Pater Vikjen Keuskupan Atambua

Emaus, Senin 2/9/ 2019.

Baru-baru beredar sebuah video yang sangat inspiratif untuk BKSN kita. Warga Kristen di Cina mendapat kiriman Kitab Suci. Setelah dibuka tiap orang berebutan mengambil satu kitab suci untuk diri mereka. Setiap orang melompat kegirangan, memeluk Kitab Suci tersebut dan bahkan ada yang menangis haru. Mereka semangat memiliki kitab suci karena mereka percaya akan kehadiran Tuhan yang bisa menyertai perjalanan hidup mereka .

Begitu pula ada kisah lain di tahun 1964. Pemerintah Rumania memenjarakan para politisi dan pendeta. Richard Wurmbrand merupakan salah satu dari mereka. Ia dipenjara hampir 14 tahun. Dalam bukunya God’s Underground diceritakan bahwa pada suatu hari seorang penghuni tahanan baru yang baru saja dijebloskan dalam penjara bernama Avram menyembunyikan dalam ikatan tubuhnya sebuah buku. Ketika tahanan lain bertanya buku apakah itu ia menjawab Injil Yohanes. Buku itu kemudian berpindah dari tangan ke tangan. Semua tahanan membacanya, menyimpannya dalam hati, kemudian berdiskusi di antara mereka. Injil itu bergitu berharga bagi mereka.

Itulah gambaran betapa Kitab Suci begitu dirindukan. Lalu bagaimana dengan kita di bulan Kitab Suci Naional ini?

Dokumen Konsili Vatikan II Dei Verbum menganjurkan agar jalan masuk kepada Kitab Suci harus dibuka lebar-lebar bagi umat beriman(DV 22). Bagaimana caranya? Yang pertama adalah dengan cara menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa setempat. Diupayakan secara ekumenis antara Protestan dan Katolik, Lembaga Alkitab Indonesia dan Lembaga BIblika Indonesia. Kedua, usaha lain yang dilakukan adalah mengembangkan apa yang dinamakan Minggu Kitab Suci Nasional pada tahun 1977 yang kemudian dalam pelaksanaannya berkembang ke BKSN (Bulan Kitab Suci Nasional). Tujuan dari BKSN adalah memperkenalkan Kitab Suci kepada umat agar menjadi sumber iman. Dengan demikian iman umat dapat bertumbuh dan berkembang dalam Kristus. Disamping itu dengan BKSN, umat didorong untuk memiliki dan menggunakan Kitab Suci.

Mengapa Kitab Suci?

St. Hironimus berjasa menerjemahkan Kitab Suci bagi kita. Pekerjaannya itu memakan waktu 11 tahun. Ia menerjemahkannya dari bahasa Ibrani dan Yunani ke bahasa Latin. Menurutnya, tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.

2Timotius 3: 16 mengatakatan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Sementara itu Katekismus Gereja Katolik (KGK) 101 menyatakan bahwa untuk mewahyukan diri kepada manusia, Allah berbicara dalam kebaikanNya kepada manusia dengan bahasa manusia: “Sabda Allah yang diungkapkan dengan bahasa manusia, telah menyerupai pembicaraan manusiawi, seperti dahulu, Sabda Bapa yang kekal, dengan mengenakan daging kelemahan manusiawi, telah menjadi serupa dengan manusia.” Melalui kata-kata Kitab Suci, Allah hanya mengatakan satu kata: SabdaNya yang tunggal dan di dalam Dia, Ia mengungkapkan diri seutuhnya (KGK 102). Dari sebab itu Gereja selalu menghormati Kitab Suci sama seperti Tubuh Kristus sendiri. Gereja tak putus-putusnya menyajikan kepada umat beriman roti kehidupan yang Gereja terima dari meja Sabda Allah, maupun dari meja Tubuh Kristus (KGK 103). Di dalam Kitab Suci, Gereja selalu mendapatkan makanannya dan kekuatannya karena di dalamnya ia tidak hanya menerima kata-kata manusiawi, tetapi apa yang sebenarnya Kitab Suci itu: Sabda Allah.

Apa tugas Seksi Kitab Suci paroki?

Seksi Kita Suci bertugas membantu pastor paroki dalam mewujudkan kegiatan ini; merencanakan, melaksanakan, memonitor dan mengevaluasi; mengoordinis kerasulan Kitab Suci; dan menyelenggarakan kursus-kursus Kitab Suci.

Melalui tema BKSN “Mewartakan Kabar Baik di tengah Krisis Lingkungan Hidup” harapannya masalah-masalah krisis lingkungan yang kita hadapi dapat kita atasi bersama-sama sebagai aplikasi nyata penghayatan amanat Sabda Tuhan dalam Kitab Suci.

Dengan kegiatan ini para agen pastoral khusus yang terlibat dalam kegiatan ini membantu para pastor agar perasaan cinta akan Kitab Suci bertumbuh. Kesadaran akan rasa butuh dan cinta akan Kitab Suci harus kita tumbuhkan dalam hati umat. (P. Vincent Wun SVD)

SHARE