
Refleksi Imaji Visual – Imaji Keilahian dalam Tekstur Visual Graha Maria Annai Velangkanni – oleh Rm. Yudel Neno, Pr
Graha Maria Annai Velangkanni berdiri di Medan seperti doa yang menjelma menjadi bangunan. Tubuhnya bertingkat, wajahnya berwarna, dan puncaknya menembus langit, seakan bumi sedang mengangkat kerinduannya kepada Allah, sementara surga perlahan menundukkan kasihnya kepada manusia yang datang membawa kerinduan suci.

Pertemuan saya dengan keindahan itu terjadi pada Sabtu, 19 September 2026, setelah perjalanan panjang dari Pematangsiantar. Suster-suster FCJM mengantar kami menggunakan mobil Provinsialat FCJM, menyertai perjalanan yang perlahan mengubah keletihan menjadi syukur ketika menara graha mulai terlihat indah dari kejauhan.

Perjalanan tersebut berlangsung setelah kami mengikuti Musyawarah Nasional XV Unio Indonesia pada 14–18 September 2026 di Catholic Center–Pusat Pembinaan Umat Pematangsiantar, Keuskupan Agung Medan. Pertemuan persaudaraan itu menghimpun sebanyak 107 imam diosesan dari 38 keuskupan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sesudah hari-hari yang dipenuhi Ekaristi, permenungan, percakapan, dan persaudaraan imamat, tekstur visual Graha Velangkanni menjadi penanda penyempurna visual perjalanan. Seakan pengalaman Munas memperoleh gambar penutup: beragam tingkat, warna, dan bentuk dipertemukan harmonis dalam satu gerak kerinduan menuju Allah yang memanggil.

Bagian dasar graha melebar seperti telapak yang meneguhkan langkah, sedangkan tubuhnya perlahan menyempit menuju puncak. Susunan teras bertingkat membentuk perjalanan visual dari bawah ke atas, seolah setiap lapisan mengajak jiwa meninggalkan keramaian dan memasuki keheningan bersama Allah yang selalu menanti.

Menara tengah menjadi jantung komposisi, menjulang seperti gunung doa yang tersusun dari balkon, pagar, pilar, dan cahaya. Mata mendakinya perlahan, tingkat demi tingkat, sebagaimana jiwa menempuh peziarahan melalui rindu, luka, penyerahan, pengharapan, hingga perjumpaan mesra dengan Allah yang setia menanti.
Di kanan dan kiri, dua kubah mengapit menara utama seperti sahabat yang setia menjaga sebuah kerinduan. Bentuknya yang membulat melembutkan garis bangunan, mempertemukan keteguhan dan kelembutan, sehingga kemegahan graha terasa sebagai pelukan, bukan kekuasaan yang menjauhkan manusia kecil di hadapan-Nya.
Deretan pilar, relung, lengkungan, dan pagar balkon menciptakan tekstur yang bergerak seperti bait-bait mazmur. Setiap bentuk berulang namun tidak membosankan; ia justru menyerupai litani, ketika kata yang sama terus diucapkan karena cinta selalu menemukan kedalaman baru dalam pengulangan penuh iman.
Warna abu-abu menyangga tubuh bangunan seperti ketenangan yang matang, sedangkan merah, biru, hijau, kuning, dan emas menari pada tepian. Warna-warna itu bagaikan sukacita yang tumbuh dari keteguhan, menghadirkan iman yang tidak muram, tetapi terus bernyanyi di tengah kehidupan manusia sehari-hari.
Pada muka bangunan, salib berdiri dekat medali Maria, sedangkan dua tangga melengkung tampak seperti lengan terbuka. Susunan itu menyampaikan pesan lembut: Maria menyambut dan mendampingi setiap peziarah, kemudian membawanya kepada Kristus, sumber keselamatan dan tujuan seluruh kasih keibuannya yang kekal.
Pot tanaman, bunga merah, pagar rendah, serta jalan yang tertata menghadirkan kelembutan di halaman. Manusia terlihat kecil di hadapan menara, namun tidak kehilangan martabatnya, sebab taman dan pintu terbuka baginya; keagungan suci menaungi, bukan menekan tubuh setiap peziarah yang datang.
Dalam pandangan teologis, bangunan ini tidak memenjarakan Allah di dalam batu dan warna. Ia menjadi jendela tempat hati mengenali jejak kehadiran-Nya. Yang tampak membuka jalan menuju Yang Tak Tampak; keindahan material menjadi bisikan mengenai rahmat yang melampaui segala rupa duniawi.
Di samping bangunan utama terdapat ruang adorasi yang ramai dikunjungi. Jika menara mengangkat mata menuju langit, ruang adorasi menuntun hati memasuki kedalaman. Di sana, manusia berhenti mengagumi bentuk dan menyadari bahwa sejak awal Tuhanlah yang lebih dahulu memandangnya dengan kasih.
Graha ini juga menyimpan denyut sejarah. Pastor James Bharataputra, S.J., Jesuit asal India, merancangnya sebagai rumah penghormatan kepada Maria Annai Velangkanni, Bunda Penyembuh Orang Sakit. Dalam bangunannya, corak India dan lambang Kristiani berpelukan, melahirkan wajah inkulturasi yang indah di Medan.
Menurut penuturan RD. Gundo Saraghi, tanah sekitar graha dahulu direncanakan bagi relokasi warga India, meskipun mereka akhirnya memilih tempat lain. Kini, para pekerjanya rata-rata orang India, sehingga bangunan tersebut terus bernapas melalui tangan, ingatan, serta kesetiaan komunitas yang tekun merawatnya.
Pada beberapa sudut tertulis rumusan dalam bahasa Indonesia, Tamil, Inggris, dan Cina. Keempat bahasa itu membentuk tekstur semantis yang mempersatukan perbedaan. Dinding graha seakan memperoleh beragam suara untuk mengatakan satu undangan kasih: datanglah, berdoalah, dan temukanlah dirimu sebagai saudara terkasih.
Bahasa Indonesia menghadirkan tanah tempat graha berakar; Tamil membawa aroma tanah asal devosi; Inggris membuka jendela bagi dunia; sedangkan Cina menyapa salah satu wajah Medan. Perbedaan bahasa tidak menjadi tembok, melainkan jembatan tempat kasih dengan lembut menyebut nama setiap manusia.
Di balik warna dan menaranya, tersimpan kisah yang dikenang sebagai mukjizat pertama pada 2 November 2002. Setahun setelah arca Maria Annai Velangkanni tiba secara ajaib dari Tamilnadu, api menghanguskan lantai dua rumah Devadass di Jalan Kediri 27, Kampung Madras, Medan.
Di kamar Pastor James tersimpan sepuluh juta rupiah, sumbangan umat Paroki Banda Aceh untuk pembangunan graha. Uang itu dibungkus kertas folio dan handuk, dimasukkan ke kantong plastik, lalu ditinggalkan di atas meja ketika ia berangkat ke Jakarta pada 31 Oktober.
Ketika kabar kebakaran diterimanya di Bandara Soekarno-Hatta, kecemasan memenuhi perjalanan pulang. Kamar itu telah berubah menjadi puing; tempat tidur, meja, rak, dan buku menjadi arang. Di hadapan kuasa api, harapan akan keselamatan dana tersebut terasa begitu rapuh dan sepenuhnya mustahil.
Namun, di antara abu, bungkusan kertas folio itu ditemukan. Uang sepuluh juta rupiah tetap utuh tanpa disentuh api. Dua Alkitab dan sebuah buku Puji Syukur juga selamat, seolah dari reruntuhan terdengar bisikan bahwa kasih yang dipersembahkan tidak pernah dilupakan Tuhan.
Peristiwa itu meneguhkan keyakinan bahwa Bunda Maria tidak membiarkan persembahan umat sirna begitu saja. Uang tersebut bukan sekadar angka, melainkan keringat, kemurahan, dan kepercayaan. Yang diselamatkan dari api ialah pemberian manusia yang sedang dipersiapkan menjadi rumah perjumpaan suci dengan Allah.
Iman tentu tidak menjadikan mukjizat sebagai tontonan yang menyingkirkan akal budi. Iman membacanya sebagai tanda, yakni peristiwa konkret yang membuka pintu menuju makna yang lebih dalam. Orang boleh berkata kebetulan; hati beriman mendengar di dalamnya langkah rahmat yang bekerja diam-diam.
Karena itu, tekstur visual graha tidak dapat dipisahkan dari tekstur sejarahnya. Menaranya menjulang dari pengharapan, warnanya bersemi dari pengorbanan, dan ruang doanya lahir dari persembahan. Setiap sudut menjadi ingatan bahwa kasih yang sejati selalu membangun, menjaga, dan menyediakan tempat pulang.
Bagi saya, Graha Maria Annai Velangkanni adalah surat cinta yang ditulis dengan batu, warna, taman, dan doa. Setelah Munas mempertemukan persaudaraan para imam, menaranya menyempurnakan perjalanan itu dengan pesan sederhana: dalam kasih Allah, setiap langkah yang panjang akhirnya menemukan rumah.
