Matius 22:37-39:”Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Mencintai Allah dan mencintai sesama bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan sebab Allah adalah Bapa segala sesuatu dan kita adalah anak-anak-Nya. Mencintai Allah dan mencintai sesama dapat menjadi satu aksi saat kita bisa mengenal Allah sebagai Bapa kita dan semua manusia adalah anak Allah. Mencintai Allah berarti mencintai anak-anak-Nya seperti saudara dan saudari kita sendiri. Hal ini berarti Allah mendapat tempat utama, hukum-Nya di atas segala-galanya dan menjadi prinsip utama dalam hidup kita. Saat cinta kita murni, asli, tanpa syarat dalam praktek hidup kita maka tidak akan ada celah untuk konflik, perpecahan dalam diri kita, dalam masyarakat, dalam keluarga dan di dalam dunia. Di mana ada cinta di situ damai pun hadir.
Mampukah kita jalankan perintah itu dalam praktek hidup kita? Mulailah dari keluarga kita dan meluas ke masyarakat di mana kita hidup. Cinta seperti inilah yang menggerakkan hati St.Bernardus sehingga dapat membangun konventu yang dapat membawa pembaharuan konventu di seluruh Eropa.
Kita berdoa:” Allah Bapa di surga kami tidak mungkin mencintai-Mu tanpa mencintai sesama kami.Semoga Sabda Putera-Mu yang kami renungkan hari ini membaharui semangat kasih dalam hidup kami setiap hari mulai dari keluarga kami masing-masing. St.Bernardus doakan kami. Doakan umat di Afganistan yang kini sedang menderita. Yang sakit cepat sembuh. Amin.” Salam dan doa.
