
KeuskupanAtambua.org – Dalam rangka mengimplementasikan Visi Pastoral Keuskupan Atambua 2023-2028;”Umat Allah keuskupan Atambua Semakin Cerdas dan Sejahtera dalam Semangat Sinodalitas” khususnya Misi “Meningkatkan Kerja Sama yang Dialogis dan Inovatif di lingkup internal dan eksternal Gereja”, Paroki Kristus Raja Seon menyelenggarakan Dialog Tiga Batu Tungku dengan Tema : “Membangun Manusia yang Beriman, Cerdas, Sejahtera dan Berbudaya Dalam Sinodalitas”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 12 November 2025 bertempat di Pandopo Pastoran Seon, Pukul 09. 00 WITA-Selesai.

Hadir dalam kegiatan dialog ini adalah Wakil Bupati Malaka, Bapak Hendry Melki Simu A. Md mewakili komponen Pemerintah, Pater VikJend Keuskupan Atambua, P. Vincentius Wun, SVD mewakili kompenan Gereja dan Bapak Dr. Bele Antonius wemakili komponen Adat.

Dalam sambutan pembukanya, Pastor Paroki Kristus Raja Seon; Rm. Aloysius Kosat, Pr menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu program fokus Paroki Kristus Raja Seon dalam tahun 2025. Ia menampilkan 5 tujuan diadakan kegiatan ini yaitu;
1. Meningkatkan semangat sinodalitas dan kerja sama dalam usaha membangun manusia seutuhnya di wilayah Kabupaten Malaka, khususnya di Paroki Kristus Raja Seon
2. Menghargai adanya keragaman dan pluralitas sebagai kekayaan sekaligus kekuatan
3. Terciptanya pelayanan publik yang menunjang martabat dan harga diri manusia
4. Tersedianya sarana pelayanan publik yang memadai demi peningkatan mutu hidup dan kesejahteraan serta kenyamanan hidup bersama
5. Mengurangi masalah-masalah sosial yang sering terjadi di wilayah Kabupaten Malaka, khususnya di Paroki Kristus Raja Seon.

Bertindak sebagai pembicara pertama, Pater VikJend Keuskupan Atambua menjelaskan tentang visi dan misi Bapak uskup Atambua dari masa ke masa yang menjadi jiwa, inspirasi dan arah yang menggerakkan seluruh karya penggembalaan Para Uskup. “Visi Bapak Uskup Atambua dalam program Pastoral Tahun 2023-2028 adalah Umat Allah Keuskupan Atambua semakin cerdas dan sejahtera dalam semangat sinodalitas,”tandasnya.

Lebih lanjut ia menguraikan tiga misi untuk mencapai visi dari Bapak Uskup Atambua. Tentang misi “meningkatlan pendidikan iman dan kecerdasan manusiawi di lingkup keluarga, masyarakat dan sekolah” ia menekankan bahwa bapak dan mama di keluarga adalah pendidik dan pengajar utama. “orang tua harus mewariskan yang baik kepada anak-anak. Mengajarkan anak untuk berdoa, untuk menulis dan membaca”, imbuhnya.

Terkait misi “mengembangkan cara pikir dan cara tindak ekonomis”, ia mengingatkan agar orang bekerja mengolah tanah, melatih anak-anak mendapatkan uang dan belajar menabung. Sedangkan mengenai misi ketiga, ia menghimbau untuk selalu ada kerja sama berbagai pihak dalam memperjuangkan sesuatu yang baik. “Salah contoh adalah kegiatan yang diprogramkan oleh Paroki Seon hari ini”, tandasnya.

Sebagai narasumber dari komponen pemerintah, Bapak Henri Melki Simu menampilkan dan menjelaskan Visi dan Misi Bupati dan Wakil Bupati Malaka Periode 2024-2029. Ia menampilkan berbagai data pencapaian pemerintah dalam berbagai bidang dan sektor yang sudah dikerjakan selama ini. “Dalam sektor pertanian, kita adakan balik tanah gratis di berbagai kecamatan. Semoga sebelum hujan, banyak lahan yang sudah dibalik untuk membantu masyarakat”, tuturnya. Ia meminta masyarakat untuk turut mendukung berbagai program dari pemerintah.

Menutup sesi pemaparan materi, Bapak Antonius Bele menjelaskan tentang ,”Atambua Eden; Dalam Kenyataan -Tantangan-Tindakan -Harapan”. Ia mengatakan bahwa salah satu akar penyebab persoalan sosial di Keuskupan Atambua adalah kemiskinan. Karena itu Bapak Uskup Atambua mencanangkan Atambua Eden untuk memotivasi umat Keuskupan Atambua untuk bekerja. “Menurut Almarhum Gubernur Ben Mboi, tidak ada tanah yang subur di NTT ini selain Malaka”, kenangnya. Karena itu ia memotivasi peserta untuk berkerja. Terkait sinodalitas, beliau memperkenalkan 4A: Alam, Adat, Agama dan Aturan. Keempat hal ini harus berjalan bersama untuk kebaikan bersama. “Semua komponen harus kembali menghayati budaya gotong royong”, tambahnya.
Memasuki dialog dan diskusi ada berbagai tanggapan, pertanyaan dari peserta kegiatan mengenai berbagai persoalan sosial termasuk meminta pencerahan dari para Nara sumber.
Di dalam diskusi ini ada beberapa isu yang diangkat dan sekaligus rekomendasi untuk program pastoral pada waktu mendatang. Isu dan rekomendasi itu diruumuskan demikian ;
1. Meningkatnya pasangan kumpul kebo
2. Adanya dugaan kemudahan-kemudahan yang membuat pasangan kumpul kebo terlena untuk tidak berkat nikah
3. Maraknya pemalakan di jalan-jalan
4. Konflik, perkelahian bahkan pembunuhan antar perguruan bela diri
5. Pasangan suami-isteri yang bermasalah karena pisah ranjang berkepanjangan
6. Pekerja Migran Perantau (PMK) yang bermasalah (ilegal)
7. Pembatasan waktu pesta
8. Kebutuhan dasar manusia (air, jalan dan listrik/penerangan)
9. Surat Permandian menjadi rujukan awal untuk segala urusan administrasi
10. Pemerataan tenaga pendidik di sekolah swasta dan Negeri
11. Penertiban Miras
12. Penertiban Perjudian
13. Pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup
14. Pemisahan daerah pertanian dan peternakan
15. Penguatan identitas budaya
16. Penertiban koperasi-koperasi ilegal (rentenir)
Kegiatan dialog ini kemudian menghasilkan beberapa rekomendasi untuk ditindaklanjuti bersama oleh ketiga komponen ini dan untuk disosialisasikan lebih lanjut ke tingkat rumput.
Peserta dalam kegiatan dialog Tiga Batu Tungku ini adalah Para Pastor, Diakon, Frater, Suster, Para Camat dan Para Kepala Desa se-Paroki Seon, Ama Nai Loro dan Para Ketua Suku dan Ketua Adat se-Paroki Seon, Para Kepala Puskesmas se-Paroki Seon, DPP/DKP Paroki Seon, Para Pengurus Stasi-Lingkungan, Para Ketua Kelompok Kategorial, Para Kepala Sekolah SD-SMA se-Paroki Seon. Kegiatan ditutup dengan sangat siang dan foto bersama.
By. Odilia. Editor : Yudel Neno
