
Emaus, Atambua, – Dalam suasana yang penuh doa dan refleksi, Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, memimpin meditasi yang mendalam sebagai bagian dari kegiatan evaluasi dan perencanaan tahunan yang diadakan di Emaus, Keuskupan Atambua, (Selasa, 19/11/2024).
Acara yang berlangsung di Aula Dominikus ini dihadiri oleh para imam, biarawan-biarawai, dan utusan Dewan Pastoral Paroki (DPP) setiap Paroki, yang berkumpul untuk merenungkan perjalanan pastoral serta merencanakan langkah-langkah ke depan dalam melayani umat Tuhan.

Dalam meditasi yang dipimpin oleh Bapa Uskup, Ia mengajak para peserta untuk memasuki keheningan sebagai sarana untuk memperdalam hubungan pribadi dengan Tuhan.
“Keheningan itu bukan hanya ketiadaan suara, tetapi merupakan kekuatan untuk membuka hati kita agar dapat berjumpa dengan Tuhan secara lebih intim,” ungkap Mgr. Dominikus.
Menurutnya, melalui hening, seseorang dapat mendengarkan suara Tuhan yang lembut dan menemukan arah yang jelas dalam setiap keputusan yang diambil.
Bapa Uskup juga menekankan pentingnya evaluasi yang tidak hanya melihat angka atau capaian, tetapi lebih pada pertumbuhan rohani dan pelayanan yang lebih mendalam kepada umat. “Setiap langkah yang kita ambil harus berlandaskan pada cinta kasih dan panggilan yang lebih besar untuk melayani Tuhan dan sesama,” tambahnya.
Ia berharap, perencanaan untuk tahun 2025 nanti dapat mencerminkan semangat pelayanan yang tulus dan penuh perhatian kepada kebutuhan rohani umat.
Sesi meditasi ini menjadi titik awal yang kuat untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan baru di tahun yang akan datang. Para peserta merasakan kedamaian yang mendalam dan kekuatan spiritual yang memperbaharui tekad mereka untuk terus bekerja demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan umat. Meditasi tersebut juga menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan perjalanan hidup dan merenungkan makna sejati dari pelayanan yang mereka emban.
Sebagai penutup, Mgr. Dominikus Saku mengajak para imam dan para utusan dari setiap Paroki untuk terus menjaga hati yang terbuka dan bersih agar dapat merasakan hadirat Tuhan dalam setiap langkah hidup mereka.
“Dengan hati yang hening, kita akan menemukan kekuatan untuk menghadapi tantangan, serta kasih yang tak terhingga dari Tuhan yang selalu menyertai kita,” tutupnya, mengakhiri sesi meditasi yang penuh makna ini. (In)
