
KEFAMENANU, KeuskupanAtambua.org – 16 September 2025 – Ribuan Orang Muda Katolik (OMK) dari 60 Paroki se-Keuskupan Atambua menghidupkan suasana persaudaraan dan kepedulian ekologis melalui rangkaian kegiatan bakti sosial, sharing pengalaman, dan katekese BKSN.

Selama Keuskupan Atambua Youth Day (KAYD) III yang berlangsung di Dekenat Kefamenanu pada 15–19 September 2025, para peserta menyatu dengan umat di Paroki Naesleu, Paroki Sasi, dan Paroki Santa Theresia lewat program live in di lingkungan-lingkungan.

Menurut data yang dikonfirmasi oleh Koordinator LO Panitia, total peserta yang hadir mencapai 1.122 orang. Mereka datang dari empat dekenat: Belu (237 orang), Malaka (353 orang), Mena (192 orang), dan Kefamenanu (340 orang).

Bersama para pendamping dan moderator—Romo, Pater, Frater, Suster, maupun awam—mereka tinggal bersama keluarga-keluarga umat setempat, mengalami langsung dinamika hidup sehari-hari, dan ikut serta dalam aneka karya nyata.

Kegiatan bakti sosial menjadi sorotan utama. Di bawah koordinasi Ketua Lingkungan, DPP, dan para moderator OMK, peserta membersihkan sumber-sumber air, merapikan pasar, dan memperhatikan area publik lain.

Tak berhenti pada lingkungan gereja Katolik, beberapa kelompok juga bekerja di gereja Protestan, masjid, dan pura, menghadirkan semangat moderasi beragama yang tulus. Selain itu, mereka mengadakan sharing iman, evaluasi kegiatan, serta merayakan Ekaristi yang dipimpin oleh para Romo Moderator.

Suasana akrab terasa di setiap lingkungan. Peserta mengaku terkesan dengan penerimaan hangat panitia, umat paroki, dan keluarga tempat mereka tinggal.

“Kami sungguh merasakan persaudaraan yang indah. Semua menyambut kami dengan penuh kehangatan, membuat kami merasa seperti di rumah sendiri,” ujar salah seorang OMK peserta dari Dekenat Malaka.

Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Atambua, Rm. Yoris Giri, Pr, menilai kegiatan ini sebagai tanda nyata kepedulian kaum muda terhadap bumi dan sesama. “OMK telah menunjukkan bahwa iman yang hidup selalu diwujudkan lewat tindakan konkret.

Membersihkan sumber air, merawat pasar, bahkan hadir di rumah ibadah lain, itu semua memperlihatkan bagaimana mereka membawa kabar sukacita dengan pelayanan yang menyatukan,” katanya.

Sementara itu, Bapak Joseph Kuabib, Ketua Umum Panitia KAYD III, memberikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pihak yang mendukung.

“Kami bersyukur atas semangat OMK. Mereka tidak hanya datang untuk merayakan pertemuan, tetapi juga meninggalkan jejak kasih melalui karya bakti sosial yang menyejukkan bumi,” tuturnya.

Tak kalah bangga, Rm. Kanisius Oki, Pr, Deken Dekenat Kefamenanu, menyebut kegiatan ini sebagai berkat bagi masyarakat setempat.

“Melalui aksi sederhana yang mereka lakukan, lingkungan kita semakin bersih, dan hati umat pun dikuatkan oleh teladan anak-anak muda yang berani peduli,” ungkapnya.

KAYD III di Kefamenanu bukan sekadar ajang berkumpul kaum muda, melainkan momentum pembelajaran tentang iman yang menyapa realitas. Dalam setiap sapuan sapu dan langkah kebersihan, OMK menegaskan panggilan mereka sebagai generasi yang merawat bumi dan memupuk persaudaraan lintas batas.

Dengan semangat itu, karya bakti sosial ini menjadi wajah nyata Gereja yang hadir dan melayani di tengah dunia.

Tanggapan Biblis dan Teologis
Kegiatan yang dilakukan OMK peserta KAYD III sejalan dengan panggilan Kitab Suci dan ajaran Gereja tentang ekologi dan sinodalitas.

Dalam Kitab Kejadian 2:15, Allah menempatkan manusia di taman Eden “untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Tugas ini bukan hanya perintah praktis, melainkan mandat ilahi untuk merawat ciptaan sebagai wujud kasih kepada Sang Pencipta.
Tindakan OMK membersihkan sumber air dan ruang publik menjadi perwujudan konkret dari tanggung jawab ini.

Ensiklik Laudato Si’ (2015) menggarisbawahi panggilan yang sama. Paus Fransiskus menulis, “Merawat rumah bersama adalah bagian dari iman kita” (LS art. 64).
Dalam artikel 211, ensiklik itu menegaskan pentingnya “pendidikan ekologis yang mendalam, yang membantu kita membangun gaya hidup baru.” Semangat bakti sosial ekologis OMK mencerminkan pendidikan iman yang bergerak menuju aksi nyata.
Selain itu, dinamika live in dan kerja sama lintas iman menunjukkan praksis sinodalitas: berjalan bersama dalam mendengarkan dan melayani.
Dokumen Synodality in the Life and Mission of the Church (Komisi Teologi Internasional, 2018, art. 70) menyebut bahwa sinodalitas menuntut partisipasi seluruh umat Allah dalam tanggung jawab bersama.
Kehadiran OMK di tengah masyarakat, bekerja bersama lintas agama, menghadirkan wajah Gereja yang inklusif dan misioner.
Melalui KAYD III, OMK menegaskan diri sebagai generasi yang mencintai bumi, menghargai perbedaan, dan setia pada misi Gereja. Mereka menjadi saksi bahwa iman yang mendalam selalu menghasilkan tindakan nyata demi kelestarian ciptaan dan persaudaraan universal.
oleh Tim Komsos Panitia KAYD III. Editor : Yudel Neno, Pr
