Sebuah Aksi Kerja Nyata di Kantor Puspas Keuskupan Atambua dipimpin oleh Vikaris Jendral sekaligus Pimpinan Pusat Pastoral Keuskupan Atambua, Pastor Vincentius Wun SVD, Lalian Tolu.

Vikjen bersama staf Puspas

KEUSKUPANATAMBUA.ORG —Ketika berkotbah dalam perayaan Ekaristi di Katedral Atambua, Minggu (10/5/2020) Mgr. Dominikus Saku menegaskan bahwa barangsiapa yang memusnahkan rumput dengan pestisida dan yang membersihkan ladang dengan sistem tebas-bakar, berdosa berat melawan kehendak Sang Pencipta dan orang itu merusak lingkungan. Himbauan ini terus disampaikan kepada umat meskipun prakteknya di lapangan berbanding terbalik. Karena itu, Mgr. Domi sendiri turun langsung untuk memberi contoh dengan membuat sebuah mega proyek dengan nama Atambua-Eden.

Atambua- Eden merupakan sebuah mega pilot project di mana fokusnya adalah pertanian. Pengolahan tanah dengan segala upaya teknologi tepat sasar dipraktekan di lahan percontohan milik Keuskupan Atambua. Mega project ini direncanakan melibatkan seluruh umat dan dijadikan pusat pembibitan, yang juga nantinya akan dibagikan kepada umat. Sebagai pusat percontohan, maka semua proses pengerjaan selalu berpegang teguh kepada ensiklik Laudato Si dari Paus Fransiskus. Semuanya harus organik. Karena itu sebagai upaya untuk menghindarkan diri dari penggunaan pestisida dan pupuk anorganik, ada beberapa tempat yang sengaja digali untuk dijadikan tempat sampah daun-daun kering yang gugur yang kemudian akan diolah menjadi kompos untuk memenuhi kebutuhan pemupukan.

Selasa (21/7/2020) pekan lalu dipimpin oleh Vikjen KA, P. Vincentius Wun SVD dan Sekretaris umum (Sekum) Puspas Keuskupan Atambua, Yosef Hello, para staf Puspas melakukan kerja bakti membuat pupiuk Bokhasi. Satu tempat sampah seluas 3 x 6 m2 yang sudah berisi sampah daun-daun kering menjadi target untuk pengkomposan kali ini. Proses pengkomposan mulai dengan memadatkan daun yang ada di bak sampah, menaburkan cirit sapi sebanyak  kurang lebih 270 kg  ke atas daun-daun kering itu secara merata, kemudian disiram dengan air sebanyak 6000 liter untuk membuat keadaan sampah daun menjadi lembab dan padat. Dan tahap berikutnya daun-daun itu disiram lagi dengan EM4 yang telah dicampur dengan gula dan air sebagai stimulan untuk microba beraktifitas sebagai penguarai daun menjadi kompos . Proses selanjutnya menutup tempat sampah itu dengan terpal guna untuk membatasi penguapan dan pertukaran sirkulasi udara dari dalam wadah. Karena wadah dengan volume yang besar maka proses pengkomposan diperkirakan membutuhkan waktu 3 bulan atau lebih sebelum akhirnya dapat digunakan sebagai pupuk. Bokhasi atau kompos ini nantinya akan digunakan untuk kebutuhan pemupukan lahan pertanian Atambua-Eden.

Selian itu, masih ada beberapa tempat sampah yang sudah berisi daun-daun kering dan tinggal menunggu untuk diolah menjadi bokhasi, antara lain satu lokasi di Emaus dan dua lagi ada di belakang Istana Keuskupan.

Selain bokhasi, staf Puspas Keuskupan Atambua juga sedang menyiapkan kompos dari sekam padi. Menurut Pater Vinsen Wun, pupuk harus disiapkan untuk mem-back up proyek Atambua Eden tersebut. Lebih lanjut Putera kelahiran Niki-Niki 17 Juli 69 tahun silam itu, tanpa persiapan pupuk yang baik dan banyak, semua tanaman yang telah ada tidak bisa berkembang. “Karena itu semua ini kita siapkan untuk mendukung program besar Bapak Uskup ini”, kata mantan Provinsial SVD Timor itu. (Laporan Kontributor : Octovianus Klau)

Vikjen KA, P. Vincent Wun SVD memimpin sendiri pembuatan Kompos dari sekam padi (Senin,27/7/2020. Sumber foto: WA grup Puspas KA, Ois Am’isa)

Diedit oleh Yosef Hello

SHARE