
Refleksi Traveling – KeuskupanAtambua.org – Di Setiap Jalan Kami Menemukan Saudara: Ketika Cinta, Ekologi, dan Keramahan Menjelma Menjadi Wajah Persaudaraan – Oleh: Rm. Yudel Neno, Pr
Ada perjalanan yang berakhir ketika kendaraan berhenti, tetapi ada pula perjalanan yang justru dimulai ketika kenangan menetap dalam batin. Perjalanan 18 September 2026 membawa kami melintasi beberapa tempat di Pematangsiantar, dengan wajah pelayanan, persaudaraan, pendidikan, dan keheningan alam yang indah.
Setiap persinggahan menghadirkan kisah yang berbeda, namun semuanya perlahan terhubung oleh satu benang merah, yakni cinta yang menerima, merawat, dan mempertemukan. Jalan-jalan yang kami lewati akhirnya bukan sekadar jalur perjalanan, melainkan ruang untuk menemukan makna persaudaraan yang mendalam dalam hidup.

Persinggahan pertama membawa kami ke Novisiat FCJM di Jalan Gotong Royong, Sinaksak. Di kompleks itu terdapat novisiat, rumah komunitas, serta Panti Asuhan Santo Pius, tempat anak-anak bertumbuh dalam perhatian, pendidikan, dan cinta yang dijaga dengan kesetiaan setiap hari oleh komunitas.
Tembok dan bangunan memang tampak nyata, tetapi kehidupan di dalamnya terasa jauh lebih kuat. Di sanalah panggilan dibina, harapan dirawat, dan kehidupan bersama ditumbuhkan. Rumah akhirnya tidak hanya berarti tempat tinggal, tetapi ruang tempat seseorang diterima, dihargai, disambut sebagai saudara.

Perjalanan kemudian membawa kami menuju Pusat Rehabilitasi Disabilitas Harapan Jaya di Jalan Asahan kilometer enam belas, Pematangsiantar. Di sana terdapat komunitas, klinik perawatan, serta anak-anak dan orang dewasa yang menjalani pendampingan dengan perhatian, ketekunan, kesabaran, dan ketulusan yang menyentuh hati.
Namun yang paling kuat tinggal dalam ingatan bukanlah fasilitas yang tersedia, melainkan cinta yang hadir tanpa banyak kata. Cinta di tempat itu tidak tampil sebagai rasa kasihan, tetapi sebagai pengakuan bahwa setiap manusia memiliki martabat sama, layak diperlakukan dengan hormat.
Mereka yang dirawat bukanlah orang lain yang jauh dari kehidupan kita. Mereka adalah saudara dan saudari kita, yang mungkin membutuhkan perhatian dengan cara berbeda. Namun perbedaan kebutuhan tidak pernah mengurangi martabat, nilai kehidupan, ataupun hak mereka untuk dicintai sepenuh hati.
Di sana, cinta perlahan menghapus jarak antara yang merawat dan yang dirawat. Yang satu mengulurkan tangan, yang lain mengajarkan ketulusan. Yang satu merawat tubuh, yang lain merawat kedalaman jiwa. Keduanya akhirnya sama-sama belajar menerima, memberi, bertahan, berharap, dan saling menguatkan.

Dari Harapan Jaya, perjalanan membawa kami menuju Komunitas Riety di Jalan Asahan. Di sana berdiri TK Santa Maria Asisi, SMP Asisi, SMA Asisi, SMK Asisi, serta asrama bagi putra dan putri yang menjadi bagian dari pelayanan pendidikan komunitas setiap hari.
Pendidikan di tempat itu terasa bukan hanya soal menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk manusia untuk belajar hidup bersama. Sekolah menjadi ruang di mana kecerdasan, tanggung jawab, disiplin, kepedulian, dan penghargaan terhadap sesama dipertemukan dalam proses pertumbuhan yang berlangsung terus menerus.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Naga Huta, tempat pembinaan dan Provinsialat Kapusin. Tempat ini menghadirkan keheningan, keteraturan, dan kedekatan dengan alam. Ada Gua Maria, klinik, rumah pembinaan postulan, kapel, taman, serta ruang kehidupan yang berbicara lembut melalui suasana damai yang menyelubunginya.
Tempat itu seakan menghidupkan kembali jiwa ekologis Santo Fransiskus dari Assisi, yang memandang ciptaan sebagai saudara dan saudari. Keindahan alam di sana seperti berkata bahwa Allah dapat ditemukan melalui cara manusia merawat tanah, pohon, bunga, hewan, dan lingkungan dengan kasih.
Merawat ciptaan bukan pekerjaan tambahan, melainkan bentuk doa yang dijalankan tangan manusia ketika bibir tidak mengucapkan kata. Kapel yang berdiri anggun tidak terasa elitis, sebab keindahannya justru mengajak siapa saja dalam keheningan, merendahkan diri, dan memandang Allah dengan hati terbuka.
Rumput hijau yang terhampar rapi seperti menyimpan pelajaran sederhana tentang kerendahan hati. Ia indah justru karena tidak berlomba menjadi lebih tinggi. Dari sana muncul kesadaran bahwa manusia pun menjadi indah ketika tidak merasa dirinya lebih tinggi daripada sesama yang lain.

Dari Naga Huta, perjalanan berlanjut menuju Tojai, tempat para lanjut usia Kapusin menjalani hari-hari dengan tenang. Di sana kami menemukan cara indah menghormati usia lanjut sebagai bagian mulia dari perjalanan hidup, bukan sekadar fase ketika seseorang dianggap tidak lagi produktif.
Ada masa ketika kaki berjalan cepat, tangan sibuk bekerja, suara lantang berkhotbah, dan hari-hari dipenuhi jadwal pelayanan. Namun waktu mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki musim, termasuk saat untuk melambat, beristirahat, menerima perhatian, dan membiarkan generasi berikutnya meneruskan karya dengan gembira.
Menghormati mereka yang lanjut usia bukan sekadar tindakan belas kasihan, melainkan penghargaan terhadap sejarah pengabdian. Pepohonan kelapa sawit dan hamparan tanaman singkong di sekitar tempat itu seolah ikut bercerita bahwa kehidupan mempunyai musim untuk bertumbuh, berbuah, lalu beristirahat dengan damai.

Menjelang akhir hari, kami tiba di Provinsialat FCJM di Jalan Viata Yudha nomor 74 – Pematangsiantar, dan menginap semalam. Di kompleks itu terdapat Komunitas Gracia, komunitas postulan, serta Komunitas Santa Clara bagi para suster lanjut usia yang menjalani kehidupan bersama dalam suasana hangat.

Gedungnya memang megah dan tertata, tetapi keramahan orang-orang di dalamnya jauh lebih mengesankan. Satu demi satu datang menyapa, tangan diulurkan, senyum diberikan. Jarak asal daerah seperti kehilangan kekuatannya ketika setiap orang diterima dengan ketulusan sebagai saudara dan saudari dalam iman.

Keramahan di sana bukan sekadar sopan santun, melainkan pengakuan terhadap kehadiran orang lain. Mereka tidak hanya memiliki rasa persaudaraan; melalui sikap sederhana, mereka sendiri telah menjelma menjadi saudara. Dalam senyum dan sapaan mereka, jarak berubah menjadi kedekatan yang menghangatkan hati.

Perjalanan berlanjut pada 19 September 2026 menuju Medan, dengan persinggahan di Komunitas FCJM Jalan Anggrek. Di sana terdapat TK Asisi, SD Asisi, SMP Asisi, kantin yang menyatu dengan dinamika pelayanan pendidikan dan kehidupan komunitas dalam keseharian yang sederhana penuh keakraban.

Kami diantar para Suster FCJM menggunakan kendaraan Provinsialat, kemudian diterima dan dijamu dengan kehangatan yang sama. Lokasinya berbeda, wajahnya berbeda, tetapi bahasa kasih tetap serupa. Persaudaraan ternyata mampu melampaui jarak, daerah, komunitas, kebiasaan, bahkan perjumpaan yang baru dimulai hari itu.
Pada semua tempat yang dikunjungi, perhatian terhadap ekologi terlihat nyata melalui pepohonan, bunga, tanaman, hewan peliharaan, dan lingkungan terawat. Semua itu mengingatkan pada spiritualitas Fransiskus dari Assisi yang menyapa seluruh ciptaan sebagai keluarga yang berasal dari tangan Pencipta yang sama.
Alam tidak diperlakukan sebagai benda mati, tetapi sebagai saudara yang perlu dihormati, dipelihara, dan diwariskan. Karena itu, keindahan lingkungan bukan sekadar dekorasi, melainkan kesaksian bahwa mencintai Pencipta seharusnya tampak nyata dalam cara manusia memperlakukan seluruh ciptaan-Nya dengan penuh tanggung jawab.
Namun dari seluruh perjalanan itu, kami menemukan bahwa persaudaraan tidak lahir terutama dari kesamaan daerah atau komunitas. Kristus, melalui darah kurban-Nya, telah meletakkan dasar persaudaraan, sehingga setiap perjumpaan, pelayanan, keramahan, dan perhatian terhadap ciptaan dapat mengubah orang asing menjadi saudara.
