
Kali ini santai. Di Stand Paroki Mena dalam ajang Pameran Ekonomi Kreatif Keuskupan Atambua, terjadi diskusi pandangan tanpa adanya rencana sebelumnya.
Mampir di Stand Paroki Mena; Rm. Yanuarius Seran, Pr, salah satu narasumber dalam Muspas ke-IX Keuskupan Atambua. Hadir Rm. Eman Siki, Rm. Yavet Makus, Rm. Yudel Neno, Rm. Nus Humoen, Rm. Djanu Mau Kura, Rm. Dius Nahas, Rm. John Paul Naben, Rm. Gabriel Bouk dan Bapak Lukas Usboko (Ketua DPP Paroki Mena).
Diskusi berlangsung hangat. Ide lancar terungkap. Tanya-jawab, pernyataan dan komitmen sedang berlangsung. Semuanya tentang Dialog, Toleransi dan bagaimana upaya menjelaskan dan mengatasinya.
Saya menarasikan kisah diskusi secara santai….he….he…he….tidak kaku-kaku amat.

Diskusi mulanya dibuka oleh Rm. Yan Seran tentang dialog dan toleransi. Menurut Rm. Yan, toleransi berarti mengakui bahwa kita berbeda. Kita boleh fanatik dalam memberi tetapi tidak berarti harus menolak orang lain.
Orang boleh fanatik tetapi dia tidak boleh mengatakan bahwa orang lain salah. Sementara tentang dialog, Rm. Yan mengatakan dialog bukan untuk saling berdebat tetapi saling mendengarkan. Semangat saling mendengarkan merupakan kunci bagi dialog multikultural. Semangat mendengarkan seraya mengakui perbedaan, itulah toleransi.

Di satu sisi, Rm. Eman Siki, Pr menukik dalam tentang pentingnya sikap militan dalam beriman. Menurutnya, sikap militan bahkan fanatik juga perlu dipupuk dan dimiliki agar tidak kehilangan identitas, tetapi dapat mempertahankan identitas di dalam membangun dialog. Sebagai komitmen ilmu, Rm. Yan yang studi tentang dialog agama menegaskan bahwa fanatik tidak berarti menyalahkan mereka yang lain keyakinan. Lantas Rm. Eman mengatakan, militansi iman merupakan sikap bijak karena menunjukkan aspek konstitusional tentang kebebasan beragama sebagai pemenuhan atas hak asasi manusia.

Diskusi menarik ingin. Saking manisnya, tak terasa telah lama. Rm. Yavet melontarkan pertanyaan kritis. Apakah benar bahwa toleransi mematikan aspek kritis? Tak lama, Rm. Yan sambar kritis. Toleransi bisa dilihat dari dua sisi yakni sisi negatif dan sisi positif. Sisi negatif dari toleransi berujung pada sikap ekstrimisme. Sisi positifnya ialah kita tetap dan bertahan dalam iman tetapi tidak boleh dan tidak harus menyalahkan mereka yang berkeyakinan lain.

Diskusi berlanjut dan memang terkesan terjadi lompatan dalam diskusi. Rm. Yudel Neno dengan mempedomani pendapat Karen Armstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan, menyampaikan catatan kritis tentang dampak negatif doktrinasi masa kecil. Rm. Yudel mengatakan, doktrinasi tentang Tuhan masa kecil menempatkan Tuhan seolah-olah terlalu jauh dan telah lama meninggalkan kita. Akibatnya, sikap ekslusif kuat tertanam dan bertahan tak tergoyahkan karena lamanya menetap.

Lantas Rm. Yan Seran mengatakan doktrinasi semacam itu, secara de facto tak dapat terpungkiri. Tetapi tidak berarti tidak dapat diberi pencerahan. Sejauh penjelasan tentang paham ketuhanan tidak bersifat ekstrimis dan radikalis, doktrinasi semacam itu, sebetulnya dapat teratasi.

Menyambung tentang doktrin, Rm. Nus Humoen memberi catatan khas tentang doktrin dan dogma. Menurutnya ada perbedaan antara doktrin dan dogma. Perbedaannya ada pada sifat mengikatnya. Bedanya ada pada dogma yang bersifat mengikat sementara doktrin tidak. Hal ini dikatakan sebagai pintu pencerah.

Selepas distingsi itu, Bapak Lukas Usboko menekankan tentang pentingnya dialog kehidupan untuk mengurangi sikap ekstremisme. Menurut Bapak Lukas, cara berpikir boleh kritis dan sistematis tetapi tidak harus kaku dalam perilaku. Sikap kaku, menjadi pilihan yang tidak bercorak profit dalam budaya multikural.
Pada akhirnya, diskusi ini berakhir pada bersambung. Ini menjadi tugas lanjutan dalam momen diskusi berikutnya. Tuhan melayani.
Oleh Rm. Yudel Neno, Pr, Pendeta Pembantu Paroki Santa Filomena Mena
