
HANEMASIN — KeuskupanAtambua.org – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Atambua memberikan pelatihan penulisan berita kepada 24 pelajar dari tiga SMA dan satu SMP di Paroki Hanemasin, Dekenat Malaka, Keuskupan Atambua, Selasa (29/9/2026). Kegiatan di Aula Paroki Hanemasin itu memadukan pemaparan materi, dialog, dan praktik menulis untuk membekali peserta agar dapat berkontribusi dalam karya pastoral melalui tulisan.

Pelatihan berlangsung pukul 10.00–14.30 Wita dengan dua fasilitator, yakni Ketua Komsos Ad Interim Keuskupan Atambua Rm. Yudel Neno, Pr dan staf Pusat Pastoral Keuskupan Atambua Okto Klau. Dari kegiatan tersebut terkumpul 20 naskah berita tulisan tangan peserta yang akan disunting untuk dipublikasikan.

Dalam pengantar pembukaan, Pastor Paroki Hanemasin Rm. Kornelis Bau Subani menyampaikan terima kasih atas tanggapan dan komunikasi yang lancar sehingga pelatihan dapat terlaksana setelah sebelumnya tertunda.

Ia berharap para peserta mengikuti seluruh proses dengan sungguh-sungguh. Keterampilan yang diperoleh diharapkan menjadi bekal bagi mereka untuk memberikan kontribusi positif melalui kegiatan menulis, terutama bagi kepentingan karya pastoral di Paroki Hanemasin.

Dalam pemaparan materi, Okto Klau menjelaskan pentingnya unsur 5W+1H sebagai dasar penulisan berita. Unsur tersebut mencakup apa yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan dan di mana peristiwa berlangsung, mengapa peristiwa itu terjadi, serta bagaimana prosesnya.

Pemahaman atas unsur-unsur tersebut menjadi landasan bagi peserta untuk menyusun informasi secara lengkap dan membantu pembaca memahami peristiwa yang diberitakan.

Sementara itu, Rm. Yudel Neno membahas cara merumuskan judul, menyusun alur berita, serta memenuhi syarat penulisan lead atau teras berita. Ia juga menjelaskan penentuan angle atau sudut pandang yang menjadi fokus pemberitaan.

Materi lainnya meliputi unsur-unsur penting dalam publikasi foto dan video, serta hierarki penyajian keterangan waktu dan lokasi dalam penulisan berita. Pembahasan ini melengkapi pemahaman peserta tentang penyusunan berita dan penggunaan materi visual yang menyertainya.

Setelah menerima materi, peserta langsung berlatih. Mereka dibimbing merumuskan judul, menyusun teras berita, kemudian mengembangkan tulisan menjadi berita. Dengan demikian, pelatihan memberi kesempatan kepada peserta untuk menerapkan pengetahuan yang baru diperoleh.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Mereka aktif bertanya dan terlibat dalam dialog dengan para fasilitator. Pertanyaan yang berkaitan dengan materi menunjukkan perhatian mereka terhadap penjelasan sekaligus keinginan untuk memahami cara menulis berita.
Praktik tersebut menghasilkan 20 naskah berita tulisan tangan. Naskah-naskah itu menjadi hasil konkret pelatihan sekaligus bahan pendampingan lanjutan bagi peserta.
Usai pelatihan, peserta juga diminta mengisi lembar evaluasi dengan lima indikator sebagai titik masuk penilaian, yakni input (masukan), proses, output (keluaran), outcome (hasil), dan impact (dampak). Evaluasi ini memberi ruang bagi peserta untuk menyampaikan penilaian atas pelaksanaan kegiatan dan manfaat yang mereka peroleh.
Secara umum, hasil evaluasi menunjukkan tanggapan positif peserta dan memberikan gambaran awal bahwa pelatihan telah berjalan baik. Penilaian tersebut menjadi bahan bagi penyelenggara untuk mengembangkan pendampingan berikutnya, sementara hasil dan dampak jangka panjang dapat ditinjau melalui keberlanjutan kegiatan menulis para peserta.
Pada penghujung kegiatan, Rm. Kornelis kembali menyampaikan terima kasih atas kesediaan kedua fasilitator mendampingi anak-anak di parokinya. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi diterapkan melalui kebiasaan menulis.
Sebagai tindak lanjut, Rm. Yudel Neno dan Okto Klau menyatakan komitmen untuk membawa pulang seluruh naskah hasil latihan. Tulisan peserta akan disunting secara objektif dan disiapkan untuk dipublikasikan di situs web Keuskupan Atambua serta beberapa situs web lainnya.
Rencana publikasi tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut pelatihan, sekaligus membuka kesempatan bagi para pelajar untuk menghadirkan karya tulis mereka kepada pembaca yang lebih luas.
