
ATAMBUA — KeuskupanAtambua.org – Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Atambua memberikan pelatihan penulisan berita kepada 50 siswa-siswi SMP dan SMA Taruna Paroki Santo Agustinus Fatubenao di Aula Paroki Fatubenao, Senin (5/10/2026). Melalui pemaparan materi dan praktik secara individu serta kelompok, kegiatan ini membekali pelajar dengan keterampilan jurnalistik untuk mendukung pendidikan mereka pada tahap selanjutnya.

Pelatihan tersebut melibatkan Ketua Komsos Keuskupan Atambua Rm. Yudel Neno, Pr., staf Komsos Keuskupan Atambua Yulius Mali, dan staf Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Atambua Okto Klau.

Pastor Paroki Santo Agustinus Fatubenao Rm. Primus Seran, Pr., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut telah tercantum dalam kalender Keuskupan Atambua sekaligus menjadi bagian dari program paroki.

Menurut Romo Primus, pelatihan ini merupakan kesempatan berharga bagi para pelajar untuk belajar bersama. Kebutuhan akan tulisan yang menyajikan informasi secara lebih lengkap menjadi salah satu alasan pentingnya pengembangan keterampilan menulis.

Ia menjelaskan, pelajar dipilih sebagai kelompok sasaran agar memiliki bekal yang dapat digunakan dalam jenjang pendidikan berikutnya. Karena itu, materi yang diterima diharapkan dapat menjadi dasar untuk mengembangkan kemampuan mereka.

Romo Primus juga berharap pelatihan tidak berhenti pada satu kegiatan. Ia mendorong adanya pembelajaran berkelanjutan dan mengajak peserta mencari peristiwa aktual sebagai bahan tulisan.

Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan terima kasih kepada kepala SMP dan SMA Taruna atas dukungan terhadap keterlibatan para pelajar.

Pada sesi materi, Pak Okto Klau menjelaskan pentingnya unsur 5W+1H sebagai dasar penulisan berita. Unsur tersebut mencakup apa yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan dan di mana peristiwa berlangsung, mengapa peristiwa terjadi, serta bagaimana proses kejadiannya.

Ia menekankan bahwa berita harus disusun berdasarkan fakta. Oleh sebab itu, penulis perlu menghindari penggunaan opini dan asumsi pribadi dalam menyampaikan informasi mengenai suatu peristiwa.

Pemahaman terhadap unsur-unsur tersebut membantu peserta mengenali informasi yang perlu dikumpulkan sebelum mulai menulis.

Sementara itu, Rm. Yudel Neno menguraikan sejumlah tips praktis merumuskan judul berita dengan menggunakan pola sederhana. Ia juga menjelaskan syarat-syarat penyusunan lead atau kepala berita, kemudian membahas angle, yakni sudut pandang yang digunakan untuk menentukan fokus penulisan.

Melalui materi tersebut, peserta dibimbing memahami hubungan antara informasi utama, judul, dan paragraf pembuka berita.

Setelah pemaparan materi, peserta dibagi ke dalam lima kelompok untuk mengikuti praktik penulisan berita. Sesi ini dipandu langsung oleh Rm. Yudel dengan pendampingan Pak Okto Klau.

Dalam latihan tersebut, Rm. Yudel mengarahkan peserta untuk mengidentifikasi dan mencatat poin-poin informasi sesuai dengan setiap unsur 5W+1H. Pemetaan informasi itu menjadi bahan untuk merumuskan judul dan kepala berita.

Peserta terlebih dahulu dibimbing menulis secara individu. Selanjutnya, mereka bekerja sama untuk menghasilkan berita kelompok.

Mereka juga diberi kesempatan untuk saling mengkritisi tulisan dan memberikan masukan. Judul serta kepala berita yang telah disusun kemudian dipresentasikan sebagai bagian dari proses pembelajaran bersama.

Cara ini memberi ruang bagi peserta untuk menerapkan materi, mendiskusikan pilihan informasi, dan memperbaiki hasil tulisan mereka.

Menanggapi pelaksanaan kegiatan, Rm. Primus mengapresiasi para peserta serta Komsos Keuskupan Atambua yang telah memberikan pelatihan kepada anak-anak di parokinya.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan melalui praktik menulis secara terus-menerus. Latihan dari waktu ke waktu diharapkan membantu peserta mengembangkan keterampilan yang telah diperkenalkan selama pelatihan.
Rm. Yudel juga menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme para pelajar. Menurutnya, peserta menunjukkan daya tangkap yang kuat dalam memahami materi dan mengikuti latihan.
Meskipun pelatihan berlangsung dalam satu hari, para peserta dinilai mampu bekerja sama dan menghasilkan berita sesuai dengan harapan yang ditetapkan sejak awal kegiatan.
Pelatihan ini turut didampingi oleh Frater TOP Paroki Fatubenao serta dua orang guru, Stef Hareva dan Delvi.
