
MENA, Selasa, 24 Februari 2026 — KeuskupanAtambua.org – Mgr. Dominikus Saku, Pr (Uskup Atambua) menerima audiensi Tim PT Kanisius di Paroki Santa Filomena Mena, usai memberikan renungan mimbar, ceramah, dan dialog kepada ratusan pelajar dalam rekoleksi kategorial tingkat Dekenat Mena. Dalam perjumpaan tersebut, Uskup Atambua menyampaikan sejumlah catatan kritis terkait perkembangan literasi, situasi pembelajaran, dan karakteristik siswa di era digital.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari surat resmi PT Kanisius bernomor 26/A/Dir/II/2026 yang sebelumnya dikirim kepada Uskup Atambua dan dikomunikasikan melalui Sekretaris Jenderal Keuskupan, Rm. Lucius Tae Mau, Pr. Audiensi akhirnya dijadwalkan bertepatan dengan kunjungan Uskup di Mena.

Tim Kanisius yang hadir terdiri dari Fx. Wisnu Krisdianto (Kepala Bagian Pemasaran Area Luar Jawa), Aryo Bayu Krismanu (Kepala Bagian Pemasaran Jasa Cetak), C. Eni Setiyowati (Kepala Bagian Kanisius Exclusive Publishing), serta Benedictus Basawahen Pattymangoe (Mitra PT Kanisius di Kupang). Kedatangan mereka bertujuan untuk beraudiensi sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan pelayanan iman melalui kerasulan media, serta mendukung program pemberdayaan iman dan peningkatan kualitas hidup umat di wilayah Keuskupan Atambua.
Dalam dialog yang berlangsung hangat dan terbuka, Uskup Dominikus Saku menyambut baik tawaran kolaborasi tersebut. Namun, ia menekankan bahwa pengembangan literasi tidak bisa dilepaskan dari pembacaan kritis atas realitas pendidikan dewasa ini. Berdasarkan hasil Puspas, pendidikan, ekonomi, dan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak di tengah arus zaman yang serba instan.
Menurut Uskup, karakteristik siswa saat ini menunjukkan kecenderungan menyukai kecepatan tanpa kedalaman, euforia tanpa pengendapan makna, serta informasi tanpa proses refleksi. Budaya digital, katanya, kerap membentuk pola belajar yang reaktif dan dangkal jika tidak diimbangi dengan pendampingan pedagogis yang kuat dan spiritualitas yang matang.
Ia mengingatkan bahwa literasi tidak sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi menyangkut pembentukan daya pikir, daya nilai, dan daya tahan karakter. Karena itu, Yayasan dan lembaga pendidikan Katolik di Keuskupan Atambua, lanjutnya, menaruh perhatian serius dan berkelanjutan pada penguatan budaya literasi yang integral.
Uskup memperkenalkan kembali visi pendidikan yang dirumuskan dalam akronim CALISTUNGKIRAAJA — baca, tulis, hitung, pikir, bicara, doa, dan kerja. Konsep ini, menurutnya, bukan sekadar slogan, melainkan kerangka pembinaan manusia utuh yang menyentuh dimensi intelektual, spiritual, sosial, dan praksis kehidupan.
“Di tengah percepatan teknologi, kita tidak boleh kehilangan kedalaman. Pendidikan Katolik harus membentuk pribadi yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga matang secara moral dan spiritual,” ujarnya.
Audiensi yang berlangsung dalam suasana persaudaraan tersebut dinilai membawa angin segar bagi kiprah literasi dan pelayanan media di Keuskupan Atambua. Kolaborasi antara Gereja lokal dan lembaga penerbitan Katolik diharapkan mampu menjawab tantangan zaman sekaligus memperkuat fondasi iman dan kualitas hidup umat.
Penulis: Romo Yudel Neno, Pr
