
Efudini— KeuskupanAtambua.org – Uskup Atambua Mgr. Dominikus Saku, Pr mengajak para imam dan umat merawat kesetiaan panggilan serta memperluas kepedulian terhadap kehidupan bersama dalam perayaan syukur ulang tahun imamat ke-34 di Kapela Stasi Santo Markus Efudini, Paroki Santa Sesilia Kotafoun, Kabupaten Malaka, Selasa (29/9/2026). Pesan itu disampaikan melalui pengantar Misa, homili, dan sambutan sebagai refleksi atas perjalanan pelayanan selama 34 tahun.

Perayaan tersebut merupakan ungkapan syukur Mgr. Dominikus Saku, Pr; Rm. Baltasar Seran, Pr; Rm. Yanuarius Seran, Pr; Rm. Donatus Tefa, Pr; dan Rm. Leonardus Nahas, Pr.
Dalam pengantarnya, Uskup mengenang 64 imam angkatan tahbisan 1992, termasuk rekan-rekan dari Flores. Ia bersyukur karena Tuhan senantiasa melimpahkan rahmat panggilan bagi seluruh Gereja. Dalam ungkapan syukurnya, ia menyebut Gereja di Nusa Tenggara masih menghasilkan jumlah panggilan terbanyak di seluruh dunia.
Perayaan yang bertepatan dengan Pesta Santo Mikhael, Gabriel, dan Rafael juga menjadi kesempatan untuk mensyukuri karya Tuhan yang agung dalam kehidupan umat. Uskup mengaitkan Mikhael dengan perjuangan mengalahkan kuasa dosa dan setan, Rafael dengan pertolongan bagi orang sakit, serta Gabriel dengan pewartaan kabar gembira dari Tuhan.
Mengawali homilinya, Uskup menceritakan pengalaman keakraban dengan rekan-rekan seangkatan. Di tengah kebersamaan tersebut, cita-cita utama mereka ialah menjadi imam Tuhan.
Ia kemudian mengenang tahbisan di Kefamenanu yang diikuti 19 orang. Di antara mereka terdapat tujuh imam diosesan Atambua, dua imam dari Keuskupan Agung Kupang, dan para imam SVD. Dari tujuh imam diosesan Atambua itu, Uskup menyebut lima orang masih bertahan hingga saat ini.

Dalam kegembiraan mengenang tahbisan suci, Uskup mengangkat pesan Uskup penahbis, Mgr. Anton, bahwa tidak ada jalan pulang. Pesan itu dimaknainya sebagai penegasan bahwa imamat merupakan pemberian diri untuk pelayanan Tuhan.
Secara teologis, ia menghubungkan pengabdian tersebut dengan keikutsertaan dalam imamat Kristus: menjadi imam untuk selama-lamanya menurut peraturan Melkisedek. Karena itu, perjalanan imamat perlu dijalani dengan kesetiaan yang terus diperbarui.
Uskup mengakui bahwa menjadi imam membutuhkan perjuangan berat, termasuk keterlepasan yang digambarkannya sebagai kesediaan melupakan hubungan keluarga demi pelayanan. Dalam keterlepasan itu, Tuhan ditemukan sebagai Yang Mahasetia. Di dalam Tuhan, menurutnya, semuanya baik.
Merujuk Injil Yohanes, Uskup berbicara tentang dunia surgawi yang ditampakkan dalam pewartaan Injil dan hubungannya dengan pelayanan imam. Altar, menurutnya, menjadi sarana yang mendekatkan manusia kepada dunia rohani.
Namun, kedekatan dengan dunia rohani tidak berarti semua persoalan dengan sendirinya selesai. Para imam tetap harus berjuang. Sebagai tugas rasuli, pelayanan imamat membutuhkan kedekatan dengan kehidupan surgawi dan pertolongan rohani, termasuk melalui para malaikat.

Dalam teladan para malaikat agung, umat diajak belajar melayani Allah. Mikhael, dalam refleksi Uskup, menjadi terang untuk membebaskan manusia dari kesesatan dan kegelapan. Gabriel mengingatkan umat pada kabar sukacita; ketika mengalami kesusahan hati, umat diajak memohon agar memperoleh sukacita.
Melalui teladan Rafael, Uskup mengajak umat memohon penyembuhan, termasuk ketika menghadapi penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara medis. Ia juga mengingatkan perlunya mengurangi dan meninggalkan kebiasaan negatif yang merusak kehidupan.
Dalam konteks tersebut, Uskup menyinggung perjudian, minuman keras, pinjol atau pinjaman daring, pinjof atau pinjaman luring, serta tindakan kriminal. Umat diajak memohon pertolongan para malaikat agar dibebaskan dari persoalan dan kebiasaan yang membelenggu.
Uskup selanjutnya mengingatkan bahwa utang dosa tidak dibawa masuk surga. Ia menunjuk kamar pengakuan sebagai tempat menerima penghapusan dosa melalui rahmat pengampunan Allah. Tuhan, katanya, memberikan kuasa bagi pelayanan pengampunan, sementara rahmat imamat memberikan kewenangan untuk melayani sakramen-sakramen.
Mengawali sambutannya dengan sapaan persaudaraan, Uskup kembali menyampaikan syukur karena Tuhan senantiasa memberikan yang terbaik. Ia bersyukur atas kesempatan melayani dalam lingkungan Gereja selama 34 tahun.
Uskup juga menanggapi harapan umat agar Stasi Santo Markus Efudini ditingkatkan statusnya menjadi paroki. Ia mengatakan bahwa permohonan tersebut menjadi bahan pertimbangan, mengingat wilayah Paroki Santa Sesilia Kotafoun masih besar dan luas.
Dalam hubungan dengan perkembangan Gereja, Uskup menekankan pentingnya kehidupan keluarga sebagai tempat lahir dan bertumbuhnya panggilan imamat. Ia mengapresiasi Paroki Kotafoun yang terus memberikan tenaga yang baik bagi pelayanan Gereja. Bersama para imam, kemajuan kehidupan umat diharapkan terus diupayakan.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada umat Stasi Santo Markus Efudini, semua pihak yang mendukung perkembangan stasi, serta seluruh umat yang menghadirkan suasana perayaan yang baik.
Uskup kemudian mengangkat persaudaraan dan cinta kasih semesta sebagaimana ditegaskan Paus Fransiskus. Semangat tersebut mencakup kesediaan mencintai dan merawat lingkungan hidup.
Di bidang pendidikan, Uskup mengingatkan tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa. Ia menyoroti perkembangan teknologi yang membuat telepon genggam seolah lebih pintar daripada manusia. Keadaan tersebut menuntut pendidikan yang membentuk kecerdasan sekaligus kebijaksanaan.
Ia menyampaikan bahwa para uskup juga diajak berkonsentrasi pada pendidikan yang baik. Pendidikan perlu membantu anak-anak mengenal praktik dan produk budaya, sehingga pengetahuan terhubung dengan kehidupan mereka.
Perhatian terhadap pendidikan itu disandingkan dengan keprihatinan atas krisis lingkungan di Tanah Air. Mengingatkan kembali pernyataan Bapa Suci bahwa bumi diciptakan untuk semua orang, Uskup meminta agar generasi mendatang tidak mewarisi bumi yang gersang. Harapan akan Indonesia Emas, menurutnya, tidak dapat dipelihara di atas bumi yang kehilangan daya dukung kehidupan.
Uskup turut mengangkat penegasan Paus Leo XIV mengenai pentingnya perdamaian. Ia mengajak umat mendoakan perdamaian sekaligus memperhatikan pertentangan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk perang mulut serta benturan perasaan dan kepentingan yang mengganggu kenyamanan hidup bersama.
Kepada umat, Uskup meminta dukungan bagi pemerintah agar dapat melayani rakyat dengan baik. Salah satu kontribusi masyarakat, katanya, ialah kesediaan untuk diatur demi kehidupan bersama.
Ia memohon berkat Tuhan bagi umat, bangsa, dan dunia, agar kehidupan menjadi lebih baik, damai, dan sejahtera di dalam Tuhan.
oleh Yudel Neno
