
Larantuka, KeuskupanAtambua.org –
Sebanyak 10 utusan dari Keuskupan Atambua, yang dipimpin langsung oleh Uskup Dominikus Saku, Pr, turut ambil bagian dalam Pertemuan Pastoral (Perpas) Nusra XII yang diselenggarakan di Keuskupan Larantuka, Nusa Tenggara Timur, pada 1–5 Juli 2025. Pertemuan dua tahunan ini diikuti oleh 108 peserta dari 9 keuskupan se-Nusra dan 3 keuskupan dari Malaysia (Keningau, Sandakan, dan Kinabalu), dengan mengusung tema: “Gereja Berwajah Perantau, Berziarah dalam Pengharapan: Mencari Solusi Praktis Pastoral.”

Hari pertama dibuka dengan penyambutan para peserta dan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Larantuka, Mgr. Frans Kopong Kung, Pr. Dalam homilinya, ia menegaskan pentingnya keberanian pastoral untuk “bertolak ke seberang” dan menjawab realitas migrasi umat dengan tindakan konkret. Ia mengingatkan bahwa Perpas bukan sekadar forum wacana, tetapi saat untuk bergerak bersama mencari solusi atas pelbagai persoalan migran, termasuk menghadapi sikap apatis yang sinis, seperti “apa urusanmu dengan kami?”

Kegiatan hari kedua, 2 Juli 2025, diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maximus Regus, Pr. Pada hari yang sama, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Lakalena, hadir dan memberikan sambutan. Dalam arahannya, Gubernur menyampaikan apresiasi mendalam atas komitmen Gereja dalam membangun sinergi pastoral lintas keuskupan untuk menanggapi isu migrasi. Ia menekankan bahwa Gereja selalu menjadi mitra strategis dalam penyusunan kebijakan pemerintah, terutama dalam perlindungan terhadap Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTT.

Menanggapi persoalan migrasi non-prosedural, Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan delapan langkah strategis: (1) penegakan moratorium pada sektor rentan, (2) penguatan Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA), (3) peningkatan kompetensi tenaga kerja, (4) pembentukan Gugus Tugas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) hingga ke tingkat desa, (5) pengembangan sistem informasi dan layanan pengaduan SI-SAGA, (6) kolaborasi lintas wilayah dan sektor, (7) strategi migrasi aman, dan (8) pembentukan forum akuntabilitas publik berikut indikator kinerjanya.
Masih pada hari kedua, peserta Perpas XII juga menerima pemaparan hasil Perpas XI yang digelar tahun 2019 di Keuskupan Atambua. Materi ini disampaikan oleh Sekretaris Umum Pusat Pastoral Keuskupan Atambua, Yosef Hello, yang menekankan kesinambungan arah pastoral Gereja dalam membangun pelayanan yang sistematis dan berkelanjutan bagi umat perantau.
Adapun delegasi Keuskupan Atambua yang hadir dalam Perpas XII meliputi: Mgr. Dominikus Saku, Pr (Uskup Atambua), Pater Vincent Wun, SVD (Vikjen Keuskupan Atambua), Yosef Hello (Sekretaris Umum Puspas KA), Rm. Kanisius Oki, Pr (Deken Kefa), Pater Hironimus Moensaku, SVD (Deken Malaka), Rm. Goris Dudy, Pr (Moderator Kerawam KA & Ketua Unio Keuskupan Atambua), Rm. Emanuel Siki, Pr (Ketua Komisi Migran Perantau KA), Rm. Frederikus Oeleu, Pr (Ketua Komisi PSE-Caritas KA), Ibu Agustina Asa dan
Ibu Maria Florentia Bere Tay (Plh. Kadis Nakertrans Kabupaten Malaka).
Keikutsertaan utusan Keuskupan Atambua dalam forum ini menunjukkan keseriusan pastoral dan keterlibatan aktif dalam menjawab fenomena migrasi secara holistik, baik dari sisi pendampingan spiritual maupun advokasi sosial. Diharapkan, Perpas XII menjadi titik tolak bagi pembaruan strategi pastoral yang lebih menyentuh realitas umat Katolik yang hidup sebagai perantau.
Baca juga : Komisi Migran Perantau Keuskupan Atambua Gelar Sosialisasi Migrasi Prosedural bagi Agen Pastoral
Sebagai bagian dari persiapan menuju Perpas XII, Keuskupan Atambua sebelumnya telah mengadakan kegiatan sosialisasi pada Sabtu, 28 Juni 2025, bertempat di Aula Dominikus, Emaus–Atambua. Kegiatan ini bertajuk “Sosialisasi Migrasi Prosedural dan Sukses: Mencari Solusi Praktis Pastoral bagi Agen Pastoral Migran Perantau Paroki se-Keuskupan Atambua”, dan diselenggarakan oleh Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau (KKP-PMP) Keuskupan Atambua bekerja sama dengan Komisi Kepemudaan Keuskupan Atambua.
Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber utama: Pak Aleks dari Dinas Koperasi, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kopnakertrans) Kabupaten Belu yang memaparkan kebijakan migrasi prosedural pemerintah daerah; dan Sr. Laurentin Soeharsi, SDB dari KKP-PMP KWI, yang menekankan pentingnya kesadaran pastoral Gereja dalam pelayanan menyeluruh kepada umat migran. Kegiatan ini menjadi bagian integral dari komitmen Keuskupan Atambua untuk tidak hanya hadir secara spiritual, tetapi juga membekali para pelayan pastoral dengan perspektif yang tepat dalam menyikapi tantangan migrasi dewasa ini.
Laporan: Rm. Emanuel Siki, Pr
Editor: Rm. Yudel Neno, Pr
