Keuskupanatambua.org,- Uskup Keuskupan Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku menerimakan jubah bagi 56 pemuda calon Imam Projo dari tiga Keuskupan: Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua dan Keuskupan Weetebula-Sumba pada Selasa, 8/12/2020 di Aula Dominikus Emaus Pastoral Center.

Bapak Uskup Dominikus Saku memberkati jubah-jubah yang akan diterima para frater, didampingi Rm. Praeses dan Socius TOR Loo Damian (Foto dok.pribadi: Pastor Frans Katino)

Penerimaan jubah untuk 56 calon imam projo Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua dan Keuskupan Weetebula berlangsung khidmat dan meriah walaupun masih tetap dalam suasana kesederhanaan karena Covid-19. Para frater ini adalah angkatan ke-31 TOR Lo’o Damian. Misa penerimaan jubah bertempat di Emaus Pastoral Centre (EPC), dipimpin langsung oleh Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr. Penerimaan jubah ini bertepatan dengan pesta Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda.

Penerimaan jubah di tengah pandemi ini tetap memberlakukan protokol kesehatan. Misa ini hanya diikuti oleh para frater dan juga para imam diosesan yang menjadi Pembina di TOR Lo’o Damian bersama Bapak Uskup Atambua. Sedangkan orang tua para frater dan keluarganya menyaksikan misa penerimaan jubah ini secara live dari rumah yang disiarkan secara langsung oleh Komsos Keuskupan Atambua bekerja sama dengan RRI Net.

Dalam kotbahnya Uskup Dominikus menegaskan bahwa para frater harus belajar dari ketaatan Bunda Maria dengan harapan terakhir supaya kita menjadi taat seperti Bunda Maria. Menurut Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau KWI ini, “kata ‘menjadi’ menunjuk kepada suatu dinamika. Taat tidak pernah selesai dan otomatis jadi. Karena itu harus diperbaharui terus-menerus. Dalam proses pembinaan yang panjang dan penuh dinamika ini, para frater bisa mengalami perjuangan untuk menjadi taat seperti Bunda Maria. Suatu dinamika yang akan menentukan ketaatan mereka sebagai perjuangan seumur hidup”.

Bapak Uskup juga menandaskan bahwa untuk menjadi taat seperti Bunda Maria, kita harus menjadi kuat. “Jubah tidak pernah membuat kita otomatis menang,” lanjut Uskup kelahiran Taekas, TTU itu. Menurutnya, kita masih harus berjuang. Bunda Maria walaupaun sudah dibebaskan dari dosa, dia juga menanggung kelemahan kodrati manusia. Banyak sekali pertanyaan di dalam hatinya yang harus Ia jawab. Kita yang adalah makhluk rapuh ini juga harus membiarkan pertanyaan-pertanyaan kita dijawab oleh Tuhan sendiri dalam pergelutan kita. Karena jawaban manusia sering tidak memadai dan bahkan salah.

Sementara itu, Praeses Tor Loo Damian dalam sambutannya menyampaikan syukur karena acara penerimaan jubah untuk para frater kali ini berlangsung baik. “Semuanya ini terjadi hanya karena kasih dan cinta Tuhan sendiri” lanjutnya. Ia menegaskan kembali apa yang telah disampaikan oleh Bapak Uskup kepada para frater bahwa jubah ini bukanlah jaminan untuk keluar sebagai pemenang, tetapi masih harus berjuang dan terus berjuang. Jubah merupakan pakaian pemulihan. Tugas para frater adalah mempertahankan pakaian pemulihan itu dengan belajar dari Bunda Maria bahwa ketaatan itu harus diperjuangkan terus-menerus.

“Kerinduan para frater untuk menerima busana rohani mereka hari ini menjadi terkabulkan, meskipun tanpa kehadiran orang tua dan keluarga karena pandemi Covid 19. Jumlah mereka pada awalnya adalah 66 orang, tetapi selama lima bulan pembinaan ini ada 10 orang memilih jalan lain”, demikian Rm. Yustus Ati Bere, Pr Lic dalam sambutannya.

Penerimaan jubah merupakan satu tahapan menuju jenjang pembinaan lebih tinggi. Setelah satu tahun pembinaan di Emaus, para frater ini akan menjalani pembinaan lebih lanjut di Seminari Tinggi sambil kuliah Filsafat.** (Laporan Okto Klau)

Foto bersama para frater bersama Paeses dan para Socius TOR Loo Damian usai penerimaan jubah

Editor: Yosef Hello

SHARE