OPINI – KeuskupanAtambua.org – Ekologi Media dan Pentingnya Kesadaran Subjektif – oleh: Romo Yudel Neno, Pr
Pendahuluan
Tulisan ini ditujukan untuk mengundang pemikiran yang lebih tajam dari mereka yang bergelut dalam dunia teknologi dan komunikasi, serta siapa saja yang berminat pada dinamika informasi di era digital. Kesadaran kritis tentang ekologi media dan subjektivitas manusia menjadi sangat mendesak karena teknologi telah menyatu dalam denyut kehidupan sehari-hari. Media tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi telah menjadi lingkungan hidup baru yang memengaruhi cara manusia berpikir, merasa, dan bertindak. Karena itu diperlukan refleksi yang jernih, agar relasi manusia dan teknologi tetap berada dalam kendali moral serta arah kemanusiaan yang benar. Tulisan ini mengembangkan dua gagasan besar: ekologi media sebagai lingkungan baru interaksi manusia, dan kesadaran subjektivitas sebagai kompas untuk mengelola teknologi secara bertanggung jawab.
Ekologi sebagai Kerangka Dasar Memahami Lingkungan Digital
Ekologi menurut KBBI adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya, dan definisi ini memberi lensa penting bagi dunia komunikasi modern. Media dan teknologi tidak berdiri sendiri, tetapi membentuk ekosistem yang memengaruhi cara manusia berinteraksi satu sama lain. Karena itu, teknologi tidak hanya dipahami sebagai perangkat, tetapi sebagai lingkungan yang membentuk pola perilaku dan struktur kesadaran. Dalam ekosistem tersebut, manusia dan media saling memengaruhi dalam arus yang terus bergerak. Kesadaran akan relasi timbal balik inilah yang menjadi dasar untuk menilai fungsi media dalam kehidupan sosial.
Media sebagai Perantara yang Memodifikasi Interaksi
Secara etimologis media berarti perantara, dan peran ini menempatkannya sebagai jembatan antara sumber pesan dan penerima pesan. Dalam dunia digital, peran ini tidak lagi netral karena medium mengubah cara pesan itu dibentuk, dipahami, dan direspons. Teknologi digital bukan hanya menyalurkan pesan, tetapi ikut memodifikasi struktur komunikasi manusia. Karena itu memahami media berarti memahami bagaimana ia merekonstruksi pola interaksi sosial. Kesadaran akan peran ini penting agar manusia tidak memperlakukan media sebagai saluran pasif, melainkan lingkungan aktif yang membentuk cara berpikir.
Produk Teknologi dan Transformasi Media Sosial
Dunia modern memahami media komunikasi pertama-tama sebagai produk teknologi, dan salah satu manifestasinya yang paling dominan ialah media sosial. Kehadiran platform seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, Telegram, Twitter, TikTok, dan YouTube tidak hanya mengubah cara masyarakat bertukar informasi, tetapi juga struktur kehidupan sosial itu sendiri. Media sosial membangun ruang virtual tempat identitas, relasi, dan persepsi diri dibentuk dan dipertukarkan. Dalam ruang ini, teknologi menjadi bagian dari pengalaman eksistensial manusia, bukan sekadar peralatan yang digunakan. Karena itu, tanggung jawab etis dalam menggunakan media sosial menjadi semakin penting.
Pemikiran Ahli tentang Ekologi Media sebagai Dinamika Kesadaran
Richard West dan Lynn H. Turner, sebagaimana dikutip oleh Jessica Novia dalam Kompas.com, menegaskan bahwa ekologi media adalah studi tentang bagaimana proses komunikasi memengaruhi persepsi, emosi, dan nilai manusia. Perspektif ini menegaskan bahwa teknologi bukan hanya mempermudah komunikasi, tetapi mengubah cara manusia mengalami dunia. Medium digital hadir sebagai kekuatan yang membingkai kesadaran dan perilaku manusia secara mendalam. Dengan demikian, analisis ekologi media mengajak kita melihat bahwa pengaruh teknologi bersifat struktural dan tidak dapat dihindari. Refleksi seperti ini penting agar manusia tidak terperangkap dalam determinisme teknologi.
Membaca Ulang Sajian Jessica Novia sebagai Upaya Literasi Publik
Tulisan Jessica Novia di Kompas.com memberi kontribusi penting bagi publik yang belum familiar dengan teori ekologi media, karena ia merangkum pemikiran West dan Turner secara komunikatif. Ia menempatkan teknologi sebagai kekuatan yang tidak mungkin dihindari dan mengajak pembaca menyadari dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Penekanannya bahwa media memengaruhi cara manusia merasakan, bereaksi, dan menilai sesuatu sangat relevan bagi masyarakat digital. Dengan mengangkat kembali pemikirannya, tulisan ini bermaksud memperluas literasi masyarakat tentang peran teknologi. Literasi ini menjadi bekal untuk menghadapi perubahan budaya digital yang sangat cepat.
Teknologi Komunikasi yang Tidak Dapat Dihindari
Poin pertama dari sajian Jessica Novia menegaskan bahwa masyarakat tidak dapat menghindar dari pengaruh teknologi komunikasi. Teknologi telah membentuk cara orang bekerja, berelasi, mencari informasi, dan membangun opini. Seiring semakin dalamnya penetrasi digital, teknologi tidak lagi dapat diposisikan sebagai pilihan, tetapi sebagai kondisi hidup yang membentuk ekosistem sosial. Faktanya, sebagian besar aktivitas manusia kini berlangsung melalui medium digital, sehingga pengaruh media meresap hingga ke bawah sadar manusia. Karena itu, diperlukan kedewasaan untuk menempatkan teknologi sebagai alat yang harus dikendalikan, bukan sebaliknya.
Teknologi sebagai Kekuatan yang Mempersatukan dan Menghidupkan Ruang Virtual
Poin kedua dan ketiga menyoroti bahwa teknologi mempersatukan masyarakat dan menjadi pusat kehidupan virtual manusia. Dunia digital memungkinkan orang saling terhubung tanpa batas geografis, budaya, dan waktu. Di sisi lain ruang virtual menciptakan pola interaksi baru yang tidak selalu identik dengan kehidupan nyata. Manusia kini hidup dalam dua ruang: ruang fisik dan ruang virtual, dan keduanya saling berpengaruh serta membentuk identitas sosial. Kesadaran atas dualitas ruang ini penting agar manusia tetap dapat hidup secara autentik. Tanpa kesadaran kritis, ruang virtual dapat mengambil alih kehidupan manusia secara perlahan.
Medium Membentuk Kesadaran dan Pesan
Salah satu gagasan paling penting dalam teori ekologi media ialah bahwa mediumlah yang membentuk pesan, bukan sebaliknya. Dalam banyak kasus, cara pesan disampaikan lebih menentukan dampaknya daripada isi pesan itu sendiri. Format visual, kecepatan arus data, algoritma, dan pola distribusi pesan memiliki daya membentuk kesadaran manusia secara lebih kuat daripada kontennya. Inilah sebabnya penggunaan media tidak pernah netral; manusia harus sadar bahwa pilihan medium menentukan kualitas komunikasi yang terjadi. Refleksi ini memerlukan kepekaan moral agar penggunaan teknologi tetap manusiawi dan etis.
Tiga Asumsi Ekologi Media dan Pentingnya Subjektivitas Manusia
Tiga asumsi utama ekologi media—bahwa media memengaruhi hampir seluruh perilaku manusia, memengaruhi persepsi dan pengalaman, serta mempersatukan dunia—menunjukkan besarnya pengaruh teknologi. Namun pengaruh ini tidak boleh menghilangkan kesadaran subjektif manusia sebagai pengendali teknologi. Teknologi adalah produk intelektual manusia dan karenanya tidak boleh mengambil alih martabat manusia sebagai subjek. Subjektivitas inilah yang menjaga agar teknologi tetap berada dalam bingkai nilai, moral, dan orientasi kemanusiaan. Dengan begitu, ekologi media tidak berubah menjadi ekosistem yang mereduksi kebebasan manusia.
Simpulan: Kesadaran Subjektif sebagai Kunci Navigasi Ekologi Media
Ekologi media mengajarkan bahwa teknologi merupakan lingkungan baru yang membentuk cara manusia hidup dan berpikir, dan oleh karena itu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan modern. Namun, kesadaran subjektif manusia tetap menjadi kunci agar teknologi tidak menguasai manusia, melainkan diarahkan bagi kebaikan bersama. Manusia harus terus mengasah kemampuan kritis, etis, dan emosional agar mampu menavigasi arus informasi dengan bijaksana. Dengan sikap demikian, teknologi menjadi sarana untuk memajukan kemanusiaan, bukan ancaman bagi martabatnya. Kesadaran kritis inilah yang menjadi fondasi bagi penggunaan teknologi yang bertanggung jawab dan manusiawi.
Sumber:
Jessica Novia, “Teori Ekologi Media, Pengertian dan Asumsi,” Kompas.com, 18/05/2022.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (Online).
