keuskupanatambua.org, – Bapak Uskup Atambua mengemukakan hal itu pada rapat kerja lintas komisi yang berlangsung di Aula Kantor Puspas KA Lalian Tolu, Senin, 11 Januari 2021. Dalam arahannya di depan para Sekretaris dan Ketua Komisi, serta para Deken se- Keuskupan Atambua itu, Uskup Atambua yang kini masih aktif sebagai Dosen Tetap Fakultas Filsafat Unika Widya Mandira Kupang mengatakan bahwa situasi pandemi Covid-19 ternyata membawa dampak yang positif bagi kita. Covid-19 mengajak kita untuk implementator dari setiap program pastoral yang kita rencanakan. Memang hal ini berat untuk kita laksanakan. Sebab dalam kenyataan secara psikologis kita saling mengharapkan. Kita hanya mengkomunikasikan saja program dan diharapkan orang lain yang melaksanakan. Kita yang ditingkat keuskupan, mengharapkan mereka yang di dekenat yang akan melaksanakan, mereka yang di dekenat mengharapkan paroki yang akan melaksanakan. Sementara mereka yang di paroki mengharapkan nanti yang di KUB yang akan melaksanakan itu. Maka situasi Covid ini menantang kita untuk menjadi pemikir atau perencana sekaligus pelaksana. “Seperti dikatakan dalam buku ‘Lead Like Jesus’. Butuh 4 hal yaitu kepala, hati, kaki-tangan dan kebiasaan-kebiasaan”.
Lebih lanjut kata Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Migran dan Perantau Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Covid 19 membuat kita untuk mau tidak mau harus keluar dari kandang kamar kita untuk masuk ke alam. Itu berarti Covid mengembalikan kita ke dunia yang lebih luas kepada tatanan yang manusiawi. Akhirnya Covid juga membantu kita untuk tahu mengambil jarak, termasuk dengan alam supaya kita tidak menjadi perusak alam, tetapi menjadi sahabat alam sebagaimana diharapkan Bapa Suci Paus Fransiskus dalam Laudato Si. ***

Uskup Dominikus Saku Menitip Pesan Untuk Para Imam

Kontributor : YH
Foto           : Dok. pribadi
Editor         : Yosef M.L. Hello

SHARE

2 COMMENTS

  1. Salam Sejahtera dari Wilayah perbatasan,tepatnya SMA Negeri Manamas!Salve! Membaca arahan dari Yang Mulia Bapak Uskup Atambua dalam rapat kerja lintas komisi, sangatlah terkesan bahwa situasi Covid menantang kita untuk menjadi pemikir,perencana sekaligus pelaksana.Satu hal yang ingin saya sharingkan bahwa situasi kami di sekolah-sekolah sangat kesulitan dalam hal pembentukan sikap spiritual .Situasi Covid membatasi kita dalam melaksanakan berbagai aktivitas secara khusus aktivitas kerohanian seperti Perayaan Ekaristi dan kegiatan terkait lainya.untuk itu banyak siswa tidak ke gereja.sebagai pendidik kami merasakan satu kecemasan tentang perkembangan mental/ kehidupan rohani peserta didik yang adalah umat Keuskupan Atambua.Adakah satu terobosan yang dibuat oleh Keuskupan untuk sekolah-sekolah agar selama siswa belajar dari rumah bisa dimanfaatkan sebagai media penyegaran Rohani secara online? yang penyaluranya melalui sekolah-sekolah. Sebagai contoh seperti Fresh juice yang dilakukan oleh keuskupan lain.Terimakasih.

Comments are closed.