
Jakarta, KeuskupanAtambua.org — Direktorat Jenderal Bimas Katolik resmi menggelar kegiatan revisi buku mata pelajaran Keagamaan Katolik untuk Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK), Jumat–Senin, 29 November–2 Desember 2025, di Aone Hotel, Menteng, Jakarta Pusat. Kegiatan yang mengusung tema “Wujudkan Peserta Didik SMAK yang Penuh Cinta dan Bersahabat dengan Alam” ini melibatkan 26 peserta, terdiri atas 13 guru SMAK dan 13 perwakilan dari Ditjen Bimas Katolik.

Kegiatan ini menghadirkan para narasumber berkompetensi dari berbagai bidang, terutama Kitab Suci, Liturgi, Pastoral Katekese, Sejarah Gereja, serta Doktrin dan Moral Kristiani Katolik. Kehadiran para ahli ini menjadi fondasi penting untuk memastikan bahwa revisi buku SMAK selaras dengan kebutuhan pembelajaran yang mutakhir, kontekstual, dan sesuai arah Gereja.

Ketua Panitia, Ibu Ermina Suyanti, dalam laporannya menguraikan proses inisiasi hingga terwujudnya kegiatan tersebut. Ia sekaligus memohon kepada Direktur Pendidikan Katolik untuk membuka kegiatan secara resmi. Menanggapi itu, Direktur Pendidikan Katolik Ditjen Bimas Katolik Kemenag RI, Albertus Tryatmojo, membuka kegiatan dengan menegaskan pentingnya pendidikan yang relevan, kontekstual, dan memiliki daya transformatif.

Dalam sambutannya, Tryatmojo menyoroti urgensi deep learning bagi peserta didik SMAK, yakni pembelajaran yang tidak sekadar menambah pengetahuan, tetapi membentuk kedewasaan berpikir, kepekaan nurani, serta kecintaan pada sesama dan alam. Ia juga menyinggung visi kurikulum berbasis cinta sebagai pendekatan yang memanusiakan dan membebaskan.

Turut hadir dalam kegiatan ini Rm. Darmin Mbula, OFM, Ketua Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) Indonesia, serta Antonius Nahak dari Pusat Pembelajaran dan Kurikulum Dikdasmen. Kehadiran para tokoh ini menegaskan kuatnya kolaborasi lintas lembaga dalam menghasilkan buku ajar berkualitas bagi peserta didik SMAK di seluruh Indonesia.
Untuk diketahui bahwa saat ini, Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) di Indonesia berjumlah 48 dengan rincian 5 di antaranya sudah dinegerikan dan yang lainnya masih swasta. Dan materi pertama diberi oleh Prof. Dr. Eddy Kristyanto, yang memberi basis berupa highlight dan juga insight untuk penyusunan materi tentang sejarah gereja.
oleh Yudel Neno, Pr
