menurut Ketua Komisi Keadilan Perdamaian KWI ini, Paus hendak melibatkan seluruh gereja untuk mengajak mereka berjalan bersama, mendengarkan mereka yang tidak pernah bersuara, dan berbicara dengan mereka perihal kehidupannya.
Hal tersebut diungkapkan Mgr. Domi ketika memimpin Misa dan melakukan sinode bersama para Imam dan Biarawan-birawati se- Dekenat Belu Utara di Emaus, Selasa, 16 November 2021.
Berhadapan dengan berbagai pengaruh dan kesesatan itu, Uskup Atambua keempat itu menegaskan perlunya discerment dan discresi untuk dapat membeda-bedakan roh dan menyaringnya dengan benar.
Sinode tersebut berlangsung di Aula Santo Dominikus Emaus Pastoral Center dibuka oleh Ketua Panitia Ad Hoc Keuskupan Atambua, P. Vincentius Wun SVD. Dalam arahannya Pastor asal Niki-Niki, TTS ini mengatakan bahwa kehadiran para peserta yang terdiri dari imam dan biarawan-biarawati ini sangat penting karena akan membuka pola pikir tentang Gereja yang partisipatif dan saling mendengarkan satu sama lain. Untuk itu sinode ini menekankan pentingnya dialog rohani, bukan diskusi ilmiah.
“Paus mengharapkan kita untuk lebih banyak menggunakan kesempatan ini untuk melakukan dialog rohani dan mendengarkan, bukan sebaliknya kita berdiskusi, berdebat atau bahkan diskusi ilmiah”, tegasnya.
Selanjutnya dalam arahannya Bapa Uskup menyoroti konteks Gereja kita masa kini, mulai dari Gereja universal, regional dan lokal. Menurutnya, untuk tataran Gereja Lokal Keuskupan Atambua, kita hendaknya berupaya agar dari sinode ini, visi misi kita perlahan-lahan mulai nampak yakni unggul, cerdas dan sejahtera. “Sinode ini dimaksudkan agar kita berjalan bersama, hirarki (klerus) dan umat untuk saling mendengarkan, terutama mereka yang selama ini tidak pernah berbicara dan didengarkan suaranya”, kata Uskup Dominikus.
Mgr. Dominikus Saku: Sinode ini penting!
Selain, Ketua Panitia Ad Hoc dan Yang MUlia Bapa Uskup sebagai pembicara, ikut juga Sekretaris Panitia Ad Hoc, Bapak Yosef Hello menyampaikan gambaran tentang proses pelaksanaan sinode tingkat Keuskupan Atambua sejak Oktober 2021 hingga Juni 2022. Diharapkan setelah mengikuti sinode di tingkat dekenat, Pastor paroki dapat membentuk sebuah tim untuk mengorganisir pelaksanaan sinode di tingkat paroki, sehingga pada waktunya dapat memberikan sintesenya ke panitia ad hoc keuskupan untuk dirangkumkan dan diteruskan ke KWI.
Para peserta sinode tingkat dekenat Belu Utara dibagi dalam enam kelompok untuk melakukan dialog rohani yang masing-masingnya dipimpin oleh seorang ketua dan seorang sekretaris atau notulis. Usai dialog rohani dilanjutkan dengan laporan dari masing-masing kelompok.
Kegiatan sinode diakhiri dengan kata-kata penutup oleh Deken Belu Utara, RD. Stefanus Boisala. Dalam kata-kata penutupnya, Pastor Stef mengatakan, “Saya menyadari sudah lama (hampir dua tahun) kita tidak bertemu dalam temu pastoral seperti ini (karena pandemi Covid-19). Maka saya bersyukur hari ini kita bisa hadir bersama (kecuali 3 pastor paroki), untuk memulai sinode di Dekenat Belu Utara ini”.

RD. Stefanus Boisala: Terimakasih untukmu semua.
“Untuk itu terima kasih untukmu semua yang telah turut terlibat menyukseskan kegiatan kita hari ini”, katanya menutup kegiatan. Penulis: Yosef M. L. Hello; Editor: Okto Klau



Foto-foto peserta sinode Dekenat Belu Utara.
