“Ini proyek percontohan yang dilaksanakan umat Keuskupan Atambua selama 8 tahun (2020-2027). Tujuannya jelas: untuk merobah wilayah Keuskupan Atambua yang meliputi tiga kabupaten yaitu Belu, Malaka dan Timor Tengah Utara menjadi wilayah hijau penuh dengan tanaman produktif baik untuk manusia maupun untuk ternak”.

Mgr. Dr. Dominikus Saku: Uskup Atambua


keuskupanatambua.org – Hal tersebut dikemukakan Uskup Atambua, Mgr. DR. Dominikus Saku dalam leaflet mengenai rencana terbentuknya “Atambua Eden” Keuskupan Atambua. Menurut Ketua Komisi KP-PMP KWI itu, umat Keuskupan Atambua yang hampir 95 % hidup dari bertani dan beternak sampai saat ini selalu dikenal dengan stigma miskin, bodoh dan pemalas.Hal ini dilihat sebagai sebuah keprihatinan pastoral sebagaimana terungkap dalam Musyawarah Pastoral Keuskupan Atambua VIII di Emaus, 3-8 September 2018. Dalam Muspas VIII itu salah satu misi yang hendak diwujudnyatakan selama lima tahun ini adalah mewujudkan persaudaraan Kristiani, dalam arti luas, bukan hanya antar sesama manusia, tetapi juga dengan lingkungan alam sekitar sebagaimana diminta Paus Fransiskus dalam ensiklik “Laudato Si”.Bapak Uskup Atambua sudah mencantumkan visi dan misi pastoral itu untuk jangka waktu yang panjang yaitu selama 5 (lima) quinnquineale 2013 s.d. 2035.
Untuk mewujudkan visi dan misi pastoral ini maka Mega Pilot Project Atambua Eden ini diluncurkan.
Menurut Dr. Anton Bele, Pencetus Kwadran Bele, yang mendapat mandat untuk memperkenalkan mega proyek ini, “adalah suatu hal yang luar biasa bila mega proyek ini telah berhasil, maka dengan sendirinya wajah keuskupan Atambua akan terangkat”. Dalam kunjungannya ke Pusat Pastoral Keuskupan Atambua, Bele berpesan agar Puspas sebagai dapur pastoral yang telah dirintisnya pada tahun 1980-an itu ikut mempopulerkan mega proyek ini banyak orang dapat mengenalnya.

Hasil yang nyata
Keuskupan Atambua hendak menjadi Taman Eden atau Taman Bahagia seperti yang tertulis dalam Kitab Kejadian (2:8-9). Untuk itu pertanian harus jadi fokus. Pengolahan tanah dengan segala upaya teknologi tepat guna harus dipraktekkan di lahan percontohan keuskupan, yang meliputi kurang lebih 9 unit dan 19 sub unit lainnya. Bapak Uskup menjelaskan, semua kebun percontohan ini sengaja dilaksanakan oleh para pelaksana yang melibatkan umat untuk dijadikan pusat pembibitan dan nanti kemudian akan disebarkan secara merata dan meluas kepada umat di seluruh wilayah Keuskupan Atambua.
Tahun pertama pilot project ini, tahun 2020 sudah ada hasil yang nyata. Uskup Atambua mengemukakan data yang pasti mengenai keberhasilan awal dari unit-unit yang sedang dikembangkan. Misalnya unit Seminari Lalian sudah panen 5 ton jagung dan 600 kg padi ladang. Di Unit TOR sudah dipanen jagung, kacang tanah dan kacang hijau dengan hasil yang lumayan. Di unit Emaus berhasil memanen sayur-sayuran dan tomat segar organik. Sementara itu di unit Rumah keuskupan sendiri sudah dipanen padi sawah sebanyak 8 ton.
Seperti yang ditegaskan Bapak Uskup Atambua dalam kotbahnya pada hari Minggu Paskah V, 10 Mei 2020 di Gereja Katedral Atambua, “Kita mengisi masa isolasi selama pandemi virus covid 19 ini dengan bekerja menata lingkungan hidup kita. Orang yang memusnahkan rumput dengan menggunakan pestisida dan yang masih membersihkan ladang dengan sistim tebas bakar, itu berdosa berat karena ia melawan kehendak Tuhan Sang Pencipta. Orang itu merusak lingkungan hidup”.
Lebih lanjut Uskup Atambua ke-4 ini mengatakan, “Selama Covid-19 ini, mulai awal tahun 2020 sudah ditanam 678 pohon pisang Dilly, 546 anakan mahoni, pada dua bidang lahan seluas 4 ha telah ditanami kacang hijau. Selanjutnya, tahun ini masih akan ditanam lagi 283 pohon pisang, 500 pohon alpukat, 200 pohon mangga. Pada tahun 2021 akan dilanjutkan dengan tahap kedua, yaitu penanaman 300 pohon rambutan, 500 pohon kelapa hijau (kopyor), dan 300 pohon pepaya California. Mega pilot project ini akan dikerjakan dalam waktu 8 tahun, 2020 – 2027.

Anugerah Allah
Alam keuskupan Atambua itu kaya luar biasa sebenarnya. Karena itu itu senyatanya “Atambua Eden” sudah ada. Karena itu, menurut Dosen Filsafat Unika Widya Mandira Kupang ini, keadaan alam yang luar biasa ini adalah anugerah Allah yang diberikan kepada umat Keuskupan Atambua. Dan ini harus dikembangkan dengan semangat kerja keras dalam persaudaraan kristiani sesuai misi ketiga keuskupan Atambua pasca Muspas VIII itu. Lebih lanjut putera Paroki Jak itu menandaskan bahwa tanah yang begitu subur terdapat di wilayah Kabupaten Malaka karena sebahagian besar wilayah ini meruapakan DAS Benenai yang airnya melimpah. Memang disadari sungguh bahwa pengelolaan sumber air masih menjadi masalah, tetapi untuk pengairan persawahan yang ada sebenarnya tidak terlalu banyak persoalan. Dalam hal ini pihak Pemerintah Daerah sudah banyak membantu dan cukup gesit dalam mengatur penataan aliran air sungai di ketiga kabupaten ini.
Umat Keuskupan Atambua yang sekaligus merupakan rakyat dari tiga kabupaten ini berkewajiban untuk melibatkan diri sebagai kewajiban moral untuk menata lingkungan hidupnya sesuai amanat Sang Pencipta. Di sinilah, demikian Uskup Domi, – bertemu dua kuasa yaitu Pemerintah dan Gereja yang sebagai dua institusi punya tujuan yang sama yakni meningkatkan taraf hidup umat/masyarakat menuju kehidupan yang lebih bermutu secara jasmani dan rohani.
Hal tersebut dibenarkan oleh Vikaris jenderal (Vikjen) Keuskupan Atambua, P. Vincentius Wun SVD bahwa untuk mencapai cita-cita yang amat luhur ini dibutuhkan kerjasama yang sinergis dengan berbagai pihak baik formal maupun non formal.Semuanya itu demi pada suatu saat (2027) stigma bodoh, miskin dan pemalas itu bisa dihapuskan.

Potong padi di Sukabitetek

Amanat Perpas XI
Dari ketiga kabupaten ini masih terjadi tenaga-tenaga kerja produktif kita ke luar untuk mencari pekerjaan di daerah lain baik di dalam negeri maupun luar negeri. Pertemuan Pastoral Nusra XI tahun lalu di Keuskupan Atambua, telah mengamanatkan agar para tenaga kerja kita lebih memilih untuk bekerja di daerah sendiri, tinggal sekarang bagaimana kedua institusi, Pemerintah dan Gereja berkewajiban menahan arus mengalirnya tenaga kerja produktif itu dengan menyiapkan lapangan kerja. Dengan mega pilot project ini sebenarnya sudah tersedia lapangan kerja untuk mereka itu, apakah mereka mau ikut terlibat? sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab tentunya.
Uskup Dominikus Saku berusaha meneguhkan semangat umat Katolik Keuskupan Atambua pada berbagai kesempatan melalui animasi dan motivasi agar kita jangan tidur terus. Kita harus bangun sebab daerah kita ini sangat kaya. Kita jangan jadi pengemis di dalam rumah kita sendiri. Kita harus jadi orang yang selalu punya prinsip “kerja seperti hamba, supaya makan seperti raja”. Kearifan lokal ini tentu sekarang harus dimengerti secara lain dan baru, tetapi kita harus mulai dari sekarang. Kita tidak boleh menunda-nunda kesempatan.*** (Sumber: Anton Bele: WF)

Yosef Hello

Tentang Penulis:
Sekretaris Umum Pusat Pastoral KA (2009-2020)
Tinggal di Batu Merah. Dapat dihubungi di wa.081339466425
discarlin532@gmail.com

SHARE

2 COMMENTS

Comments are closed.