Rekoleksi Kategorial di Dekenat Mena ini menjadi momentum penting pembinaan iman bagi para pelajar lintas sekolah. Kehadiran langsung Uskup Atambua memberi penguatan rohani sekaligus motivasi moral agar generasi muda Katolik semakin bertumbuh sebagai pribadi beriman, setia, dan berkarakter di tengah tantangan zaman.
Browsing: Berita Pendidikan
Dengan ditutupnya kegiatan ini, para peserta kembali ke daerah masing-masing membawa semangat baru untuk menghidupkan Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi, serta memperkokoh visi pendidikan Katolik yang humanis, ekologis, dan selaras dengan arah Gereja dan bangsa.
“Pembelajaran mendalam adalah kunci agar Kurikulum Berbasis Cinta tidak berhenti pada slogan, tetapi benar-benar membentuk keutuhan pribadi peserta didik,” ungkap Direktur. Ia mengajak seluruh penyusun buku SMAK untuk memastikan bahwa setiap bab, contoh kasus, dan aktivitas belajar memberi ruang bagi peserta didik untuk mengalami cinta sebagai nilai dasar iman Katolik, sekaligus mampu menghubungkannya dengan persoalan dunia nyata, termasuk persoalan ekologis dan sosial.
Ia menambahkan bahwa banyak kenyataan ilmiah tidak dapat dijelaskan hanya dengan pendekatan saintifik, melainkan membutuhkan bahasa agama. Sifat maskulinitas manusia yang cenderung mendominasi dan mengeksploitasi juga perlu dikoreksi melalui kerangka kasih. Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta adalah strategi penting untuk melindungi kelompok minoritas yang terpinggirkan.
Turut hadir dalam kegiatan ini Rm. Darmin Mbula, OFM, Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) Indonesia, serta Antonius Nahak dari Pusat Pembelajaran dan Kurikulum Dikdasmen. Kehadiran para tokoh ini menegaskan kuatnya kolaborasi lintas lembaga dalam menghasilkan buku ajar berkualitas bagi peserta didik SMAK di seluruh Indonesia.
Perayaan HUT RI di SMAN Fafinesu masih akan berlanjut pada Jumat (15/8/2025) dengan kegiatan gerak jalan antar kelas.
Bagi Paroki Santa Filomena-Mena, prestasi ini bukan hanya kebanggaan, tetapi juga harapan—bahwa generasi muda Katolik mampu menjadi wajah Gereja yang cerdas, beriman, dan penuh semangat pelayanan.
Dengan demikian, finalisasi modul ini menjadi langkah strategis dalam membumikan nilai kasih dan kepedulian ekologis dalam pendidikan Katolik. Kurikulum cinta bukan sekadar idealisme, tetapi sebuah realitas yang ditopang oleh pendekatan pedagogis yang holistik, spiritualitas yang mendalam, serta metode pembelajaran yang kontekstual dan membebaskan.
Romo Budi kemudian memperkenalkan gagasan ekoteologi interreligius, yakni pemahaman bahwa segala sesuatu saling terhubung: Tuhan, manusia, sesama, dan alam semesta. “Ekoteologi kita tidak eksklusif, tapi solider—ada semangat solidaritas ekoteologi lintas agama,” katanya.
Menutup kegiatan ini, Rm. Yudel mengatakan bahwa apa yang dilakukan hari ini bukan hanya memberi keterampilan teknis, tetapi juga membentuk karakter jurnalis muda yang bertanggung jawab, cerdas, dan etis dalam menyampaikan informasi.
