
Refleksi Kritis – KeuskupaAtambua.org – MUSIK SEBAGAI KATHARSIS – PENGALAMAN ESTETIS DALAM KONSER Calpestando La Terra – Sostenendo il Cielo – oleh Rm. Sixtus Bere, Pr
Bagian I : Konser – Jalan menuju Pengalaman dan Pengetahuan seni
Bulan November, bagi sebagian besar orang di Timor merupakan bulan dan saat mereka bersentuhan dengan tanah. Tanah dan bebatuan yang basah mengundang orang untuk menanam dan kembali merawat bumi.
Di beberapa tempat, masih terdengar dentuman musik dan riak-riak pesta nikah dan beberapa pesta kecil yang seakan tidak pernah berakhir sepanjang tahun. Di antara kesibukan khas November tersebut, tersisip sebuah agenda yang nyaris tidak tergubris; konser musik Calpestando La Terra – Sostenendo il Cielo.
Ungkapan bahasa Italia tersebut diterjemahkan sebagai “menyentuh bumi dan menjunjung langit” sebuah upaya untuk menyatukan unsur-unsur duniawi dengan nilai-nilai ilahi yang nampak dalam melodi dan lagu serta penampilan artistik dari para frater Seminari Tinggi St. Mikhael dan sekelompok Mahasiswi UNIKA Widya Mandira Kupang.
Dalam Konser tersebut, musik dialami sebagai bentuk ekspresi manusia yang paling universal, namun sekaligus paling misterius. Ia berbicara tanpa kata, menembus ke kedalaman makna eksistensial manusia.
Dalam konteks filsafat seni, musik bisa dipahami sebagai jembatan antara dunia inderawi dan dunia ide — antara phenomena dan noumena bila kita meminjam istilah Immanuel Kant. Orang tidak harus menjadi seniman untuk menikmati karya musik malam itu.
Kant, dalam Kritik der Urteilskraft, §5 (1790), menyebut „Das Schöne ist das, was ohne Begriff als Gegenstand eines allgemeinen Wohlgefallens vorgestellt wird.“ Keindahan sebagai “kesenangan tanpa konsep,” suatu pengalaman bebas yang tidak diarahkan pada tujuan utilitarian, tetapi membuka ruang bagi kontemplasi atas keteraturan dan harmoni alam semesta. Dalam pengertian ini, pengalaman musik adalah pengalaman subjektif tentang harmoni kosmos yang dipersepsi melalui pendengaran manusia.
Konser Calpestando La Terra – Sostenendo il Cielo beberapa waktu lalu di Bale Biinmafo, menghadirkan pengalaman tersebut: musik yang tidak hanya indah, tetapi juga sarat dengan kesadaran ekologis dan spiritual.
Tema konser, sebagaimana saya sarikan dari sambutan Dekan Fakultas Filsafat Agama UNIKA Widya Mandira Kupang (Rm. Yohanes Subani, Pr)— memuji kebesaran Tuhan dalam keindahan ciptaan serta tanggung jawab manusia sebagai homo viator — mencerminkan pandangan bahwa keindahan bukan sekadar sensasi, tetapi jalan menuju kebenaran dan kebajikan (pulchrum – verum – bonum). Di sinilah musik menjadi ziarah rohani yang menyatukan manusia dengan Tuhan dan sesamanya melalui nada dan harmoninya.
Beberapa dekade sebelum Kant, Alexander Gottlieb Baumgarten (1714–1762) meletakkan dasar keilmuan bagi pengalaman ini. Baginya, estetika adalah sebuah ilmu. Dialah pencetus istilah aesthetica sebagai “ilmu tentang pengenalan indrawi” (scientia cognitionis sensitivae) — menekankan bahwa seni memiliki nilai epistemologis tersendiri. Keindahan bukan sekadar kesenangan, melainkan bentuk pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman inderawi yang teratur dan harmonis.
Maka, unsur-unsur musikal seperti harmoni, melodi, ritme, tempo, dinamika dan notasi bukan hanya komponen teknis, melainkan medium epistemik yang mengungkap keteraturan ciptaan.
Harmoni menghadirkan keseimbangan; melodi menyuarakan arah dan tujuan; ritme menyatakan keteraturan waktu; tempo menandai intensitas hidup; dinamika menggambarkan gerak emosi; sementara kesetiaan terhadap notasi (fidelity to text) menegaskan penghormatan terhadap bentuk dan hukum musikal yang telah disusun — sebuah bentuk “ketaatan artistik” yang paralel dengan ketaatan moral dalam etika Kantian.
Secara musikal, Calpestando La Terra memperlihatkan kesadaran terhadap struktur musikal ini, meski dalam keterbatasan sarana dan property ideal serta logika ruang yang utopis.
Harmoni dalam paduan suara SATB (soprano–alto–tenor–bass) menjadi simbol komunitas: suara berbeda yang berpadu tanpa meniadakan perbedaan.
Melodi yang dibentuk dari interval demi interval dalam setiap lagu pilihan, menciptakan rasa hangat dan mendukung pesan spiritual yang hendak disampaikan.
Ritme yang stabil dan tempo sedang memungkinkan refleksi batin; sementara dinamika yang berganti antara piano dan forte menggambarkan dinamika kehidupan manusia yang menapak di bumi dan berharap ke langit.
Pendekatan teoretis terhadap unsur-unsur musik ini memperlihatkan bagaimana musik dapat dibaca sebagai teks — bukan hanya teks nada, tetapi teks pengalaman.
Dalam perspektif hermeneutik estetis, kesetiaan pada teks musik (fidelity to text) bukan berarti kekakuan, tetapi bentuk kesetiaan kreatif terhadap makna.
Konduktor (dirigen) bertindak seperti seorang hermeneut yang menafsirkan teks bunyi menjadi pengalaman kolektif; para penyanyi menjadi “penafsir” yang memediasi antara naskah partitur dan resonansi spiritual di hati pendengar.
Dari sinilah tampak bahwa konser ini bukan sekadar aktivitas hiburan atau persembahan budaya, tetapi ruang pembelajaran estetis, filosofis dan bahkan teologis.
Ia mempertemukan dua horizon pemahaman yang saling mengisi — horizon musikal (bunyi, harmoni, ritme) dan horizon teologis (iman, ciptaan, tanggung jawab ekologis).
Sebagaimana dikatakan oleh Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ (2015), keindahan adalah jalan untuk menemukan makna terdalam kehidupan. Di mana saja. “Beauty … appears everywhere: in the shape of a church, in the sounds, in the colours, in the lights, in the scents.” (LS 235). “Keindahan … muncul di mana-mana: dalam wujud sebuah gereja, dalam suara-suara, dalam warna-warna, dalam cahaya, dalam aroma.”
Maka, konser ini menjadi bentuk praxis estetik yang menyuarakan iman dalam bahasa yang universal.
Konser adalah sebuah ziarah dan perjalanan (Journey), bukan hanya dari satu lagu ke lagu berikutnya, tetapi perjalanan spiritual dan ekologis, di mana manusia menyadari kaitannya dengan ciptaan untuk “berjalan bersama” menuju terang. Konser musik demikianlah yang menghubungkan bumi dan langit, manusia dan Sang Pencipta.
Bagian II: Elemen Estetika dan Penjiwaan dalam Ragam Tradisi Musik …….. bersambung
