
KeuskupanAtambua.org – Catatan EVAPERCA: Melukis Narasi dan Makna, oleh Yudel Neno, Pr
Hari Pertama: 19 November 2024 – Membuka Jalan Pertemuan Berbasis Doa dan Refleksi
Keuskupan Atambua melaksanakan Evaluasi Pastoral dan Perencanaan (EVAPERCA) selama dua hari, yang berlangsung dari 19 hingga 20 November 2024. Kegiatan ini mempertemukan para Peserta yang terdiri dari Pastor, Diakon, Frater, Suster, dan awam dari 67 Paroki di Keuskupan Atambua yang tersebar ke dalam Empat Dekenat besar yakni Dekenat Mena, Kefamenanu, Belu, dan Malaka. Setiap Paroki mengutus perwakilan dua hingga tiga orang, termasuk Dewan Pastoral Paroki (DPP), Diakon, serta katekis-katekis setempat.

EVAPERCA diawali dengan keheningan bersama yang dipimpin langsung oleh Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr. Keheningan tersebut bertujuan mengundang setiap peserta untuk membenamkan diri dalam doa dan refleksi, menyadari kehadiran Allah di tengah mereka sebelum memulai aktivitas evaluasi. Usai keheningan, acara secara resmi dibuka melalui Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua; Pater Vincent Wun, SVD, didampingi oleh Mgr. Dominikus Saku, Deken Malaka ; Pater Hironimus Moensaku, SVD, Deken Kefamenanu; Rm. Kanisius Oki, Pr dan Deken Mena;Rm. Yohanes Seran Nahak, Pr. Dalam Homilinya, Pater Vikjen menekankan tema “Jumpai Yesus dalam Pelayanan Kita,” menyoroti perlunya pelayanan berlandaskan Visi-Misi Keuskupan Atambua.
Refleksi dalam Homili dan Arah Pastoral
Homili yang disampaikan merangkum tantangan dan harapan pelayanan pastoral. Disebutkan bahwa pelayanan Gereja tidak boleh menjadi formalitas kosong, tetapi sebuah panggilan yang menyentuh hidup banyak orang, berakar dalam doa dan sinodalitas. Kerapuhan manusiawi, menurut Vikjen, memerlukan penguatan dari Sabda Allah dalam kehidupan pastoral. Ia mengingatkan bahwa karya pastoral sering menghadapi kehilangan dan pergulatan, tetapi Tuhan harus menjadi harta yang paling utama di dalam hati setiap pelayan. Homili tersebut juga mengangkat spirit pertobatan sejati, dengan mengambil inspirasi dari cerita Zakheus yang melepaskan kekayaan demi merangkul kehadiran Yesus. Ada pula peringatan bahwa pelayanan Gereja tidak boleh terjebak dalam sikap suam-suam kuku atau hanya berpusat pada materi dan kekuasaan, melainkan harus dijiwai oleh semangat sinodalitas, ketulusan, dan dialog dengan semua orang.

Laporan dan Sinkronisasi Empat Dekenat
Setelah Ekaristi, peserta melanjutkan dengan sesi presentasi hasil evaluasi tingkat Dekenat. Setiap Dekenat (Mena, Kefamenanu, Belu, dan Malaka) diwakili oleh pelapor khusus, dengan Moderator Rm. Goris Dudy. Presentasi ini mencerminkan beragam tantangan dan prestasi yang dihadapi di tingkat Paroki hingga Dekenat. Evaluasi tersebut menjadi ajang untuk mengukur apa yang telah berjalan sesuai rencana, mengidentifikasi hal-hal yang perlu perbaikan, serta memperkokoh arah pelayanan di masa mendatang.

Finansial Literasi oleh Bank BRI dan Arah Perencanaan
Kegiatan hari pertama berlanjut dengan sesi literasi finansial yang diadakan oleh Bank BRI, dipandu oleh Rm. Eman Siki. Sesi ini bertujuan membantu para Peserta memahami pengelolaan keuangan secara bijak dan memberikan wawasan tentang kemandirian finansial sebagai pelayan gereja. Kemudian, Sekretaris Umum Keuskupan, Pak Yos Hello, memimpin presentasi tentang arah perencanaan pastoral. Para Peserta, yang terdiri dari berbagai latar belakang, tetap menunjukkan semangat dan antusiasme dalam berdiskusi serta melakukan sinkronisasi rencana pastoral untuk hari kedua.
Hari Kedua (20 November) : Membuka Kegiatan Berbasis Meditasi Laudato Si

Hari kedua EVAPERCA dirancang untuk sinkronisasi dan penajaman arah perencanaan pastoral di Tingkat Dekenat dan Paroki. Fokus utama adalah sinodalitas yang menjadi dasar kerja pastoral. Semangat kebersamaan yang terjalin selama dua hari, diharapkan dapat menciptakan kesadaran kolektif bahwa pelayanan harus dilandasi dialog yang terbuka, kerendahan hati, dan komitmen untuk menjadikan Allah sebagai pusat pelayanan.

Pembukaan dengan Meditasi Laudato Si di Taman Eden
Kegiatan dibuka dengan sebuah Meditasi Laudato Si yang khidmat dan penuh makna. Bertempat di Atambua Eden, lokasi indah yang berada di Lingkungan Keuskupan Atambua, meditasi ini dipimpin oleh Suster Lestari, OSU. Suasana pagi itu sarat dengan harmoni alam, sejalan dengan pesan Ensiklik Paus Fransiskus tentang keutuhan ciptaan dan pentingnya menjaga dan merawat keutuhan ciptaan, sebagaimana termakhtub dalam Ensiklik Laudato Si. Taman Eden tidak hanya sekadar menjadi tempat meditasi; ia adalah simbol konkret Komitmen Ekologis Gereja. Kolam ikan yang beriak tenang, lopo yang meneduhkan, dan tanaman-tanaman hijau yang tumbuh subur menjadi saksi keindahan ciptaan Allah dan panggilan manusia untuk merawatnya.

Dalam meditasi tersebut, Suster Lestari mengajak para peserta merenungkan hubungan mendalam antara iman dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Peserta diminta merenungi betapa pentingnya harmoni dengan alam dalam karya pastoral mereka. Kegiatan ini mengingatkan semua orang bahwa pelayanan Gereja juga meliputi keadilan ekologis, sebagai bentuk nyata iman yang diwujudkan dalam tindakan.
Laporan Perencanaan Program oleh Tim Perumus Dekenat

Setelah meditasi yang menenangkan dan membangun kesadaran ekologi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi Laporan Perencanaan Program Paroki-Paroki se-Keuskupan Atambua. Tim Perumus Dekenat dari keempat dekenat (Mena, Malaka, Belu, dan Kefamenanu) mempresentasikan hasil perencaan. Laporan mencakup rencana-rencana strategis untuk setiap paroki, dengan fokus pada peningkatan pelayanan pastoral, penguatan spiritualitas umat, serta pencapaian sinodalitas dalam setiap karya.

Presentasi hasil perencanaan dipandu oleh Rm. Eman Siki, Pr, yang dengan cermat memastikan bahwa setiap masukan dari Peserta diperhatikan dan diakomodasi dengan baik. Dialog antarparoki menjadi sangat hidup, menandakan keseriusan para Peserta untuk menyelaraskan visi dan misi pastoral mereka. Dalam sesi ini, keempat dekenat menunjukkan berbagai inisiatif inovatif untuk mengatasi tantangan di masing-masing wilayah, termasuk peningkatan kualitas pendidikan iman, pelayanan sosial, serta pemeliharaan budaya lokal yang selaras dengan ajaran gereja.
Arah Penutup dari Uskup Atambua
Menjelang penutupan hari kedua EVAPERCA, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr memberikan arahan penutup yang sarat makna dan reflektif. Ia mengapresiasi semangat, dedikasi, dan kesatuan yang ditunjukkan oleh para peserta selama dua hari pelaksanaan. Bapa Uskup menekankan kembali pentingnya sinodalitas sebagai roh yang menggerakkan setiap karya pastoral. “Pelayanan bukanlah hanya aktivitas; ia adalah perwujudan cinta yang datang dari Allah,” tegas Beliau.

Dalam arahannya, Uskup Dominikus menyoroti pentingnya menciptakan Gereja yang inklusif, dialogis, dan responsif terhadap kebutuhan umat. Beliau mengingatkan bahwa setiap langkah pastoral harus mencerminkan wajah Yesus yang penuh belas kasih, tanpa mengesampingkan tanggung jawab sosial-ekologis. Beliau pun menekankan bahwa semangat sinodalitas harus berakar pada doa, solidaritas, dan komitmen untuk melayani umat dengan sepenuh hati.

Rayakan Ekaristi Bersama
EVAPERCA berpuncak dan sekaligus ditutup oleh Uskup Atambua melalui Perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung olehnya. Atas semua partisipasi; Bapak Uskup menyampaikan terima kasih dan berkat. Semua Peserta, terutama para Pastor Paroki, diutus dengan penegasan; mempedomani semangat Injil dan Sinodalitas dalam karya pastoral.

Membangun Masa Depan Bersama
EVAPERCA di Keuskupan Atambua tahun 2024 bukan hanya sebuah agenda evaluasi dan perencanaan, melainkan perwujudan nyata dari semangat sinodalitas. Kegiatan ini menjadi momen untuk merefleksikan pelayanan yang sudah berjalan, menyusun strategi masa depan, serta memperkuat komitmen bersama untuk mewujudkan gereja yang hidup dan peduli. Dengan bimbingan doa, refleksi ekologi, dan komitmen pastoral, seluruh peserta dipanggil untuk kembali ke paroki mereka dengan semangat baru, membangun komunitas iman yang lebih kokoh, inklusif, dan relevan dengan tantangan zaman.

EVAPERCA menjadi momentum penting untuk meninjau perjalanan pastoral, memperbaharui semangat para pelayan, dan mengarahkan karya pastoral ke depan. Dengan semangat Zakheus, peserta diingatkan bahwa untuk sungguh menjumpai Kristus, mereka harus melepaskan beban duniawi dan meletakkan pelayanan sebagai kekayaan sejati. Keuskupan Atambua, melalui EVAPERCA ini, memandang penting untuk terus menciptakan ruang-ruang dialog yang mengakar dalam doa dan Sabda Tuhan demi menghadirkan pelayanan yang lebih inklusif, menyentuh, dan penuh kasih bagi seluruh umat.
Oleh Yudel Neno, Pr
