
Pematangsiantar – KeuskupanAtambua.org – Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC menegaskan bahwa kekudusan seorang imam tidak dapat dihidupi dalam kesendirian. Kehidupan imamat membutuhkan persaudaraan, kerja sama, dan sinergi.
Pesan itu disampaikan Mgr Antonius dalam sambutannya sebelum membuka secara resmi Musyawarah Nasional XV Unio Indonesia di Catholic Center–Pusat Pembinaan Umat Keuskupan Agung Medan, Pematangsiantar, Senin (14/9/2026).

Mengawali sambutannya, ia menyampaikan salam bersama para uskup Indonesia kepada para pejabat, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Medan, para imam, serta seluruh peserta Munas.

Ia menyebut perjumpaan itu sebagai saat rahmat bagi para imam untuk kembali mempererat persaudaraan.
Mgr. Antonius kemudian mengarahkan perhatian para peserta pada salib.

Menurut dia, salib tidak hanya boleh dibaca sebagai tanda penderitaan. Bagi imam, salib juga menyentuh jati diri panggilan dan cara hidup.
Dalam konteks itulah kehidupan imam tidak dapat dilepaskan dari persekutuan.
“Kekudusan imam tidak dapat dirayakan dalam isolasi,” demikian salah satu gagasan pokok yang disampaikannya.
Kekudusan, lanjut dia, bertumbuh dalam persaudaraan, kerja sama, dan sinergi.
Karena itu, keberadaan Unio Indonesia mempunyai arti penting sebagai ruang persaudaraan bagi imam-imam diosesan.
Mgr. Antonius mengingatkan agar tidak ada saudara imam yang dibiarkan berjalan sendirian.
Persaudaraan perlu diperkuat melalui Ekaristi, kehidupan bersama, perhatian satu sama lain, serta kebersamaan dalam karya pelayanan.
“Menjadi imam diosesan tidak berarti berada dalam kesendirian,” demikian penekanannya.
Menurut dia, Munas perlu dibaca sebagai bagian dari gerakan sinodal dan fraternal.
Gerakan tersebut hendaknya mempertemukan para imam bukan hanya dalam pembicaraan mengenai program, tetapi dalam pengalaman konkret sebagai saudara yang saling menopang.
Mgr. Antonius juga mengingatkan agar Munas tidak berhenti sebagai formalitas organisasi.
Keputusan-keputusan yang nantinya dihasilkan tidak boleh hanya tersimpan dalam dokumen atau lembaran kertas.
Ia berharap hasil Munas diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam karya pelayanan imam diosesan di berbagai keuskupan.
Karena itu, persaudaraan, Ekaristi, sinergi, dan pelayanan perlu menjadi satu kesatuan.
Ia menyampaikan ucapan selamat dan proficiat kepada Unio Indonesia, panitia, serta seluruh peserta yang telah mengambil bagian dalam pertemuan tersebut.
“Semoga Munas ini menjadi momen rahmat untuk semakin mempererat persaudaraan,” demikian harapannya.
Pembukaan Munas berlangsung di hadapan sejumlah uskup yang hadir, antara lain Uskup Ruteng Mgr Siprianus Hormat, Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko, Uskup Sibolga Mgr Fransiskus Tuaman Sinaga, Uskup Agung Palembang Mgr Yohanes Harun Yuwono, Uskup Sanggau Mgr Valentinus Saeng CP, Uskup Malang Mgr Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm, dan Uskup Padang Mgr Vitus Rubianto Solichin SX.
Hadir pula Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi, Wakil Ketua DPRD Kota Pematangsiantar Ir Daud Simanjuntak, serta Ketua DPRD Kabupaten Malaka Adrianus Bria Seran.
Seremoni kemudian mencapai puncaknya ketika Mgr Antonius Subianto Bunjamin memukul gong, didampingi para uskup yang hadir, sebagai tanda Munas XV Unio Indonesia secara resmi dibuka.
Bunyi gong itu sekaligus mengawali perjalanan Munas yang hendak menegaskan kembali satu hal mendasar dalam kehidupan imam diosesan Indonesia: panggilan tidak dijalani sendiri.
Di tengah perubahan pastoral, sosial, dan digital yang semakin cepat, imam dipanggil untuk berjalan bersama—bersaudara, bersinergi, dan bersaksi—agar pelayanan tidak berpusat pada diri sendiri, tetapi semakin memperlihatkan Kristus kepada umat dan dunia.
oleh Yudel Neno, Pr
