
Refleksi Kritis – KeuskupanAtambua.org – Kanvas Imajinasi di Pelataran Oe’ Apot: Ketika Kuas Romo Sony Merawat Seni dan Harapan Generasi Muda – oleh Rm. Sixtus Bere, Pr
Di tengah riuhnya tepuk tangan dan gema musik daerah dari panggung utama Teater Oe’ Apot, sebuah sudut di halaman pelataran menyajikan pemandangan yang tak kalah memikat. Di saat pertunjukan kebudayaan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Kristus Raja Haumeni tengah berlangsung seru, Romo Sony Akoit terlihat duduk tenang di hadapan kanvas-kanvas putih. Berbekal kuas, cat, dan imajinasi yang meluap, sang imam muda ini melukis—merekam getaran, bentuk, dan warna dari dinamika panggung ke dalam sebuah karya visual secara langsung (live painting).

Aksi melukis ini bukan sekadar pamer ketangkasan olah rupa, melainkan sebuah bentuk penafsiran atas realitas seni yang sedang bergelora. Tarikan kuas Romo Sony membaca ruang, mengaitkan ritme tarian dan menyerap energi penonton untuk ditumpahkan ke atas kain kanvas. Secara filosofis, seni lukis di sini mewujud sebagai meditasi bergerak—sebuah proses dialog antara rasa, ruang spiritual, dan ekspresi kebudayaan yang tengah dirayakan.

Yang membuat peristiwa ini luar biasa adalah sifatnya yang inklusif dan edukatif. Romo Sony tidak mengisolasi dirinya sebagai seniman tunggal. Pelataran teater tempatnya berkarya dengan cepat berubah menjadi sebuah klinik lukis terbuka. Anak-anak muda dan remaja yang awalnya hanya berkerumun menyaksikan dengan penuh rasa ingin tahu, perlahan ditarik masuk ke dalam lingkaran proses kreatif. Romo Sony menyodorkan kuas, mengundang mereka untuk ikut menorehkan warna, merancang garis dan menyumbangkan imajinasi mereka pada kanvas yang sama.
Metode partisipatif ini membawa filosofi mendalam: bahwa seni bukanlah milik segelintir elit atau ruang galeri yang kaku, melainkan milik bersama yang berakar pada kehidupan masyarakat. Melalui kesempatan memberi goresan awal bersama anak-anak, Romo Sony sedang meruntuhkan tembok rasa takut salah dalam berkarya.
Anak-anak diajak merasakan sensasi memindahkan emosi dan ide ke dalam visual. Setelah energi polos dari generasi muda itu tertuang, barulah Romo Sony memberikan sentuhan akhir (finishing touch). Dengan kemahiran tekniknya, beliau menyelaraskan komposisi, merapikan batas-batas bentuk, dan memoles karya tersebut hingga mencapai keutuhan estetis yang padu tanpa menghilangkan jejak jemari anak-anak yang telah ikut berkontribusi.
Integrasi seni rupa ke dalam Festival OMK Haumeni ini menjadi oase edukasi yang sangat berharga.
Pendekatan klinis yang hangat ini berhasil mendekatkan seni rupa secara nyata kepada generasi muda Haumeni. Lukisan yang lahir di halaman Teater Oe’ Apot sore itu akhirnya bukan sekadar dokumentasi visual atas festival, melainkan simbol kolaborasi, keberanian berekspresi, dan warisan nilai estetika yang ditanamkan secara alami kepada calon-calon penerus masa depan.
Rm. Sixtus Bere – Haumeni – Editor – Yudel Neno
