keuskupanatambua.org, Sabtu, 24 April 2021 merupakan hari yang tak pernah kulupakan karena pada hari ini seorang Imam Tuhan bernama Romo Vincentius Naben, Pr dipanggil Tuhan. Beliau menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Umum Mgr. Gabriel Manek SVD Atammbua pkl.09.50 pagi. Sebelumnya almarhum dirawat di Rumah Sakit Sito Husada karena komplikasi yang berbuntut pada covid-19. Penulis menyaksikan sendiri Bapak Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, sejak pagi sudah ada di RSU Atambua. Berbagai upaya dan pendekatan dilakukan agar jenazah almarhum bisa dimakamkan dipemakaman Imam Projo KA di Emaus. Namun usaha dan pendekatan itu sia-sia karena sudah menjadi keputusan Forkompinda Kab. Belu mengenai mereka yang terpapar corona harus dimakamkan di pemakaman covid Masmae. Kepada penulis, Uskup mengatakan: “Kita ikhlaskan saja Romo Vinsen untuk dimakamkan di sana. Kita tidak mau kalau kemudian romo yang baik hati ini menjadi bahan pembicaraan karena melawan keputusan bersama Forkompinda”. Lebih lanjut, Bapa Uskup juga meminta supaya segala sesuatu disiapkan dengan baik supaya kita ikut memakamkan saudara kita dengan pantas.


Berbagai ucapan turut belangsungkawa datang dari mana-mana. Berbagai kesan mengenai almarhum Romo Vinsen Naben, Pr.
Romo Valens Boy, Pr dari Seminari Tinggi Santo Mikhael Kupang melalui WA menulis: “Aduh teman Romo Vinsen, terlalu cepat kepergianmu dan doa-doa kami bagi kesembuhanmu diartikan lain oleh Tuhan pencipta dan penyelamat. Namun Tuhan tetaplah merupakan Hidup dan keabadianmu. Selamat jalan teman dan Imam Tuhan. Engkau tetaplah imam selama-lamanya secara Melkhisedekh. Beristirahatlah dengan tenang dalam kerahiman Tuhan. RIP. Aufwiedersehen!”
Kesan yang sama datang dari Pater Vikjen Keuskupan Atambua, P. Vincentius Wun SVD sebagai berikut:
“Rm. Vinsen Naben, Pr. Imam yang setia, rendah hati, sabar, taat dan pengasih orang kecil, sederhana. Ia menyimpan dalam hati semua kritikan dan dibawa dalam doa. Itulah sosok Rm. Vinsen. Selamat jalan temanku sekomunitas. Trimakasih atas abdimu bagi kami dan umat. Mohon maaf atas segala kesalahan kami dalam komunitas. Doaku Romo bahagia di surga. Kasihmu terakhir saat kita antri untuk swab di Lab.Sito, ada seorang putri kecil berdiri mendampingi kakaknya. Saat itu walaupun lemah romo mengayunkan langkah walau berat, mendekati anak itu dan memberinya uang. Mata anak itu begitu penuh sukacita. Tuhan catat semua ini romo. Selamat jalan. Bahagia di surga”.
Romo Yoris Giri, Pr, Pastor Paroki Stellamaris Atapupu mengirimkan kesannya melalui WAG Pusat Pastoral sebagai berikut: “Guru dan pembina tingkat kami angkatan 91 sampai 95. Disiplin dan tegas. Memimpin misa dan kotbah yang sangat bagus. Kesederhanaan dan doa adalah kekuatannya. Yang salah bilang salah, yang benar dia bilang benar. Tapi dia sangat mencintai murid-muridnya. Selamat jalan guruku. Romoooooooooooooooo”. Lebih lanjut, Yoris Giri menambahkan, “Pernah dia tegur saya dengan keras tapi saya tidak marah atau tersinggung karena saya kenal beliau menjadi pembina tingkat saya 4 tahun. Saya sangat hormat dan segan dengan beliau. Satu saat dia bilang Yoris itu to, kita ajar yang baik dengan keras supaya kamu bisa. Trima kasih guruku”.
Romo Theodorus Silab, Pr, Dosen STSM Penfui Kupang pun menyambung apa yang dikesankan Pater Vikjen mengenai almarhum sebagai berikut:
“Cuplikan cerita Pater Vikjen itu benar. Itulah sebagian kisah hidup UnuRm. Vincent Naben, Pr. Pribadi yang kukenal sejak menjalankan masa TOP di Seminari Lalian tahun 1991-1993. Sesudah ditahbiskan dan kembali bergabung bersamanya di Lalian 1998-2002 sampe saat terakhir membalas WA saya tanggal 15 April 2021.Hari-hari selanjutnya tidak bisa dibalas lagi. Selamat jalan Uni Rm.Vincent Naben, Pr. Banyak memberi contoh, nasehat, berbagi cerita imamat…saling menolong. Terima kasih Unu Rm. Vincent Naben, Pr. RIP saudaraku seimamat”.
Kesan juga datang dari Romo Yosef Meak, Pr, Pastor Paroki Bolan: “Kakak Romo Vincent, minggu lalu kk telpon menasehati dan meneguhkan saya bersama umat Bolan yang tertimpa bencana banjir. Kk bilang “hoi hati-hati, jaga kesehatan” karena air dan lumpr, tidak boleh capai”,… ternyata kk beri pesan yang indah untuk terakhir. Selamat jalan kk Romo… doakan kami semua”.
Pater Felix Kosat SVD yang baru saja kembali dari Amerika Serikat dan mendapat tugas di Tribunal Keuskupan Atambua, tinggal di Komunitas Keuskupan juga memberikan kesannya mengenai almarhum Romo Vinsen sebagai berikut: “Kesanku yang indah bersama Romo Vinsen tentu banyak. Tiap sore dan pagi setia doa ibadat harian dan misa.Sangat sabar dan teliti, penuh pengertian. Minggu lalu saya duduk di depan kamar di keuskupan, saat itu sekira jam 6.30 sore.Ia lewat dan padamkan lampu-lampu lorong yang lagi menyala. Saya masuk kamar dan nyalakan lampu kamar saya. Waktu keluar saya lihat dia masuk kapela. Saya heran karena ia biasanya ibadat sore menjelang jam 5.30. Ternyata ia misa sendirian pikir sudah pagi hari. Ia datang ke kamar dan cerita bahwa ia tidur siang pulas karena kecapaian kerja… Ia pernah tegur saya karena saya ke kamar makan dan saya lupa matikan lampu. Maaf Omku yang terkasih Amo Vincen Naben… RIP”.
Banyak kesan disampaikan baik di WA maupun facebook oleh umat yang pernah mengenal beliau, termasuk mantan murid-muridnya di Seminari Lalian dulu. Romo Syprianus Tes Mau, malah dengan sedih mengungkapkan, “Kesedihan yang tak terkirakan. Dia mengurus semua saudaranya imam yang meninggal di pemakaman yang pantas…dia sendiri terhempas keluar dari sisi saudara-saudaranya itu. Padre. Requiesce in pace”.
Jasad Romo Vincent Naben, Pr dimakamkan di pemakaman Covid Kabupaten Belu di Masmae. Semua hadirin tanpa kata-kata, bisu menyaksikan peti jenazah yang berisi jasad seorang imam Tuhan yang baik hati perlahan-lahan ditutup dengan tanah menggunakan exavator. Miris memang, tapi itulah kenyataan. Bapa Uskup pun hanya terdiam menyaksikan imamnya dimakamkan secara demikian!
Setelah pemakaman selesai, semua kembali meninggalkan Masmae. Romo Yulius Selsius Nesi, Pr, Ekonom Keuskupan Atambua mengirimkan whatsapp ke grup Pusat Pastoral sebagai berikut:
“Selamat sore semua. Atas nama keluarga besar, kami mengucapkan berlimpah terima kasih untuk perhatian, cinta dan kebaikannya bagi Romo kami, saat beliau masih berkarya, sakit dan meninggal dunia. Terima kasih berlimpah kepada Bapak Uskup, Pater Vikjen, Rekan-rekan sekomunitas di Rumah Keuskupan Baru Lalian Tolu. Terima kasih untuk semua yang sudah mendoakannya.Almarhum Rm. Vincent Naben, orang yang sederhana,hidup sederhana bahkan saat meninggal pun dengan cara yang sederhana, dimakamkan pun dengan cara yang sangat sederhana. Pagi tadi sekitar pkl. 03.00 saya ke RSUD Atambua, saya panggil Om, dengan suara yang pelan dari balik tirai pembatas. Beliau membuka mata dan menjawab, “Iya” kemudian beliau bertanya,”engkau dengan siapa?” Saya jawab, “saya sendiri”. Kemudian beliau menjawab lagi, “hati-hati…” kemudian beliau tertidur. Itu percakapan kami yang terakhir. Sekali lagi terima kasih berlimpah. Kami juga mohon maaf atas nama almarhum bila dalam tutur kata, dalam sikap ada hal-hal yang kurang berkenan. Kami mohon maaf dari hati yang paling dalam”, demikian pinta Romo Yulius Selsus Nesi mewakili keluarga dari Eban. Semua orang kaget karena kepergian Romo Vincent yang begitu cepat dan tiada kabar. Selamat Jalan Romo pencinta orang kecil yang sabar dan sederhana.

Belum kering air mata datang lagi berita duka, seorang imam Tuhan pergi lagi untuk selamanya. Dialah Romo Mateus do Rosario da Cruz, Pr, Vikaris Yudicial Keuskupan Atambua, Senin (26 April 2021 pkl. 23.27) di Rumah Sakit Sito Husada, Atambua. Untuk kedua kalinya Bapa Uskup berdiri menunggu seorang imamnya yang meninggal dunia. Sebuah penantian untuk urusan pemakaman¬† di Masmae yang memakan waktu cukup lama. Tapi tidak apa-apa asalkan hambaNya Romo Mateus dimakamkan secara pantas. Memang menyakitkan, namun kali ini rupanya karena pengaruh situasi membuat diskusi para imam lebih banyak menyentuh kepada keputusan untuk pemakaman Rm. Mateus di Masmae. Ada berbagai kesan mengenai siapa Romo Mateus atau yang biasa dipanggil Amo Mateus. Kesan pertama dikirimkan oleh P. Salvator Towary SVD sebagai berikut:”Mengenang almarhum Amu Mateus da Cruz. Pada suatu hari Minggu sore, beliau pulang dari Eban dan mampir di rumah retret SVD Noemeto. Beliau datang tanpa informasi. Mobil merah parkir dan beliau turun sambil tersenyum dan tertawa serta minta maaf karena tidak beri kabar. Kami berdua saja dan beliau cuma mampir untuk share tentang betapa dashyatnya kekuatan Kerahiman Tuhan bagi dirinya sebagai imam.Ia menuturkan, “Kerahiman Tuhan tidak ada batas!” Katanya semua imam adalah pelaku utama Kerahiman Allah melalui pelayanan sakramen-sakramen suci (cura animarum) khususnya dalam sakramen Tobat dan Ekaristi serta Pengurapan Orang sakit. Beliau berdevosi Kerahiman Ilahi sejak Seminari Tinggi ketika diberikan oleh seorang pastor asal Portugal. Setiap harinya beliau mendoakan jiwa semua arwah pada jam 3, jam Kerahiman. Setelah menjadi imam, beliau selalu merayakan misa arwah bagi intensi khusus pada jam 3 sore. Sungguh beliau seorang Rasul Kerahiman Ilahi. Buah dari devosinya nampak dalam kasihnya yang mendalam bagi keluarga yang bermasalah yang setiap hari Rabu menjumpai beliau di Kantor Tribunal Keuskupan Atambua. Sebelum pamit pulang, beliau minta untuk masuk di ruang doa saya. Kami berdua masuk dan beliau mengeluarkan 1 botol minyak zaitun ukuran 1 liter.Beliau minta saya tolong berkat minyak tersebut. Saya kaget jika seorang imam senior dan saleh minta saya berkat. Hening sejenak dan saya memakai stola lalu memberkati minyak zaitunnya. Lebih terkejut lagi, beliau berlutut dan minta berkat. Saya pun memberikan berkat, lalu beliau pamit pulang. Amu Mateus, Selamat jalan. Yesus Raja Kerahiman Ilahi membuka pintu surga bagimu, rasul Kerahiman Ilahi”.

Romo Rosindus Tae, Pr sebagai Ketua Unio Imam Projo Keuskupan Atambua atas nama seluruh anggota Unio KA mengucapkan terima kasih kepada keluarga atas kebersamaan Amo Mateus pada Unio KA.Terima kasih untuk bapak ibu yang telah mendoakan dan memberi perhatian kepada Romo Mateus selama hidup, sakit dan saat kematiannya. Semoga Tuhan mengganjar kebaikanmu. Ucapan yang sama juga ditujukan kepada keluarga almarhum Romo Vincent Naben atas kebersamaan pada Unio Keuskupan Atambua juga perhatian semua pihak kepada Romo Vincent selama hidup, sakit dan saat meninggal. Semoga Tuhan memberkati jeripayahmu. Demikian Rm. Sindus Tae. Selamat Jalan para Imam Tuhan. (Kontributor: Yosef Hello)

Editor : Yosef Hello

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here