
Dekenat Mena — KeuskupanAtambua.org – Rekoleksi Kategorial hari pertama di Aula Dekenat Mena, Selasa, 9 Desember 2025, diawali dengan sambutan hangat dari Rm. Yohanes Seran Nahak, Pr. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih atas kehadiran Mgr. Dominikus Saku, Pr serta seluruh peserta, sekaligus mengajak umat untuk sungguh-sungguh menyimak seluruh rangkaian refleksi tentang Ziarah Harapan. Ia menegaskan pentingnya membangun karakter peziarah yang setia pada petunjuk Allah sebagai dasar pembaruan hidup beriman.

Rekoleksi bertema “Ziarah Harapan: Mewujudkan Misi Allah dalam Kekuatan Rahmat dan Kelemahan Kodrati” ini diikuti 463 peserta berdasarkan format registrasi, yang terdiri dari para pastor, frater, suster, perwakilan DPP/DKP, tokoh pemerintah, adat, masyarakat, serta para agen pastoral dari berbagai wilayah pelayanan di Dekenat Mena.

Dalam sesi renungan mimbar, Uskup Atambua mengawali refleksinya dengan menegaskan dua kodrat utama manusia, yakni sebagai makhluk berpikir dan makhluk berhati nurani. Ia mengingatkan bahwa kemampuan berpikir kerap disalahgunakan hingga manusia terus-menerus jatuh dalam kekeliruan, sementara hati nurani pun dapat menjadi tumpul jika tidak dilatih dalam terang iman.

Sambil mengutip Kejadian 32:3–21 tentang pergulatan Yakub, Uskup menegaskan pesan mendalam bahwa Tuhan Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya dalam perjalanan hidup. Dari teks itu, umat diajak melihat bahwa di balik ketakutan, konflik, dan kerapuhan, selalu terbentang kesempatan untuk mengalami penyertaan dan pembaruan dari Allah.

Uskup kemudian mengurai keretakan dalam sejarah peziarahan Gereja dengan menyinggung problem skismatik Timur–Barat pada masa awal. Menurutnya, luka-luka dalam tubuh Gereja perlu disadari secara jujur, karena kesadaran itulah yang membuka jalan bagi penyembuhan dan pertobatan yang sejati.

Belajar dari Abraham, umat diajak menimba keteguhan iman seorang peziarah sejati. Abraham melintasi banyak tempat dengan jarak yang jauh dan tantangan yang tidak ringan, bahkan berhadapan dengan tuntutan iman yang sering kali tidak masuk akal, namun semangatnya tidak pernah kendor. Dari teladan itu, Uskup menegaskan bahwa perjalanan hidup boleh sulit, tetapi manusia tidak boleh menggantungkan harapan pada kesulitan.

Dalam dunia yang kerap diatur oleh silang sengketa, Uskup mengingatkan bahwa sandaran utama manusia tetaplah Allah. Ia juga mengajak umat untuk belajar dari Yakub yang akhirnya menjadi Israel, sebagai simbol perubahan hidup dari rapuh menjadi kuat oleh karya rahmat.

Kelemahan manusia, tegas Uskup, bukan untuk dipelihara, melainkan harus dirombak dan diperangi agar rahmat Allah dapat bekerja secara efektif. Rahmat hanya dapat berbuah apabila manusia sungguh membuka diri pada kebaikan dan pertobatan yang nyata dalam hidup sehari-hari.

Uskup juga memperkenalkan empat kata kunci spiritualitas, yakni admit (taat kepada Allah), commit (rela menghidupi kehendak Allah), submit (setuju menjalankan kehendak Allah), dan surrender (penyerahan diri secara total kepada Allah). Menyembah Allah, katanya, harus dilakukan dalam kebenaran, yaitu kebenaran tentang pengorbanan kasih. Ia mengaitkan hal itu dengan peristiwa ketika Pilatus bertanya kepada Yesus tentang apa itu kebenaran, namun Yesus memilih menjawabnya dengan jalan salib.

Selain itu, Uskup menyoroti berbagai tantangan ideologi zaman ini, seperti indiferentisme iman dan moral, materialisme, konsumerisme, hedonisme, kapitalisme, apatisme, feodalisme, nepotisme, hingga anarkisme. Semua itu dinilai sebagai ancaman serius bagi pertumbuhan iman dan karakter Kristiani umat.

Problem media sosial pun mendapat perhatian khusus. Uskup melihat adanya pertarungan antara dunia nyata dan dunia virtual, antara realitas dan “dunia salinan”. Dampaknya terasa pada hilangnya arah, pijakan, dan relasi, di mana banyak orang tampak lebih berani di media sosial, tetapi menjadi mati kutu dalam perjumpaan nyata.

Uskup juga mengkritisi tantangan mental, kultur, dan struktur sosial. Mental STEL (Selera Tinggi, Ekonomi Lemah), kultur komunalisme konsumtif, serta struktur yang feodalis dinilai memperparah beban hidup umat. Ia menyinggung kebiasaan kumpul keluarga yang meninggalkan utang berkepanjangan serta praktik tim sukses dalam politik yang sangat nepotis dan merusak relasi.

Dalam sesi ceramah dan dialog, Uskup mengaitkan refleksi tersebut dengan arah pastoral hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia V. Ia menyinggung isu-isu kunci seperti sinodalitas, doa dan sakramen, pendidikan dan pengangguran, kehidupan keluarga dengan kebiasaan yang tidak kristiani, karakter OMK yang rentan minus malum, persoalan migran dan perantau, kebijaksanaan bermedia sosial dan sikap terhadap praktik judi, kesejahteraan yang dihadapkan pada kemiskinan dan kebodohan, hingga tanggung jawab ekologis.
![]()
Sebagai penutup yang bersifat simbolik sekaligus konkret, usai sesi ceramah dan dialog, Uskup Atambua bersama para pastor, suster, dan umat bergerak menuju sumber air di bukit Oepuah. Di lokasi tersebut dilakukan aksi nyata ekologi berupa hambur bibit ketapang hutan sebagai wujud komitmen iman yang diterjemahkan dalam kepedulian terhadap ciptaan.

Rekoleksi Kategorial hari pertama di Dekenat Mena ini menegaskan bahwa ziarah iman tidak cukup berhenti pada refleksi dan wacana, tetapi harus berbuah dalam pertobatan pribadi, pembaruan sosial, serta tindakan nyata menjaga kehidupan dan lingkungan.
Laporan : Komsos Dekenat
Editor : Yudel Neno
