
Arahan Mgr. Dominikus Saku, Pr dalam Pembukaan sinode tingkat Dekenat Kefamenanu di Aula Paroki Sta, Theresia Kefamenanu (Foto : Romo Ino/Komsos KA)
Keuskupanatambua.org – Kefamenanu (Kamis, 4/11/2021). Pertemuan Sinode tingkat Dekenat di Paroki Santa Theresia Kefamenanu didahului dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr. Setelah misa, kegiatan dilanjutkan dengan pengantar dan arahan singkat dari Bapak Uskup dan selanjutnya arahan dari tim ad hoc sinode tingkat Keuskupan yang dibawakan oleh Yoseph Hello sebagai sekretaris I. Metode saling membuka hati dalam sharing pengalaman hidup menjadi salah satu metode yang dipakai dalam sinode ini.
Dalam arahannya, Uskup Dominikus menyampaikan aspek penting dari Sinode yang menjadi seruan kenabian dari Bapa Suci Paus Fransiskus tentang bagaimana menjadi Gereja yang sinodal. Berjalan bersama dalam Tuhan. Satu panggilan istimewa untuk mengalami kasih dan kebaikan Tuhan.
Katanya lebih lanjut bahwa sinode adalah suatu panggilan untuk kembali ke Sumber. Sebab menurutnya, dewasa ini banyak sekali jalan, banyak sekali suara, dan banyak sekali ideologi sesat (baca: materialiosme, konsumerisme, dan hedonisme) yang bisa mengarahkan kita kepada satu bahaya besar yaitu idolatria (penyembahan berhala). Bahaya idolatria ini akan mengarahkan kita kepada egolatria (memuja diri sendiri), seakan menjadikan diri segalanya dan melupakan orang lain. Salah satu tujuan sinode adalah melakukan diskresi yang jelas untuk tugas pelayanan kita. “Menjadi Gereja yang sinodal artinya mau berjalan bersama Tuhan. Saling mendengarkan satu sama lain. Bukan semata menjadikan diri segalanya. Ada idolatria dan egolatria di jaman ini,” ucap Mgr. Dominikus.
Katanya bahwa Gereja sebagai persekutuan adalah sinodal. Semua orang beriman karena sakramen-sakramen dalam Gereja, juga perlu didengarkan. Dalam sinode kita diajak untuk memperbaiki cara berpikir. Melihat cara berpikir berpastoral secara lebih luas. Inilah cara baru dalam hidup menggereja.
“Dalam sinode ada pembaharun hidup. Kita diajak oleh Bapa Suci Paus Fransiskus untuk kembali ke kesejatian hidup,” tuturnya.
Sebelum peserta mengambil bagian dalam sharing dan diskusi, para peserta masih dibimbing oleh panitia ad hoc yang disampaikan sekretris panitia, Yoseph Hello.
Sekretaris I Panitia Ad Hoc Sinode tingkat Keuskupan Atambua saat memberikan arahan dan rambu-rambu Sinode di hadapan peserta (Foto : Romo Ino/Komsos KA)
Ia mengatakan bahwa ada juga jebakan-jebakan dalam sinode. Di antaranya dalam sinode kita tidak selalu mengarah pada diri sendiri atau fokus pada diri saja. Tidak juga hanya melihat kesulitan saja atau pada struktur seolah sinode sama dengan sidang parlamen. Sinode ini sebenarnya merupakan kesempatan terbaik untuk saling mendengarkan satu sama lain.
Sharing kelompok 5, paroki Oelami, Sta. Theresia, dan Tunbaba (Foto : Romo Ino/Komsos KA)
Dalam sharing ini, para peserta dibagi dalam 6 kelompok yang dibagi menurut paroki. Lembaga dan tarekat-tarekat bergabung di dalam paroki. Sharing dimulai pukul 12.00 Wita. Pada pukul 14.30 Wita para peserta memplenokan hasil sharing dan diskusinya yang dipandu oleh moderator Romo Kristo Ukat, Pr. Selesai pleno, kegiatan ditutup dengan arahan penutup dari Mgr. Domi dan selanjutnya pemaparan rencana tindak lanjut sinode di tingkat paroki oleh Sekretaris Panitia ad Hoc.
Laporan/ Penulis : Romo Ino; Okto Klau
**Editor : Okto Klau
